Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
MERAYAKAN ULANG TAHUN CAYAHA. (BERSAMBUNG)


__ADS_3

Riki yang semula berada di atas tubuh Cahaya. Kini, sudah berada di bawah tempat tidurnya karena dengan tega, Cahaya menghempaskan tubuh suaminya hingga terpental ke lantai.


Cahaya sudah tidak tahan dengan perutnya yang menahan sakit akibat ingin kencing namun terhalang oleh Riki.


Setelah keluar dari kamar mandi. Perasaan lega kini di rasakan oleh Cahaya.


"Kamu kenapa masih di bawa, Mas?" Cahaya heran karena Riki Belum juga bangkit malah duduk, sambil memijat kakinya.


"Kenapa kamu mirip dengan mama kamu, lihatlah kebrutalanmu," Riki mendengus sebal akan ulah Cahaya yang melemparnya sampai terpental.


Hehehe.


"Maaf. Biar aku bantu," tukas Cahaya.


Rasa perih dan sakit yang ia rasakan, membuat dirinya ingin cepat-cepat untuk segera tidur. Karena dirinya benar-benar sudah tidak tahan akan rasa sakit ini.


Setelah membantu Riki berdiri. Dengan cepat Cahaya ikut naik ke atas dan segera mengistirahatkan tubuhnya, yang teramat sakit.


Akhirnya setelah bermain bola sodok dan kini merasa sudah lelah. Keduanya memutuskan untuk segera tidur. Agar esok pagi akan seluruh badannya akan kembali bugar.


**************


Warna langit yang kelabu. Hujan rintik-rintik membasahi alam. Daun-daun yang saling berguguran, membuat suana semain syahdu.


Pukul tujuh pagi. Tiba-tiba hujan datang dengan begitu derasnya. Seakan ikut merasakan kebahagian keluarga Dia.


Ya. Anggap saja jika hujan itu adalah berkah untuk mereka karena keluarganya berakhir bahagia tanpa ada sandungan, batu terjal yang mereka lalui. Dan akhirnya Dia sebagai orang tua kini bebannya sudah berkurang karena. Semua itu sudah di ambil alih oleh Riki, suami dari Cahaya.


Di usia Dia yang semakin tua. Tidak ada kata bohong jika dirinya mengharap sebuah cucu dari sang anak. Namun, untuk sesaat harus bisa ia tahan sampai Cahaya lulus kuliah, yang tengah mengejar impiannya sebagai dokter.


Dan tidak terasa juga bahwa usia pernikahannya dengan Riki kini sudah menginjak satu tahun.


Di rumah Riki.


"Sayang, kamu hari ini ada kuliah?" tanya Riki pada Cahaya.


"Tidak, Mas. Memangnya kenapa." Jawab cahaya penuh selidik.


"tidak ada apa-apa. Hanya saja nanti Mas akan pulang lebih awal," ujar Riki memberi tahu sang istri.


"Baik lah. Aku akan memasakkan kamu," ucap cahaya dengan diiringi senyuman.


"Tentu. Masaknya yang banyak karena nanti teman Mas mau datang ke sini," ujar suami Cahaya


"Tumben?" Cahaya sedikit heran karena ini semua tidak biasanya.


"Iya, hanya ingin main saja. Dan nanti ada lima orang jadi kamu jangan lupa untuk memasak," kata Riki sembari mendekat ke arah Cahaya yang sedang berbaring di ruang televisi dan menciumnya. Sebelum ia berangkat kerja.

__ADS_1


"Iya Mas, ya sudah hati-hati di jalan." Cahaya pun mencium punggung tangannya sebelum Riki keluar dari rumah intuk bekerja.


Cahaya sedikit pun tidak merasa aneh perihal permintaan sang suami yang memintanya. Untuk memasak banyak.


Akhirnya Cahaya berdiri untuk melihat isi di dalam kulkas ada apa saja yang bisa ia masak, untuk nanti di berikan pada tamu-tamu suaminya.


"Hm ... Masih ada ayam, ikan dan udang." Cahaya berbicara sendiri saat membuka bagian flizer tersebut. Dan kini matanya melirik ke arah bawah, di mana tempat sayuran itu berada.


Semua masih aman dan ia pun masih bisa mengolahnya nanti.


Pukul dua siang.


Cahaya yang baru saja bangun buru-buru mencuci mukanya karena sang suami baru saja menelepon agar bisa menyiapkan semua masakan.


"Tumben amat Mas Riki, minta buat di masakin?" dalam benak Cahaya terus bertanya-tanya sebetulnya ada acara apa? Sehingga suaminya itu mengundang semua temannya.


Cahaya di dapur yang hanya sendiri, dengan cekatan memasak semuanya sendiri. Yah setelah sebulan di rumah orang tuanya, ia berusaha untuk belajar memasak dengan sang mama.


Satu persatu masakan telah jadi. Dan ada beberapa juga yang harus masaknya lagi.


Huf..


"Akhirnya selesai juga," uap Cahaya sambil mengusap peluh yang ads di keningnya.


Drrtt.


Drttt.


Sesaat Cahaya melihat siapa yang menghubunginya.


"Mama?" lirih Cahaya.


📞"Iya halo ada apa, Ma?" tanya Cahaya di ujung telepon.


📞”Nanti Mama dan ayah akan ke sana. Kamu mau di bawakan apa?" tanya balik sang mama.


📞"Gak ada Ma, ya udah aku tunggu kedatangan Mama." Setelah beberapa detik telpon terhubung. Kini, sudah di putus oleh Dia. Mama dari Cahaya.


Cahaya yang sedang duduk sepertinya sedang memikirkan sesuatu.


Terasa aneh. Secara tiba-tiba semua orang akan datang ke rumahnya.


Cahaya yakin jika kedatangan orang tuanya bukan lah karena ingin merayakan ulang tahunnya. Dan sepertinya semua melupakan akan hal itu.


Sedikit kesal dengan semua orang karena bisa-bisanya semua melupakan hari lahirnya. Termasuk suaminya sendiri.


...----------------...

__ADS_1


Sedangkan di lain tempat.


"Sayang, bagaimana tanggapan Cahaya?" tanya Adi pada istrinya.


"Biasa saja By, mungkin ia berpikir bahwa kita semua akan melupakannya." Dia pun sedikit bercerita saat dirinya menghubungi anaknya.


Sedangkan Riki yang duduk di sebelah mertuanya belum menyahut percakapan itu. Karena ia sedang menunggu temannya untuk mengantarkan kado untuk istri tercintanya.


Semua orang sudah berkumpul dan akan merayakan hari kelahiran Cahaya, yang ke-19.


"Ki, apa istrimu curiga dengan kamu berbohong kalau yang datang adalah teman kamu?" tanya mama mertuanya pada Riki.


"Mama tenang saja. Semua aman terkendali karena aku bilang, kalau temenku hanya ingin main saja." Jawab Riki pada mamanya Cahaya yang tak lain adalah mertuanya.


"Baik lah kalau begitu. Sekarang tinggal nunggu Indah dan Haikal saja," ucap Dia sembari langkahnya terayun memasuki pintu dapur.


Tidak berapa lama suara ketukan dari arah luar. Membuat Dia sedikit terkejut, lalu ia buru-buru menghampiri siapa orang yang sedang mengetuk pintu tersebut.


Ceklek.


"Kirain siapa, gak tahunya kamu." Ternyata orang yang mengetuk pintu adalah Indah dan Haikal..


"Iya. Oh ini ada titipan katanya suruh ngasih sama mantu kamu," ucap Indah sembari memberikan kotak berwarna ungu dengan bentuk hati. Cukup besar jika hanya ada satu macam. Dan mereka yakin kalau isinya bukan hanya satu.


"Iya. Nanti bakal ku kasih sama Riki," kata Dia.


"Bisa berangkat sekarang. Karena terlihat sebentar lagi langit akan menangis," ucap Haikal yang tiba-tiba ikut menimbrung.


"Bisa. Aku akan memanggil para lelaki yang ada di dalam sana!" Setelah itu Dia berlalu meninggalkan pasangan suami istri tersebut. Untuk memanggil suami dan menantunya.


Satu jam kemudian.


Mereka semua sudah sampai di rumah Riki. Dan semuanya juga sudah siap untuk merayakan hari jadi Cahaya.


Dengan perlahan Riki membuka pintu. Di lihatnya dari celah, ternyata Cahaya sedang duduk dengan cara menopang kan dagu di sofa.


SELAMAT ULANG TAHUN SAYANG.


"Mama!"


Akhirnya semua duduk dan masuk untuk merayakan ulang tahun Cahaya. Semua terlihat sangat bahagia.


Hidup itu pilihan. Jika kamu sudah memilih maka kamu juga harus siap dengan segala hal.


Usia dan kasta, bukanlah hal mutlak untuk membina sebuah rumah tangga. Namun, semua itu hanya sebuah pilihan.


Terimakasih buat teman-teman yang selalu mendukung dalam setiap bab karyaku.. Tanpa kalian juga aku tidak akan di titik sekarang🥰🥰 love you semua.

__ADS_1


Jangan lupa mampir di karyaku yang berjudul: Cinta 150cm ya.


End.


__ADS_2