
Apa kau bilang, saya buta," ucap Adi yang sudah kebakaran jenggot.
"Eum,"
"Kau ya, jika saya masuk angin, tentunya kamu harus bertanggung jawab," sambil menuding Adi memberi Ancaman pada Dia.
Lha bagaimana ceritanya, orang dianya yang salah kok jadi nyalahin gue, lagian apa memang ini orang benar-benar buta atau memang bodoh sih, bukannya meminta maaf malah menuntut pertanggung jawaban, seperti orang yang sehabis di perkosa saja. Seperti itulah kira-kira umpatan yang ada di batin Dia.
Karena seluruh tubuh basah oleh air, karena Adi yang tak terima di siram dengan menggunakan selang, jadilah bosnya itu membalas menyemprotkan air yang mengalir melalui selang juga.
Kini mereka sama-sama basah kuyup. Dan sekarang tatapan Adi terfokus pada Dia, karena ada pemandangan yang sangat indah, dan tak kalah indah, dari taman miliknya yang beraneka jenis bunga. Gunung kembar yang kecil tapi tak apa lah karena ada pandangan yang sejuk, seperti berada di bawah pohon. Kira-kira seperti itulah dalam batinnya.
Semakin lama semakin membuat seluruh badan Adi bagai tersengat lebah, karena suhu tubuhnya kini menjadi panas dingin.
Ais, kenapa ini singkong yang berada di karung sudah mirip burung pelatuk saja sih. Gerutunya dalam hati.
Jangan salahkan aku ya thor, mataku hanya melihat keindahan dunia, bukan begitu✌✌.
Namun Dia yang merasa di tatap, dengan tatapan yang tak biasa. Membuatnya takut, karena sorot mata milik lelaki itu mengarah ke pusat dadanya.
"Apa yang Bapak lakukan!" suara keras Dia, membuat Adi seketika tersadar dari lamunan yang membawanya ke dunia khayal.
"Memangnya apa yang saya lakukan," ucap Adi bingung.
"Saya tau Bapak sedang memikirkan sesuatu saat menatap saya,"
"Bagaimana kau tau. Ups, keceplosan." Dengan segera Adi membekap mulutnya sendiri dengan menggunakan kedua tangannya.
__ADS_1
"Nah kan, Bapak gak bisa berbohong," ucap Dia.
Entah keberanian dari mana, hingga Dia berani melangkah dan mendekati Bos mesumnya itu.
"Mau apa kamu!" Suara lantang Adi, tak sekalipun dihiraukannya.
Semakin mendekat, dan lebih mendekat, membuat badan Adi bertambah panas dingin.
Stop!.
"Kalau kau sampai berani mendekat, jangan salahkan saya! Jika peliharaan ku memangsamu dengan ganas,"
"Mana Pak! Orang kagak ada gitu,"
"Apa kau ingin tahu,"
Jika Dia tau kalau yang di maksud adalah burung yang hinggap di balik celana pendek milik Adi, bisa di pastikan akan lari terbirit-birit.
"Burung,"
"Mana Pak, orang dari tadi saya enggak lihat burung di sekitar taman, apa jangan-jangan burungnya ganas ya Pak, sampai-sampai Bapak umpetin.
Dia yang tak mengerti dengan polosnya malah mencari burung yang Adi maksud.
" Apa benar-benar ingin tahu," dengan tatapan yang tak bisa di artikan membuat Dia sedikit merinding.
"Dari tadi Bapak sudah mirip burung yang sehabis di beri kroto, ngomong mulu. Udah buruan mana burungnya."
__ADS_1
"Hadap saya, dan lihat lha kebawah,"
Dengan segera Dia menuruti ucapan dari mulut Adi.
Tetapi yang ada, Dia malah menggaruk kepalanya dengan tampang bloonnya, Dia terus mencari tak tak kunjung di temukan.
"Mana!"
"Dasar bodoh,"
"Kenapa saya di bilang bodoh," Dia yang tak terima sedari tadi di katakan bodoh, lantas menginjak kaki milik Adi.
Auh.."Sakit bodoh,"
"Sukurin, lagian dari tadi ngomong pakai muter-muter. Udah mirip sama tong edan saja." Tong edan itu sebutan dari (Roda gila) jika di tempat thor ya.
"Burungnya ada di sarangnya puas kamu."
"Mana sarangnya?" tanya Dia yang mulai penasaran lagi.
"Nih di balik sini, dan coba liat lihat,"
Dia, yang polos menurut saja akan perintah yang di berikan oleh Adi, dengan rasa penasaran yang tinggi jadilah Dia mengarahkan pandangannya tepat di celana pendek yang di pakai oleh adi.
Huaaaa..
"Bapak mesum!"
__ADS_1
Dengan menutup kedua matanya, Dia berteriak histeris karena seperti terlihat pohon yang yang menjulang semakin tinggi.