
Dia bergumam sembari membuka isi pesan tersebut.
"Siapa, Ma?" Tanya Cahaya pada sang mama.
"Tante Indah mau ke sini." Jawabnya pada pada Cahaya.
"Oh."
Tak ada lagi yang di tanyakan oleh Cahaya. Dan sekarang dirinya bisa bernafas lega karena pagi ini benar-benar menjadi hari yang melelahkan.
"Ay, mau bulan madu ke mana?" Mendengar pertanyaan itu Cahaya pun langsung menoleh menatap sang mama.
"Belum tahu Ma. Karena belum ada rencana untuk bulan madu ke mana," ucap Cahaya pada mamanya.
"Memangnya belum ada rencana ke mana," kata Dia.
"Belum ada."
Huf.
Dia menghela nafas dalam-dalam dan tidak habis pikir akan anak dan menantunya tersebut.
************
Tidak terasa pagi pun berubah menjadi malam. Dan sekarang sudah di pukul sembilan malam.
Semua orang sudah berpamitan untuk masuk ke dalam kamar masing-masing.
Karena kemarin Riki sudah gagal, Untuk malam ini dirinya tidak boleh gagal untuk kedua kalinya.
“Ay, main bola sodok yuk.” Riki mengajak untuk bermain bola sodok lagi dan lagi-lagi Cahaya masih tidak mengerti.
“Mana ada bola sodok di rumah ini, Mas.” Cahaya benar-benar dibuat kesal oleh Riki. Karena memang dirinya tidak mengerti dengan suaminya.
“Itu lho. Ehem … Ehem, masa kamu tidak tahu.” Lagi dan lagi Riki dibuat kesal oleh Cahaya, yang tidak mengerti dengan isi kepala istrinya.
“Bisa tidak ngomong yang jelas, kalau kamu ngomongnya separuh. Mana aku ngerti,” gerutu Cahaya yang mengira jika suaminya itu memang bertele-tele.
“Masa iya aku harus jujur, harusnya kamu tahu dong!” Riki mengacak Rambutnya karena benar-benar tidak mengerti dengan apa yang ia alami saat ini.
“Memangnya kenapa kalau harus berkata dengan jujur. Tidak ada salahnya kan,” ucap Cahaya yang sudah kehabisan kata-kata untuk meladeni rumus yang diberi, oleh suaminya itu.
Sedangkan Riki juga sedang berpikir keras kenapa dirinya harus menikahi bocah, yang benar-benar masih polos.
“Baik. Aku akan mengatakannya tapi … Kamu harus mau menurutinya, bagaimana.”
“Baik. siapa takut,” tantang Cahaya pada suaminya dengan gaya yang seperti orang akan berkelahi.
Lalu Riki membisikkan sesuatu hingga membuat mata Cahaya melotot. Dan merasakan desiran yang tak biasa dari dalam tubuhnya.
Gluk.
Sedetik Cahaya menelan ludahnya hingga Riki pun bisa mendengar.
“Ingat, Tidak boleh menolak. Kalau kamu menolak maka sama saja kamu mencari dosa, mengerti!” Dengan senyuman yang tersungging di sudut bibirnya. Riki sedikit bernafas lega karena ia yakin kalau malam ini dirinya akan bermain bola sodok.
__ADS_1
“Ta-pi aku takut, Mas.” Cahaya sudah terlihat pucat karena ia sangat takut jika orang yang akan melakukan malam pertama itu. Pasti sakitnya luar biasa, makanya Cahaya terlihat sangat gusar dan itu terlihat dari raut wajahnya.
“Aku akan melakukannya dengan pelan. Jadi, kamu tidak perlu kuatir akan hal itu.” Jawab Riki, padahal ia pun belum pernah melakukannya, lantas kenapa dirinya bisa mengerti akan hal itu.
“Aku belum pernah melakukan terus ini bagaimana caranya,” batin Riki dalam hati.
“Mas, kenapa diam?” tanya Cahaya karena Riki sedari tadi juga diam membayangkan caranya untuk bermain, bola sodok itu bagaimana caranya.
Kalaupun lihat tutor di YouTube. Terasa aneh saja.
"Eh, tidak. Bagaimana siap?" Riki pun berbalik bertanya untuk kesiapan Cahaya.
"Siap." Jawab Cahaya dengan nada lirih.
Kini mereka tengah duduk di tepi ranjang. Dengan perlahan Riki mendekati Cahaya dan menatap wajah ayu itu dengan seksama.
Perlahan tapi pasti, Riki mendekatkan bibirnya dengan milik Cahaya.
Keduanya masih terlihat kaku. Karena memang mereka sama-sama masih bersegel.
Suara gemuruh yang terdengar hebat membuat pikirannya kacau. Kini, milik Riki sudah setegak tiang listrik.
Dan tanpa sengaja Cahaya menyentuhnya lalu.
Aaaaaaaaaa.
Hup.
Dengan cepat Riki sudah membekap mulut Cahaya agar tidak berteriak lagi.
Rasa panas dingin sudah mulai menjalar, di sekujur tubuh keduanya.
Riki melepaskan pagutannya untuk sesaat agar mereka bisa sama-sama bisa mengirup udara melalui nafas.
"Sangat nikmat." Riki pun menyeka sudut bibirnya dengan lidahnya dan kini dirinya benar-benar telah candu.
Sedang Cahaya. Mukanya bak tomat yang berwarna merah mereka akibat malu karena semua ini, adalah kali pertamanya.
"Kenapa wajahmu seperti kepiting rebus," ucap Riki karena untuk sesaat wajah mereka saling berhadapan.
"Mana?"
"Sekarang sudah tidak." Lalu Riki membekap bibir Cahaya lagi dan semakin memperdalam ciumannya.
Riki sudah tidak bisa menahannya, tangannya yang sudah ke mana-mana. Dan tanpa ia sadari kini satu tangannya sudah berada di atas gunung yang sudah mulai tegak. Akibat rangsangan yang sudah di ciptakan oleh suaminya.
Kini ciuman itu sudah terlepas dan Riki pun menjelajahi leher jenjang yang putih bersih milik Cahaya. Tidak lupa dengan tanda kepemilikan yang ia tinggalkan sebagai jejak, percintaannya dengannya.
"Mas," Cahaya sepertinya sudah tidak bisa menahannya karena sedari tadi dirinya terus menerus mendapat serangan.
"Terus sayang, sebut nama itu agar aku bisa bertambah semangat." Riki pun membisikkan sesuatu di telinga Cahaya hingga terdengar deru nafas, yang kian memburu seperti tidak ada celah walau hanya untuk menetralkan nafas.
Riki yang semakin bersemangat hingga satu persatu kancing baju milik Cahaya hilang. Karena di tariknya dengan paksa.
"Sayang, apa kamu sudah siap." Bisik Riki lagi hingga semua kancing hilang dan kini sudah nampak gunung yang menjulang tinggi. Dan Riki sudah siap untuk menapaki gunung tersebut, lalau menjelajahi di setiap incinya.
__ADS_1
Tidak lama kemudian semua kain yang menempel di tubuh Cahaya telah terlempar entah ke mana.
Mata Riki tidak berkedip karena melihat ciptaan tuhan yang paling indah. Ada di depan mata.
Argh.
Sakit.
Saat benda tumpul itu memaksa untuk masuk, Cahaya mengerang kesakitan karena ia merasa benar-benar seperti di robek paksa.
"Sakit ... Mas, aku tidak..." Mendengar Cahaya yang terus berteriak hingga Riki harus membekap bibirnya lagi.
"Tahan sayang. Pasti sebentar lagi akan masuk ke dalam lubangnya paralonnya," Riki pun berusaha untuk membuat Cahaya melupakan rasa sakit yang ia lakukan saat ini. Merampas keperawanannya. Dan memaksakan benda miliknya harus bisa masuk sampai ke dalam.
Benar saja Cahaya sudah tidak mengerang kesakitan dan yang ada kini hanya suara-suara indah yang di keluarkan bersamaan dengan. Lolosnya benda milik Riki.
Akhirnya permainan bola sodok itu telah di mulai. Keduanya terhanyut oleh irama yang hanya mereka sendiri dapat mendengar.
Peluh yang membanjiri tanda bahwa malam ini hawanya teramat panas bagi pasangan pengantin baru, yang sedang merengkuh lembah kenikmatan surga dunia.
Setengah jam telah lewat. Namun keduanya masih belum berada di titik kenikmatan. Riki pun semakin semangat dalam bermain yang ia beri nama bola bola sodok.
Sedangkan Cahaya hanya bisa pasrah karena ia juga tengah menikmati apa yang ia rasakan saat ini.
"Sayang, aku tidak tahan."
Riki yang saat ini hanya bisa membuka mata lalu menutupnya lagi. Karena dirinya benar-benar terbawa oleh rasa yang begitu nikmat, hingga dirinya tidak mampu dalam berkata-kata.
"Mas, aku tidak mau hamil." Dengan nafas yang memburu Cahaya berkata.
"Tenang sayang, kita akan menundanya sampai usia kamu sudah lebih dari cukup." Akhirnya Cahaya pun bisa bernafas lega karena Riki tidak menuntut untuk, dirinya cepat-cepat hamil.
"Sayang."
Uhhhhhhhhh.
Riki mengerang akan kenikmatan itu, sedang Cahaya masih malu dan lebih memilih, untuk menahannya.
Akhirnya kran yang bocor menyemburkan air yang tak biasa. Kini, Riki terkulai lemas di atas tubuh Cahaya. Begitu pula dengan Cahaya yang merasakan. Semua badannya berasa di hajar masa.
"Sayang, si jacky masih tegak dan tidak mau tidur." Riki pun memperlihatkan sesuatu yang berwarna coklat seperti Cakwe itu, pada Cahaya.
"Benar saja kalau lubang paralonku berasa di sobek. Orang si jacky sebesar pisang kepok yang berukuran jumbo," batin Cahaya di dalam hatinya.
"Tidak, aku sudah lelah. Apa kamu ingin membunuhku Mas." Cahaya pun menolak dengan permintaan sang suami yang meminta tambah lagi.
"Terus ini bagaimana?" tanya Riki yang merasakan denyutan di kepalanya, secara tiba-tiba.
"Mas, aku sudah tidak tahan." Dengan suara berat dan sedikit nada yang bisa, di bilang menggoda. Cahaya berkata.
Sedangkan Riki sudah mulai bergairah lagi kala Cahaya berkata seperti tadi.
"Aku sudah tidak tahan."
BRUKH.
__ADS_1