Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
BAB 22. Dasar Bocah Tengil


__ADS_3

Setelah kejadian yang penuh tragedi, dari mulai rencana Kakak Dan Ibu, untuk membuat kejutan di hari lahir ku yang ke 18 tahun. Dan belum lagi Pak Adi, yang ketakutan yang luar binasa, ah maksudnya luar biasa, iya begitu. Hingga salah berdoa membuat diri ini teramat terhibur. Badan yang tinggi mempunyai otot yang cukup lumayan serta tubuh yang wow, ternyata tak memperngaruhi seseorang. Dan itu terdapat di Pak Adi.


...----------------...


Keesokan harinya.


Adi terus saja mengumpat tentang kejadian yang memalukan, dan sangat-sangat tak pernah terpikirkan sampai seperti itu. Dan Adi baru mengetahui jika Dia berulang tahun, Adi tak tahu barang kesukaan Dia, dan apa yang tidak di sukai nya. Alih- alih ingin memberikan kado tapi dirinya sama sekali tak tahu.


Apa Adi memang ada rasa dengan Dia, yang kerap di panggil bocah tengil itu, karena usia yang sangat teramat jauh, bagaimana tidak! Adi yang sudah berumur 35 tahun, dan menyandang gelar duda. Sedang kan Dia bocah berusia 18 tahun, coba bayangkan 17 tahun, usia yang terpaut di antara mereka berdua.


Sedangkan di resto.


Dia yang berkutat dengan pekerjaannya, dan fokus untuk melayani para pengunjung, namun tiba-tiba, seorang wanita memarahinya.


"Kamu punya mata sih, lihat ini baju mahal saya." Seseorang sedang memarahinya di karenakan Dia, tanpa sengaja menumpahkan minuman ke baju wanita tersebut.


"Maaf, maaf enak bener mulut kamu kalau ngomong,"


"Apa saya harus menggantinya."


"Ya harus dong."


Seorang laki-laki muda menatap jengah pada perempuan sombong yang di perkiraan seusianya, dengan sorot mata yang tajam lelaki muda itu menghampirinya.


"Itu hanya sebuah baju, mengapa harus di ributkan tinggal cuci beres kan." Ucapan lelaki itu membuat si wanita bertambah kesal.


"Kamu siapa ikut campur urusan saya, hem."


"Kalian merusak suasana makan ku, sampai sini paham." Ucap lelaki itu dengan penuh penegasan.


Dia hanya malas melihat dua orang itu berdebat, dan lebih memilih untuk meninggalkan mereka berdua.


"Kerjain enak kali ya" gumamnya.


Dengan kilat dirinya menghilang diantara dua manusia yang saling adu mulut.


Melihat Dia yang cekikikan temannya mengerutkan keningnya, lalu menegur.


"Habis kesambet ya?" tanya salah satu temannya.


"Habis ngerjain orang."


"Huh, kamu emang bener-bener gak punya rasa kapok."


"Salah sendiri, tingkah udah kek bocah."


Temannya bingung, umpatan untuk siapa dan yang di kerjainnya juga siapa.


"Jangan tertawa terus nanti itu mulut gak bisa mingkem lho ya."


Dia langsung berhenti untuk tidak tertawa, saat temannya menakut-nakutinya.


"Emang siapa sih yang kamu kibulin De," akhirnya Dia, menceritakan awal kronologinya sampai dirinya kabur dan meninggal kan seseorang yang sama sekali tak di kenalnya, karena Dia merasa muak melihat mereka bertengkar.


"Sumpah kamu bener-bener parah De, gimana kalau orang itu marah dan nyariin kamu, dan balas dendam,"


"Ah, itu gampang pura-pura kagak kenal."


Terdengar helaan nafas berat dari temannya, tak habis pikir bisa-bisanya temannya itu mempunyai teman seperti dirinya, terlalu bar-bar.


...----------------...

__ADS_1


Sedangkan dua orang tadi setelah bertengkar kini netra nya mencari-cari perempuan yang menjadi akar permasalahannya.


"Semua ini gara-gara kamu." Ucap wanita itu dengan wajah sombongnya.


Sialan cewek tadi, di belain tapi malah kabur awas kamu ya kalau ketemu gue bikin rempeyek ancur. Batin lelaki itu penuh dengan rasa kesal, di bantu tapi malah dirinya kabur.


Sedang kan perempuan angkuh itu, tak jadi memesan makanan dengan hati yang dongkol dirinya keluar dari tempat makan tersebut.


Tak terasa senja telah tiba, di mana waktunya Dia pulang.


"Eh gue duluan ya," pamit Dia pada teman-temannya.


"Iya elu hati-hati ya."


Dia tak menjawab melainkan mengacungkan jempolnya.


Di parkiran.


"Eh bocah tengil."


Dia, celingukan mencari sumber suara tersebut.


"Kamu tuli ya,"


"Anda memanggil saya," sambil menunjuk dirinya sendiri Dia berkata.


"Emang ada yang lebih tengil dari kamu,"


"Ada!" buru-buru Dia menyahuti.


"Mau tau,"


"Bapak!"


"Eh dasar bocah ya."


"Apa! mau saya kasih satu rahasia Bapak, saat Bapak tak bisa berdoa dengan benar."


"Ka-."


"Apa!" potong Dia lagi.


"Ck..ck.. Dasar sialan."


"Bodoh."


"Makanya manggil itu pakai nama, jangan asal comot," karena lagi-lagi 'bocah tengil' lah yang selalu di sebut nya.


"Terserah saya dong, mulut, mulut saya, yang ngomong juga saya."


"Dasar gendeng."


"Apa kamu sedang memujiku,"


*Ah gue inget, ini orang kan kagak tau artinya ya, biar lah sok kegantenga*n. Dia membayang kan sambil tergelak karena merasa orang yang ada di hadapannya benar-benar bodoh.


"Eum, bisa di bilang begit." Jawab Dia.


"Ya sudah, saya mau pulang."


"Tunggu!"

__ADS_1


Adi seketika menghentikan Dia, dan memanggilnya.


"Kenapa,"


"Ikut saya,"


"Kemana?" Dia tak mau kejadian kemarin terulang lagi, ingin menolak namun dirinya sudah di seret ke mobil.


"Mau kemana sih ini." Sungut Dia, karena tanpa persetujuannya mau tidaknya kek barang rongsokan saja main seret.


"Mau lihat penampakan."


"Udah deh, mending kamu diam."


Mungkin sekitar satu jam, mereka sudah sampai di pantai, hawa sore di pantai dan angin sepoi-sepoi sesekali menerpa anak rambut milik Dia, yang di kuncir kuda. Mengenai matanya.


"Gimana kamu suka,"


"Bagaimana Bapak tau kalau saya tak pernah ke pantai dan sedang ingin."


"Entah lah ini di luar rencana, tapi kalau kamu menikmati syukur lah saya tidak sia-sia membawa kamu kesini."


"Makasih,"


"Bisa kah jangan memanggil saya Bapak, karena saya tak merasa menikah sama Ibu kamu lalu punya anak kamu."


"Kalau gitu tinggal nikah sama Emak saya kan."


Peletak.


"Sakit tau,"


"Salah sendiri, punya mulut udah mirip kek cabe."


"Dasar Om resek."


"Saya gak pernah nikah sama tante kamu ya."


"Oh, dasar wong edan." (dasar orang gila).


"Apa kamu sedang mengatai ku,"


"Tidak."


"Terus yang barusan."


"Oh itu ya, itu artinya Bapak orang baik, karena sedang berbaik hati mengajak saya kesini."


"Oh itu ya artinya."


Dasar Dia, bengek pakai ngatain orang lagi.


Adi merogoh sakunya untuk mengambil gawai nya, ada yang ganjal, masa iya kata-kata baik, tapi wajahnya sambil menahan sesuatu.


Adi menyalakan gawai nya lalu membuka aplikasi Mbah Google. Setelah itu dirinya mengetik kata-kata yang sempat di ucapkan barusan untuk mencari arti dari kata edan dan gendeng.


"Bocaaaah tengill. Awas kau ya."


Dia berlari sekencang-kencangnya untuk menghindari amukan singa jantan.


Dia yang sudah curiga karena responnya agak berat lalu bosnya mengambil gawai, bukan untuk menghubungi orang, mau pun bertukar pesan pada temannya juga. Tetapi mencari arti ucapan Dia, dan Dia pun sedikit melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2