Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
105. CAHAYA, BERTEMU PRIA TAMPAN


__ADS_3

Tanpa terasa kini sosok Cahaya menjadi gadis yang sangat cantik. Di usianya yang ke-18 tahun, membuat kecantikannya makin terlihat dengan bertambahnya usia.


Dan usia yang sudah tidak muda lagi. Sosok Adi semakin terlihat berkharisma dengan ketampanan yang ia miliki.


Sedangkan Dia masih terlihat segar dengan usia yang sudah berkepala empat.


"Mama, aku pergi dulu ya." Cahaya menghampiri sang mama untuk pergi entah kemana. Sedangkan Dia yang berada di taman tengah menyirami bunga, langsung menghentikan aktivitasnya saat putrinya memanggil.


"Kau mau pergi kemana, Ay?" ucap Dia bertanya karena pagi-pagi sudah rapi.


"Mau ke pasar hewan Ma, mumpung ada yang ngajak." Jawab Cahaya.


Jika kebanyakan perempuan akan berbelanja dan ke mall, maka berbeda dengan Cahaya yang lebih suka pergi ke pasar binatang.


"Kamu sudah sarapan?" tanya sang mama.


"Sudah, Ma. Tadi makan roti habis tiga lembar," ujar Cahaya.


"Ya sudah hati-hati bawa mobilnya," ucap Dia pada sang anak semata wayangnya.


"Tenang saja, Ma." Jawab Cahaya, setelah berpamitan dengan sang mama dan mengecup tangannya. Cahaya pergi dan meninggalkan taman. Sesampainya di ruang keluarga terlihat Adi yang sedang meminum kopi sembari mengotak-atik gawai.


"Yah, aku keluar dulu ya." Melihat sang ayah yang sedang bersantai Cahaya pun tak lupa untuk berpamitan juga.


"Mau kemana kamu?" tanya sang ayah.


"Mau lihat hewan melata, ayah mau ikut. Oh tidak, tidak jadi kuajak karena. Aku gak mau dibilang sugar baby," ucap Cahaya pada sang ayah.


"Alah mamamu juga dulu gitu, gak mau sama Ayah kalau keluar. Alasanya sama gak mau jadi sugar baby, nyatanya sekarang malah nempel mulu."


"Terus kamu itu maunya jadi seperti itu, atau mau tetep jadi anak ayah." Adi berkata lagi namun dirinya sama sekali tidak menoleh kepada sang anak.


"Bukan begitu Yah, aku mau kalau jalan sama ayah terus ada yang bilang begitu. Ayah terlalu tampan, makanya sampai-sampai semua orang gak bisa bedain. Mana ayah dan mana sugar baby." Jawab Cahaya dengan wajah cemberut, sedangkan Adi tersenyum.


"Sudahlah, lebih baik aku pergi." Akhirnya Cahaya berpamitan pada sang ayah.


PUKUL 08:00.

__ADS_1


Cahaya sedang perjalanan menuju tempat yang kerap ia singgahi pada hari minggu bersama temannya, Rury.


"Ry, gue lapar cari sarapan yuk." Cahaya mengajak temannya untuk sarapan karena dengan menghabiskan, tiga lembar roti tidak membuatnya kenyang.


"Gue sudah sarapan keles, tumben elu gal sarapan?" tanya Rury.


"Tadi mau sarapan takut elu nunggu lama, jadi gue cuma makan roti tiga lembar doang dan, sekarang masih lapar." Jawab Cahaya karena ia tidak bisa sarapan tanpa adanya nasi.


"Ya sudah elu sarapan biar gue pesen minuman doang," ucap Rury.


"Ok."


Setelah itu mereka menuju tempat penjual bubur langganannya dan Cahaya pun memakirkan mobilnya setelah sampai di kedai bubur.


Pada saat Cahaya memarkirkan kendaraannya terdengar sesuatu jatuh dan.


BRAKH.


Seseorang melihat motornya terjatuh buru-buru orang itu menghampiri dengan wajah yang dipenuhi amarah dan sebuah kepalan di tangannya.


Sedangkan Cahaya dan Rury sedikit takut, hingga mereka belum juga turun dari mobil.


"Cepat turun!" untuk kedua kalinya orang itu berteriak.


Akhirnya Cahaya turun dan membuka pintu dengan wajah ketakutan dan itu juga, di rasakan oleh Rury.


"Maaf, gue gak sengaja." Cahaya sudah mandi keringat karena ia takut kalau harus ganti rugi dan, dalam bayangan Cahaya uang darimana jika benar-benar harus menggantinya.


"Hye bocah! apa kamu buta sampai tidak bisa melihat kalau ada motor, hum."


"Ta–di gak sudah minta maaf karena tidak sengaja," ucap Cahaya.


"Enak saja minta maaf, buruan ganti! dan saya tidak mau tahu ya pokoknya." Dengan wajah tegasnya pria itu berkata.


"Lihat itu! semua hancur karena kecerobohan kamu," seru pria itu lagi.


Cahaya dan Rury menoleh ke arah samping untuk melihat motor yang ia tabrak tadi dan, benar saja kalau ada beberapa bagian yang pecah dan berserakan.

__ADS_1


"Berapa gue gantinya, gue kan sudah bilang kalau tidak sengaja. Kenapa elu ngeyel si, om." Cahaya juga tidak terima kalau dibilang ceroboh karena memang ia benar-benar tidak sengaja.


"Sepuluh juta, mana!" pria itu pun mengadahkan tangan pada Cahaya.


Sedangkan Cahaya dan Rury sama diam karena mereka tidak punya uang sebanyak itu walau keduanya patungan.


"Ay, uangaku cuma satu juta." Rury berbisik pada Cahaya.


"Sama. Uangku cuma sejuta," jawab Cahaya menimpali.


"Jangan menggosip. Sekarang mana uangnya dengan begitu kalian boleh pergi!" sergah pria itu.


Sedangkan mereka berdua bingung, uang dua juta yang terkumpul dan sisahnya masih delapan juta.


"Apa kami boleh mencicil," ucap Cahaya pada pria itu dan Cahaya juga mencoba memberanikan diri untuk menatap, laki-laki tersebut.


Satu kata yang ada dalam hati Cahaya 'tampan' dan itu tidak bisa di pungkiri.


"Kenapa bengong, awas itu jogong jatuh." Pria itu memperingati Cahaya karena mulutnya saat ini, sedang ternganga.


"Om, kau sangat tampan." Entah keberanian dari mana sampai-sampai Cahaya berani berkata seperti itu, sedangkan Rury berulang kali menyenggol lengannya agar tidak kegenitan.


"Hye bocah! apa kau berusaha menggodaku dan siapa yang kau panggil om itu," ucap pria itu yang merasa geram pada bocah yang berada di depannya tersebut.


"Memangnya ada om-om lain di sini selain om tampan," ujar Cahaya.


"Jangan coba-coba menggodaku kalau hanya untuk di bebaskan dari tanggung jawab!" seru pria itu.


"Dasar bocah, bisa-bisanya ia menggodaku. Apa dia kira aku akan tergodah cuih! menyebalkan," dalam hati pria itu memaki serta mengumpat karena baru kali ini dirinya di goda, oleh seorang bocah ingusan.


"Eng–gak kok Om, aku serius kalau Om itu sangat tampan." Cahaya masih belum menyerah dan berulang juga memuji ketampanan daro pria dewasa yang ada di depannya.


"Jangan buat saya kelaparan dengan ocehan kamu yang tidak penting! sekarang cepat berikan uang ganti rugi itu pada saya jika kalian ingin bebas," sebuah ancaman terpaksa dilakukan oleh pria dewasa itu karena dirinya, mulai jengah dengan prilaku bocah yang terus saja menggodanya.


Akhirnya Cahaya berhenti dengan bualannya dan mulai membicarakan negosiasi pada pria tampan seperti kulkas itu.


"Ada dua juta, sisanya apa boleh di cicil karena kami hanya punya uang segitu, itupun uang sisa yang kami kumpulkan dari uang saku sekolah." Cahaya mencoba memelas dengan begitu siapa tahu pria itu mau berbaik hati kepadanya.

__ADS_1


Seketika pria dewasa itupun langsung nendelikkan matanya lebar-lebar. Dalam benaknya bagaimama bisa gadis dengan kendaraa mobil mahal hanya mempunyai uang satu juta. Sungguh mustahil, apa gadis yang berada di hadapannya sengaja menyewa mobil, untuk sekedar gaya?


__ADS_2