
"Itu dulu. Sekarang ini, ini, dan ini semua milikku!" seru Adi.
"Kau ini sungguh menyebalkan." Lalu Dia memalingkan tubuhnya, dengan cara menyingkur.
"Sayang, tanganku belum jalan-jalan. Mengapa kamu balik badan," ujar Adi.
"Bodoh amat, yang penting aku tidur." Setelah itu tidak ada lagi suara. Saat Dia menoleh ke arah suaminya, namun ternyata suami Dia sudah terlelap dan terbang ke alam mimpi.
Dia bangun dengan perlahan. Agar tidak menimbulkan goyangan yang membuat tidur suaminya menjadi terganggu.
DI RUANG KELUARGA.
"De, kenapa kamu turun lagi?" tanya mertua.
"Pertanyaan macam apa ini, Bu." Setelah berujar Dia ikut bergabung dan duduk di antara para orang tua tersebut.
"Kali saja kamu nemenin suami kamu," ucap Bu Rosma.
Sedangkan Mak Ita memicingkan matanya, dan menatap sang besan dengan penuh keheranan.
"Mak besan kenapa tatapanmu seperti itu,” ucap Bu Rosma pada Mak Ita.
" Lagian kamu ya Bu besan, ada-ada saja. Masa iya De disuruh nunggu orang yang sedang dengkur!" sungut Mak Ita.
"Iya kali aja Mak, sekalian main romantis-romantisan gitu." Jawab Bu Rosma dengan di iringi gelak tawa.
"Sudahlah ngapain kalian berantem sih," sungut Dia dengan kesal.
"Hehehe … Maaf," ujar mereka berbarengan.
Tidak terasa jam yang berbutar begitu cepat, pukul tujuh malam. Mereka sudah berada di meja makan. Menikmati sajian yang di olah kedua besan tersebut.
Semenjak kedatangan Mak Ita dan Bu Rosma. Dia tidak pernah berperang dengan peralatan dapur. Mungkin karena yang ada di kandungan Dia adalah cucu pertama, jadi. Semua menginginkan akan kesehatan calon jabang bayi.
Saat mereka telah selesai makan dan Dia akan membereskan piring kotor, namun di cegah oleh Bu Rosma.
"De, biarkan semua piring yang membereskan kami saja. Kamu istirahatlah," ucap Bu Rosma.
"Bu, masa iya sehabis ngisi perut langsung tidur." Jawab De dengan mengangkat sebelah alisnya.
"Iya betul Bu besan, tidak baik kalau habis makan langsung dengkur." Sahut Mak Ita saat Bu Rosma menyuruh Dia untuk istirahat.
"Ya sudah, terserah kalian!" sungut Bu Rosma.
Akhirnya mereka bertiga memilih berbincang-bincang di ruang keluarga setelah menyantap menu makan malam, sembari menunggu kepulangan Adi.
Yah, tadi jam lima Adi berpamitan pada Dia untuk ke restauran bersama Haikal.
__ADS_1
Sampai pukul sembilan Dia menunggu suaminya yang tak kunjung pulang, dan tidak ada kabar yang di berikan. Membuat hati Dia sedikit cemas, namun rasa itu ia coba untuk di tepisnya.
"De, kamu istirahat saja. Tidak baik bagi calon Ibu yang sedang mengandung tidur terlalu malam," ucap Mak Ita memberi tahu.
"Iya itu benar De, apa yang di katakan Emak kamu. Lebih baik sekarang kamu tidur ya, karena kami juga akan beristirahat." Bu Rosma menyahuti ucapan sang besan dan setuju dengan apa yang di katakannya itu.
"Baik lah Mak, Bu. Kalau begitu De naik ke atas dulu ya," ucap Dia dan tidak menyela ucapan dari kedua perempuan paru baya tersebut.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
SEDANGKAN DI SISI LAIN.
Adi dan Haikal telah berada di cafe hanya sekedar meminum kopi, sambil mengistirahatkan badan yang cukup letih setelah dari restoran miliknya, tepatnya milik sang istri.
Saat Adi sedang menikmati setiap hisapan di bibir cangir yang berisikan kopi, tiba-tiba saja sebuah pertanyaan membuat Adi berhenti menyesap.
"Di, itu tadi karyawan kamu siapa namanya?" tanya Haikal dengan sedikit senyuman yang tersungging.
"Yang mana?" tanya balik Adi, karena ia merasa ada enam karyawan dan Adi tidak tahu yang dibicarakan Haikal.
"Itu yang bersama kamu," ucap Haikal.
"Oh itu ya … Itu Indah sahabat Dia," tukas Adi menjelaskan.
"Jadi…."
"Iya." Sahut Adi tiba-tiba.
"Kok bisa sahabatan," ucap Haikal tanpa melihat lawan bicaranya.
"Ya bisa. Nyatanya bisa kan," ujar Adi.
"Bukan itu maksudku."
"Lantas!" seru Adi.
"Apa mulut … Eh maksudku istrimu dulu pernah ada restoran," tukas Adi mengatakan walau sedikit ada kesalahan dalam berucap.
"Iya, istriku dulu adalah karyawanku. Lalu alam menyatukan kami," ucap Adi sambil tersenyum membayangkan kejadian satu tahun lalu, di mana iya harus menikahi bocah tengil yang sering membuatnya marah dengan suatu tragedi.
Sedangkan Haikal menatap jijik, karena Adi senyum-senyum tidak jelas dan terkadang menggelengkan kepala.
Apa Adi sudah gila sehingga tersenyum tidak jelas, batin Haikal.
Lalu ia mencoba mengabaikan bos nya itu, dengan menyeruput kopi yang tersisa.
Sesaat Adi tersadar dan menatap Haikal dengan seksama.
__ADS_1
"Kenapa kamu menatapku seperti itu. Jangan bilang kalau kamu sedang bernafsu. Cih menjijikkan!" seru Haikal dengan tatapan sinis.
"Memangnya aku mahluk jadi-jadian yang doyan sesama pisang apa!" Adi menjawab dengan hati yang dongkol.
"Siapa tahu saja kamu sedang ingin mencoba pisang," ujar Haikal tanpa dosa.
"Dasar gila kamu. Memandang punyamu saja aku tidak sudi! apalagi ingin mencoba." Dengan mata melotot Adi berkata.
Ha … Ha … Ha.
Haikal terkikik geli saat dirinya sukses membuat Adi kesal dan marah.
"Ya sudah yuk pulang, takut istrimu menunggu." Ajak Haikal pada Adi, karena sekarang sudah di pukul sebelas. Tanpa terasa mereka sudah dua jam berada di cafe.
Saat Haikal mengingatkan Adi, ternyata Adi baru sadar kalau istrinya pasti akan menunggunya. Ia pun lupa kalau Adi sama sekali tidak nengabari kalau ia tak langsung pulang.
"Di," panggil Haikal.
"Eh, iya maaf." Jawab Adi.
"Ya sudah ayo pulang." Ajak Haikal lagi.
Akhirnya mereka berdua beranja dari cafe, dan akan pulang masing-masing.
Tidak lama kemuduan Adi sudah berada di halaman rumah, dan masuk ke dalam dengan cara mengendap-endap karena takut terkena tegur.
Ceklek.
Setelah berhasil membuka kunci, Adi masuk secara perlahan karena takut orang rumah akan mengetahui.
Namun keberuntungan tidak berpihak di diri Adi.
"Kenapa jalan kamu seperti itu By." Saat Adi menoleh betapa terkejut saat istri tercintanya sudah berdiri tegak di pinggir pintu.
"Takut menimbulkan suara sayang," ucap Adi.
Ck … Ck..
"Aku kan sudah bilang tadi, jangan malam kalau pulang. Lantas ini apa!" seru Dia dengan kesal.
"Harusnya pulang pagi kan ya aku, kan gak boleh malam-malam. Berarti ya nanti pagi pulangnya," ujar Adi dengan senyuman yang terukir di bibirnya. Hingga memperlihatkan deretan gigi putih nya.
"Dasar suami nyebelin."
Merasa kesal akhirnya Dia pergi meninggalkan suaminya, dan berjalan dengan menghentakkan kakinya.
"Yah marah, alamat gak di kasih tempat buat tidur ini." Adi bergumam dengan menyiapkan mental, karena bisa di pastikan kalau ia akan mendapat hukuman untuk tidak tidur seranjang dengan istrinya.
__ADS_1
Puf…
Akhirnya Adi berjalan dengan langkah gontai untuk menaiki anak tangga.