
Riki masih diam dengan sejuta kekuatiran. Dirinya masih tidak bisa menyangkal kalau Riki memang benar-benar ketakukan.
"Apa ucapanmu itu benar nyata adanya," ujar Riki dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Yakin lah. Jika Cahaya bukan lah seperti wanita-wanita yang ada di luaran sana," Rudi tetap harus menyakinkan Riki agar ia tidak sampai hati membatalkan, apa yang sudah di rancang.
"Baik lah aku akan berusaha yakin atas pilihan ini," ucap Riki sembari menegakkan tubuhnya.
Kini Rudi bisa bernafas lega karena ia berhasil untuk menyakinkan hati Riki.
"Jika kau mau aku akan mengajakmu untuk ngopi sebentar, biar rasa suntuk itu hilang dan sedikit bisa terobati." Rudi pun mengajak Riki untuk mencari udara siang, agar pikirannya bisa terbuka dan tidak akan memikirkan hal-hal yang akan merugikannya.
"Baik lah. Kali ini aku akan menuruti permintaan kamu," ucap Riki pada Rudi dan setelah itu mereka berdua beranjak dari tempat duduknya.
...----------------...
Satu minggu telah berlalu dan kini Cahaya maupun Riki. Harus benar-benar mempersiapkan mental karena dua hari lagi. Acara yang di nanti-nanti akan tiba waktunya.
Hari ini mereka berdua sudah melakukan fitting baju pengantin. Dua hari mungkin sudah cukup untuk mereka.
Di taman Dia sedang di landa kegalauan karena sebentar lagi, anaknya akan pergi meninggalkan rumah yang sudah 18 tahun telah di tinggali.
"Sayang, apa kamu masih memikirkan anak kita?" iya By. Entah mengapa sepertinya aku tidak rela jika Cahaya akan meninggalkan kita.
"Apa boleh buat. Sejujurnya aku pun juga sama tapi setelah menikah, Cahaya bukan lagi hak kita." Ucapan sang suami membuat Dia semakin terisak karena dirinya memang belum siap, akan kehilangan anak satu-satunya itu. Namun, apa yang dikatakan suaminya juga ada benarnya.
"Jangan bersedih. Jika kamu seperti ini kasian Cahaya dan itu bisa membuat hatinya terasa bersalah," ucap Adi berusaha menenangkan sang istri.
"Entah lah By, aku memang belum bisa terima untuk semuanya." Jawab Dia dengan wajah yang sudah basah oleh air mata.
"Hapus air mata kamu sayang, sebentar lagi Cahaya pulang. Jangan sampai ia melihat mamanya menangis seperti ini," kata Adi dan lagi-lagi dirinya masih harus berusaha untuk menenangkan Dia yang semakin menjadi.
Adi perlahan mengusap air mata sang istri karena tidak mau sampai Cahaya mengetahui akan tangisan Dia yang semakin pecah.
Dengan sesenggukan Dia berusaha meredam tangisannya.
"Tenanglah semua akan baik-baik saja," ujar Adi berkata sembari melebarkan senyuman agar istrinya juga, bisa tersenyum.
__ADS_1
Benar saja, keduanya tersenyum dan melupakan sejenak apa yang mereka alami saat ini.
"Sayang aku lapar," kata Adi sembari memegang perutnya
"Baik lah, biar aku siapkan." Setelah berkata Dia pun masuk untuk menyiapkan makanan karena memang, saat ini sudah pukul dua siang.
Adi sengaja hari ini libur dan memilih bekerja dari rumah. Mengingat sang istri sedang tidak baik-baik saja, maka dari itu ia memutuskan untuk membawa pekerjaannya ke rumah.
Mereka berdua sudah duduk di meja makan, saat keduanya akan menyuapkan nasi di mulutnya. Terdengar suara deru mobil dan mereka yakin jika itu adalah, Riki dan Cahaya.
"Sepertinya itu mereka?" kata Dia.
"Iya, biarlah." Dengan menyuapkan nasi ke dalam mulutnya Adi berkata.
Tidak berapa lama kemudian. Cahaya dan Riki sudah berada di dapur untuk menghampiri orang tuanya.
"Ya, Ma." Cahaya menegur mama dan juga sang ayah yang sedang menikmati acara makan siang.
"Apa sudah beres untuk bajunya?" tanya Dia pada sang putri semata wayangnya.
"Alhamdullah semuanya sudah beres dan pastinya aman terkendali," ucap Cahaya.
"Mas." Cahaya berbisik lalu dirinya menyenggol lengan Riki, agar ikut menimpali obrolan mereka.
"Mama mertua dan Ayah mertua. Apa boleh saya ikut makan karena saya teramat lapar," ucap Riki dengan diiringi sebuah senyuman.
Sedangkan ketiga orang tersebut menatap aneh padanya. Mungkin dalam benaknya tidak percaya bahwa orang kaya sekalipun, bisa kelaparan.
Sedangkan Cahaya menatap tidak percaya jika calon suaminya bisa berkata seperti itu. Bukannya tadi mereka sudah makan di food court yang terletak di area pusat perbelanjaan.
Cahaya mengangkat kedua alisnya, menatap tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Riki.
"Makanlah, ini makanan tidak akan habis. Jika pun kamu menghabiskannya itu berarti dirimu tidak punya malu," kata Adi tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya.
Sedangkan Riki mendengus kesal karena selalu saja ayah mertuanya bersikap seperti itu.
"Sudahlah buruan makan, jangan di ambil hati akan ucapan ayahmu!" seru Dia pada Riki dan menyuruhnya untuk cepat duduk dan makan.
__ADS_1
"Ayah lihat lah mama mertua baik bukan. Tidak seperti dirimu yang selalu menganggap ku musuh," ujar Riki dengan senyuman menyingrai.
"Dasar kau calon menantu tidak punya akhlak," umpat Adi pada Riki yang terus membuat masalah dengannya.
Sedangkan para wanita menatap jengah pada keduanya.
"Kalau saya calon menantu tidak punya akhlak. Lantas Ayah adalah Ayah mertuanya yang sangat menyebalkan," dengan berani Riki memaki-maki calon ayah mertuanya.
"Kamu memang menantu laknat," balas Adi pada Riki.
"Dasar mertua durhaka!" mereka berdua terus saja saling maki layaknya bocah TK. Entah kapan lelaki beda generasi itu akan akur.
Dari mulai belum menjadi seorang menantu hingga saat ini, keduanya tidak ada perubahan dan tetap seperti bocah kecil.
"Dasar pria tidak laku."
"Kau yang tidak laku."
"Bukan diriku, tapi dirimu."
"Tetap saja kau duda tidak laku, sedangkan aku masih perjaka!"
PRANG.
BRAK.
Terdengar suara bantingan wajan dan tutup panci yang di lempar oleh Dia. Membuat kedua pria itu seketika diam.
"Apa kalian akan terus berantem dan saling ejek!"
"Apa kalian ingin bertengkar terus di sini!" semuanya diam saat melihat Dia yang di juluki macan tutul itu, berubah menjadi buas karena terpancing emosi, karena ulah mertua dan menantu yang saling mengejek.
"Kenapa kalian tidak bisa akur sedikit saja," heran deh aku. Cahaya pun ikut menyahut karena sudah teramat kesal dengan ayah dan calon suaminya.
"Iya besok kita tidak akan berantem lagi kok, tadi kelepasan." Akhirnya Adi membuka suara dan ia pun berjanji kalau tidak akan mengulang lagi.
"Iya Mama mertua, ini yang terakhir kalau berantem lagi kita siap di hukum gantung." Jawab Riki dengan wajah menunduk.
__ADS_1
"Iya karena sudah aku siapkan untuk menggantung kalian, jika masih bertengkar lagi!" seru Dia dengan menatap satu-satu pria yang ada di hadapannya tersebut.