
Seminggu sudah. Di mana hari yang di tunggu-tunggu telah sampai di titik ini. Hari ini adalah hari bahagia untuk pasangan pengantin yang akan berbahagia karena akan melangsungkan acara pernikahan mereka.
Riki dan Cahaya sudah siap untuk membangun mahligai rumah tangga. Jalan yang sudah di ambil oleh Cahaya, sangat di sayangkan oleh semua orang.
Bukannya usia Cahaya masih cukup muda.
Bukankah masa depan Cahaya masih panjang.
Lalu mengapa orang tuanya harus merestui antar keduanya.
Kedua orang tua Cahaya tidak mau memikirkan akan hal itu. Cahaya sudah mengambil jalan itu sendiri.
Cahaya dengan gaun berwarna putih terlihat sangat cantik dengan dandanan naturalnya.
Di dampingi oleh Rury Cahaya nampak sedikit gemetar.
"Ay, kenapa tangan kamu berkeringat?" Rury yang memegang lengan Cahaya terlihat wajah yang sangat gusar dan tangan yang juga berkeringat.
"Aku deg-dekan Ry, rasanya kek mana gitu." Jawab Cahaya dengan nafas yang tidak beraturan untuk saat ini.
"Cie yang nanti malam ada yang mau unboking." Rury terus menerus menggoda Cahaya sampai wajah sosok yang di godanya menjadi merah bak tomat.
"Bisa elu gak goda gue mulu, awas ya entar elu bakal gue kawinin!" seru Cahaya mencabik kesal karena Rury tidak berhenti menggodanya.
"Emang gue kucing apa main kawinin, emang elu mau kawinin gue sama siapa? Orang gue pacar juga belum punya enak saja itu mulut." Rury mendengus kesal karena Cahaya membalas menggodanya.
"Sama bang Sat."
Uhuk.
Uhuk.
Rury tersedak sedang orang yang mempunyai nama langsung tidak bergerak.
Dengan senyuman menyingrai Cahaya sengaja berkata seperti itu.
Orang yang merasa namanya di pangggil pun menghampiri mereka.
Sedangkan Rury merasa ini adalah lelucon yang sangat menyebalkan.
"Kenapa kamu menyebut namaku," kata Satria saat Cahaya menyebutkan namanya.
"Oh yang punya nama ada di sini, mau aku nikahin sama Rury?" Wajah Satria terlihat sangat malu seakan-akan dirinya tidak laku sampai-sampai harus di jodohkan.
"Apa menurutmu aku tidak laku, usiaku masih 17 tahun. Sekarang yang ada di otakku adalah belajar bukan menikah seperti kamu sekarang!"
Seketika wajah Cahaya memerah akibat ucapan dari mulut Satria. Harusnya Cahaya tidak perlu marah karena apa yang dikatakan semua itu ada benarnya. Meski begitu rasa kesal pasti ada, pikir Cahaya.
"Hye, gue sudah lulus sekolah. Jadi, tidak ada masalah dengan semuanya." Cahaya dengan terang-terangan berkata seperti itu dan membuat Satria langsung pergi.
"Dasar perempuan." Dengan berjalan pun Satria bergumam akan kelakuan para wanita tersebut.
Saat dirinya tengah berjalan dirinya berpapasan dengan aunty nya. Yaitu Dia.
"Aunty kenapa buru-buru?" Tanya Satria saat melihat sang tante berjalan dengan terburu-buru.
__ADS_1
"Apa kamu melihat di mana Cahaya berada?" Tanya Dia pada Satria.
"Ada di sana, Aunty." Satria menunjuk di mana dirinya bertemu dengan Cahaya.
"Ya sudah kalau begitu, Aunty mau menyusul ke sana karena penghulunya sudah datang dan juga calon pengantin prianya." Setelah berkata Dia pun langsung melenggang pergi meninggalkan Satria.
Setelah melihat Cahaya berada di ujung tangga. Dia pun menghampirinya untuk segera bersiap-siap.
Sedangkan Riki bersama dengan ayah mertuanya sudah berada di meja. Untuk melakukan prosesi ijab qobul. Keringat dingin dan rasa grogi tak bisa di hindari.
Rudi yang berada di situ, yang tengah melihat bos nya sedang dilanda kecemasan. Mencoba untuk menenangkannya.
"Apa kau sedang grogi sampai keringatmu keluar dari pori-porinya?" Dengan senyum mengejek Rudi bertanya.
"Apa juga sedang menertawakan aku," balas Riki pada Rudi.
"Sesungguhnya ia, tapi aku berusaha tidak." Ucapan Rudi membuat Riki langsung menendang kakinya.
Auh.
"Dasar gila."
Riki yang mendengar Rudi mengatainya. Mencoba acuh karena sudah malas untuk menanggapi asisten gilanya itu.
Ekhem.
Mendengar pak penghulu berdeham, membuat semuanya diam dan tidak ada satu pun yang berbicara.
"Apa kalian sudah siap, termasuk wali dan mempelai prianya?" Pak penghulu pun bertanya akan kesiapan mereka semua.
"Insya Allah siap, Pak." Jawab Riki dengan suara bergetar.
"Alhamdulillah kalau semuanya sudah siap." Pak penghulu pun tersenyum melihat semua sudah siap dengan acara sakral ini.
Keadaan sedikit tegang karena prosesi ijab qobul.
Dengan satu tarikan nafas Riki lancar untuk mengatakan kalimat yang penuh ketegangan.
“Bagaimana para saksi!” Teriak penghulu.
“Sah.”
"Sah.”
"Sah.”
Semua riuh dan sangat bahagia akan momen ini.
Akhirnya Cahaya Adia Dwipangga binti Adi Dwipangga telah sah menjadi seorang istri, dari Riki Suseno.
Mempelai wanita yang tadinya di kamar kini telah menuruni tangga dan menuju ke ruang tamu, untuk di pertemukan dengan sang suami yang mulai hari ini, detik ini dan jam ini. Telah resmi menyandang status seorang istri.
“Ay, selamat ya. Aku turut bahagia dengan pernikahanmu ini,” Rury memeluk sahabatnya dengan begitu erat.
“Sama-sana, makasih ya Ry. kamu sudah mau menjadi sahabat ku,” Dengan wajah sendunya Cahaya berkata.
__ADS_1
“Sudah yuk kita ke depan, dari tadi melow mulu.” Akhirnya mereka berdua tertawa.
Kini Cahaya sampai di ujung pintu, Riki sama sekali tidak mengedipkan matanya saat bidadari nya, berjalan menghampirinya.
“Alihkan pandanganmu,” ucap ayah mertuanya yang sedang melihat wajah Riki.
“Ayah, kau menggangguku ku saja. bukankah kau juga pernah muda, jadi biarkan aku menatap keindahan tersebut.”
Pletak.
Auh.
“Kenap kau malah menyentil ku, Ayah.” Riki mendengus kesal karena ayah mertuanya melandaskan jemarinya yang berada di keningnya.
"Tidak seperti itu juga bodoh!" Maki Adi.
"Kau suka sekali mengatai menantumu bodoh, apa memang aku ini terlihat bodoh."
"Tanpa aku menjawab kau sudah mengakuinya. Oh tuhan kenapa anakku bisa menjadi istri seorang yang bodoh," kata Adi sembari mengangkat wajahnya ke atas.
"Dasar ayah mertua menyebalkan," umpat Riki.
"Aku mendengar." Buru-buru Adi menyahut.
Kini Cahaya sudah mulai mendekat kepada sang suami. Lalu Adi memerintahkan sang anak untuk mencium tangan Riki.
"Salim dulu Nak, sama suami kamu." Adi memerintahkan Cahaya untuk berlaku seperti itu dan Cahaya pun langsung mengikuti, apa yang dikatakan oleh sang ayah.
Setelah itu ganti Riki yang mencium kening Cahaya.
“Selamat kalian sudah menjadi pasangan suami istri.” Adi pun memberikan ucapan selamat pada anaknya.
Setelah pandangannya beralih menatap Riki, yang saat ini telah menjadi dari bagian dirinya.
“Jangan pernah menyakiti Cahaya walau itu setitik pun, kalau kamu berani melakukannya maka aku sebagai Ayahnya. Akan menghancurkan kamu lebih dulu,” Adi tidak segan-segan untuk mengancam orang yang telah berani melukai hati sang anak.
“Aku tidak bisa berjanji. Namun aku berusaha untuk menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab,” ujar Riki menimpali ancaman ayah mertuanya degan santai.
“Maka lakukan dengan menunjukkan sikapmu, jangan menunjukkan dengan hanya di mulut saja!” Sergah Adi pada Riki.
“Sudah-sudah, ini adalah hari bahagiaku yah. jadi, bisakah kalian akur sebentar saja.” Cahaya pun menengahi perdebatan itu dan meminta sang ayah untuk tidak adu otot dengan suaminya.
“Baiklah, nikmati kebahagiaan ini karena Ayah akan menyusul mama kamu di sana.” Setelah berpamitan pada anak dan menantunya, Adi pun meniggalkan mereka berdua. Lalu mengayunkan langkahnya untuk menyusul sang istri yang sedang bersama Indah, sahabat masa remajanya.
“Sayang rupanya kamu di sini,” ucap Adi pada Dia dan itu membuat jengah orang yang ada di sebelahnya.
“Memangnya aku mau ke mana di saat seperti ini.” Jawab Dia ketus.
Sedang kedua orang yang berada di sebelahnya terkikik geli, pasalnya sikap antara keduanya tidak sedikitpun berubah.
“Ada yang lucu, sampai-sampai kalian tertawa.” Adi menatap satu persatu orang yang menurutnya sangat menyebalkan.
“Ada. kalian itu sudah tua tetap saja seperti dulu,” ejek Haikal pada pasangan fenomenal tersebut.
“Iya, yang satu bucin dan yang satu galaknya minta ampun.”
__ADS_1
Akhirnya semua tertawa sedang Adi dan Dia benar-benar merasa terpojok, oleh kelakuan mantan asisten dan mantan karyawannya tersebut.
"Kalian sungguh menyebalkan."