Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
BAB 33 . Soto Mie


__ADS_3

"De, lapar," Adi mengekor di belakang Dia, hingga membuat nya risih.


"Apaan sih Om! Gak ngenakin orang yang lagi makan deh." ucap Dia dengan nada suara lumayan tinggi.


"Lapar," ujar Adi memelas.


"Tinggal makan kan, udah deh jangan kek anak kecil gitu." Sungut Dia, karena melihat Adi terus saja merengek seperti anak kecil yang tak di kasih jajan.


"Kamu udah gak masak, sekarang makan soto gak pakai nawarin." Ucap Adi dengan suara lirih.


Huh soto. Dia terus saja membatin ucapan Adi, yang di tuduh makan soto.


"Apa Om buta gak ngelihat saya sedang makan apa!" keluh dia dengan suara yang tak bisa di buat tenang, karena suaminya benar-benar menguji kesabarannya.


"Saya gak buta, tapi memang benar kamu makan soto dan gak menawari saya, malah kamu pamerin ke saya! Sengaja ngebuat saya ileran." Ucap Adi dengan wajah yang kesal.


Harusnya yang kesal kan gue, ngapa jadi ini orang ya. Uda salah sebut malam-malam udah buat orang darah tinggi. Seperti itulah yang ada di pikiran Dia. Karena Adi mengira bahwa yang di makan adalah soto.


"Wah parah kalau gitu, sepertinya anda perlu ke dokter mata besok buat mastiin." Ucap Dia sambil meniup makanan yang masih mengepul di sendok.


krukkk..


Krukk..


Suara perut Adi terus menerus bunyi, dan dengan susah payah ia menelan ludahnya dengan kasar saat melihat Dia meniup kuah yang berada di mangkok tersebut, Dan betapa sangat nikmat saat melihat makanan itu pikir Adi.


Glek.


Suara Adi yang berusaha menelan ludahnya saat satu suapan meluncur ke mulut Dia.


"De, mau dong sotonya." Ucap Adi lagi dengan suara yang memelas.


"Harus berapa kali sih saya bilang, saya lagi gak makan soto."


"Dasar pelit." Seru Adi.


"Siapa yang pelit, orang saya cuma makan mie Dan gak makan soto," sanggah Dia.


"Nah kan, emang mie kamu rasa apa?" tanya Adi.


"Rasa soto." jawab Dia.


"Eh." Dia terhenyak saat Adi berkata, kalau memang mie yang di makan itu rasa soto.


"Cuma satu, terus kalau ini di makan sama Om duda saya makan apa dong." Dia berbicara dengan nada melas berharap mie soto yang ia masak tidak di minta oleh Adi.


"Di kulkas kan banyak stok makanan, masak lah saya udah lapar ini, yah, yah kamu cantik deh." Apa kah dengan ia memuji terus mie yang gue masak bakal gue kasih. Oh tidak. Pikir Dia.

__ADS_1


"Stok makanan yang mana?" tanya Dia.


"Ya di kulkas masa ia di pasar." Ketus Adi.


"Dasar bodoh." Saking kesalnya akhirnya kata umpatan pun keluar.


Uda seminggu nikah, belum di kasih nafkah, uda gitu uang mahar belum ke bayar pula. Dasar kere. Batin Dia, sambil memandang kesal ke arah Adi.


"Dasar gak peka." Gerutu Dia.


"Apa kamu bilang sesuatu?" tanya Adi.


"Iya, kenapa!" teriak Dia.


"Saya kan hanya minta mie, kenapa kamu ngegas." Ucap Adi dengan muka yang bingung.


"Gimana gak ngegas, Bapak belum kasih saya uang belanja, emang stok di kulkas bisa utuh gitu walaupun di masak setiap hari! Udah gitu mana uang mahar saya buruan."


"Oh iya, makanya saya makan soto rasa mie, karena saya gak punya uang." Ujar Dia lagi.


Sedang kan Adi tersenyum kikuk sambil menggaruk kepalanya.


Hehehe...


"Maaf."


Aduh kenapa pakai lupa kasih nafkah sih, malu-maluin kamu saja Adi, Adi. Kan di bilang kere sama istri kecilmu ini.


Dengan masih menahan malu, akibat lupa dengan mahar sekaligus belum memberi uang bulanan, Adi merogoh saku, lalu mengambil dompet..


"Ah lupa, sayang nya Om duda, tolong dong ambilkan Cloth di kamar." Titah Adi pada Dia untuk mengambilkan apa yang di pinta Adi.


Huff..


Terdengar helaan nafas Dia, dan meniupkan di antara poni nya. Dan ia pun segera naik ke atas kamar untuk mengambil Cloth, sebuah dompet jumbo untuk menaruh uang gawai dan seperti kunci mobil dan lain sebaginya.


"Hem, pasti mahal ini soalnya mereknya saja bikin ngiler, apalah dayaku dompet dengan harga 20ribu pun jadi." gumam Dia, karena dirinya ingin sekali beli dompet kecil dengan merek yang ada di tangannya tersebut, beli pun dengan merek KW. Masih di atas tiga ratusan, jadi kalaupun beli harus mikir-mikir.


"Ini." Dia menyerahkan dompet jumbo dengan bahan kulit tersebut pada Adi.


"Ini uang mahar, satu jutanya." Adi pun mengambil uang lembaran merah yang berada di dalam Cloth tersebut, lalu beralih ke dompet yang satunya mengambil satu buah Atm.


"Ini nafkah dari saya, ingat! Jangan di habiskan." Ujar Adi sambil menyodorkan Kartu penampung uang tersebut.


"Memangnya isinya berapa ini?" tanya Dia penasaran.


"Satu juta harus bisa jadi dua bulan." Terang Adi.

__ADS_1


"Bisa dong, buat tahun depan pun juga bisa,"


ucap Dia dengan senyuman yang menakutkan.


"Wah, kesayangannya Om duda pintar." Puji Adi.


"Tentu dong, asal Om duda kagak makan, kagak ngopi dan segala macam!" teriak Dia, karena saking kesalnya, uang satu juta sebulan halo... Makan nasi doang kalau mau, batin Dia.


"Macan tutul, jangan marah." Dengan suara lirihnya Adi berucap dan dengan senyuman yang ia tampakkan.


"Siapa yang macan tutul." Lalu Dia, memelototi Adi, dan Adi pun langsung sembunyi di belakang kursi yang terdapat di meja makan.


"Saya, iya saya yang macan, anak singa." Kilah Adi.


"Dasar."


"Itu Atm. Isinya bisa kamu buat belanja semau kamu, pin nya di mana kita sah menjadi pasutri." Adi memberikan Atm, dan memberi tahu pin nya juga, dan usut punya usut. Pin yang di sebutkan tadi ternyata di mana mereka terciduk hingga menjadikan mereka suami istri.


Lalu Dia menaruh uang beserta kartu penampung uang di meja, karena Dia ingat kalau mie nya belum di makan.


"Om duda! Mana soto mie ku." Dia berteriak sangat keras hingga membuat Adi menutup telinganya.


"Keburu dingin, ketimbang mubazir jadi ya ku makan." Ujar Adi tanpa dosa sedikit pun.


"Terus saya makan apa Om." Dengan wajah yang di tekuk Dia berkata.


Akhirnya ia mengalah, dan pergi dari dapur untuk keluar rumah mencari makanan. tapi sebelum itu ia mengambil jaket.


CBR, 250rr. di keluarkan olehnya.


Sedangkan di dapur, Adi merasa bersalah dan mengira Dia pergi karena marah padanya akibat mie sotonya di habiskan.


"Apa bocah itu marah, lalu pergi? Saya kan hanya menolong mie nya, kan kasian kalau benar-benar dingin dan tidak di makan terus gak enak." Adi berkata dengan kaki yang mondar mandir bak mobil-mobilan.


SEDANG KAN DI SISI LAIN.


Dia sampai di pangkalan nasi goreng, dan rencananya ia akan membungkus dua nasi goreng...


belum sempat melangkah tapi seseorang menegurnya.


"Mas, mas." Seseorang memanggil.


"Mas, mas kepalamu." Dia yang tak terima di panggil mas otomatis langsung marah, dan.


Duar.


"Ka-kamu." Orang itu terkejut.

__ADS_1


"Apa!" Dia menyahut dengan nada kesal.


__ADS_2