Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
BAB 41. Di Rendah Kan.


__ADS_3

Sesampainya di mall, mereka bingung hanya memilih-milih tanpa membeli. Hingga salah satu karyawan menghampiri mereka dan mengejeknya.


"Jika kalian di sini hanya untuk melihat-lihat tanpa harus membeli, lebih baik kalian keluar, mengganggu saja." Dengan wajah kesal karyawan berbicara.


"Ah, aku yakin jika kalian adalah anak sekolahan makanya tidak punya uang untuk membeli." ujar karyawan lagi.


"Dasar karyawan songong, sombong banget elu," Dia yang tak bisa mengontrol emosi akhirnya memaki-maki karyawan tersebut.


"Lho kenapa kalian marah, bukannya benar ya yang saya bilang, jika ingin belanja lebih baik kalian pergi ke pasar karena harga di sini, kalau di belikan di pasar bisa dapat 50 baju." Ujar karyawan dengan senyuman mengejek.


Memang benar apa yang di katakan karyawan tersebut, jika harga baju maupun celana di sini paling murah di bandrol 400ribu. Dan itu yang paling murah.


"Sudah lah De, kita pergi daripada kita di bilang bikin rusuh." Indah ingin mengajak Dia untuk pergi dari toko tersebut tapi tangan Indah dihempaskan dengan kasar oleh Dia, dan Indah yang merasa kesakitan akhirnya memilih diam.


Beberapa pasang mata saling menatap, sama seperti karyawan yang mencemoohnya saat ini.


Apa di kira gue gak bisa beli dengan harga segitu, mulutmu pun sanggup gue beli. Umpat Dia dalam hatinya, karena sesama manusia derajat kita sama dan tak sepatutnya dirinya mengejek dan menjatuhkan orang, dengan mulutnya yang seperti cobra akibat bisa nya.


Dia pun yang sudah mengepalkan tangannya, merasa tidak terima di rendahkan di depan banyak orang.


Akhirnya dirinya ingin memutuskan untuk menelepon suaminya dan bertanya di ATM terdapat berapa uang.


Tut..


Panggilan terhubung.


["Halo sayang."]


Dia sengaja telepon dengan menggunakan vidio call. Agar suaminya melihat dirinya berada di mana.


["Ada apa kamu menghubungiku De,"] Adi curiga tidak seperti biasa Dia menelepon dan memanggilnya dengan sebutan romantis.


["Sayang, Penampung uang yang kamu berikan padaku, ada berapa duit."] Dia berkata tapi, dengan kamera yang memperlihat kan satu karyawan dan sebuah butik.


Baik lah sayang, saya akan mengikuti sandiwara kamu, Gumam Adi dalam batinnya.


["Mungkin 50juta sayang, kamu kan belum pernah jajan pakai uang itu, jadi ya belum ada pengeluaran, kenapa? Memangnya kurang."]


Terdengar suara karyawan yang menatap jengah, karena dalam benaknya pastilah perempuan yang sedang mengobrol lewat telepon genggam tersebut adalah ayam kampus.


"Dasar, jadi ayam kampus saja uda belagu." gumam nya, namu ternyata Dia dan Indah mendengar.

__ADS_1


"Siapa yang anda bilang ayam kampus." Indah tidak terima jika Dia, di katakan ayam kampus.


"Yang pasti teman kamu." ucap Karyawan tersebut.


Sedangkan Adi, yang benar-benar sudah marah, karena istrinya di bilang ayam kampus. Akhirnya mematikan gawai nya tapi, sebelum itu Adi bertanya sang istri berada di mall mana dan di lantai berapa.


["Ya sudah tunggu di situ, karena aku berada dekat di mall itu."] Lalu telepon pun di matikan.


Tak berapa lama kemudian, Adi sudah menemukan istri kecilnya itu.


"Sayang ada apa?" tanya Adi sedikit kuatir.


"Aku di bilang ayam kampus dan, mengejek aku katanya aku gak sanggup buat beli baju di sini." Dia begitu pintar dengan memainkan sandiwara, dan mata buaya nya pun keluar.


"Berapa harga baju yang di pegang oleh istriku." Seru Adi pada karyawan tersebut.


"is-tri, anda." Mata karyawan pun melotot karena saking kagetnya.


"Iya kenapa, terkejut, atau tidak percaya? Lihat ini." Adi menunjukan cincin yang sempat di belinya tempo hari.


"Maaf, tuan."


"Apa kau mengira jika istriku seorang ayam kampus, dan apa mulut mu juga tidak pernah mengajarimu tentang tata krama!" Dengan hati yang panas, akhirnya Adi mengeluarkan lava yang ia tahan, tidak terima jika istrinya di sebut seperti itu, maka dirinya pun harus turun tangan.


"Ini kenapa rame-rame begini ya Pak." ada satu karyawan satu lagi yang menghampiri aku dan istriku, aku tak akan membuatnya di pecat dari pekerjaannya karena aku masih punya hati nurani, asalkan perempuan itu meminta maaf pada istriku dan tak akan mengulangi nya lagi kepada orang lain.


"Tidak ada apa-apa." Sahut Adi.


Sedangkan karyawan yamg di ketahui bernama Lestari karena terlihat jelas di name tag nya.


"Untuk kamu, meminta maaf atau kehilangan pekerjaan." Ancam lagi.


Akhirnya Karyawan yang bernama Lestari meminta maaf pada Dia. Dan Adi pun mengajak pulang istri kecilnya.


Jangan menilai dari sampulnya, yang terlihat jelek di luar, karena sejatinya orang yang benar-benar berada, justru tak akan memperlihatkan gaya hidupnya yang glamor. Kesederhanaan, serta rendah hati seseorang, akan mematikan lawannya jika sudah di usik.


"Om, aku lapar." Dia merengek karena perutnya lapar.


"Ya sudah kamu mau makan apa?" tanya Adi, tanpa di sadari kedua pasangan itu saling bergandeng tangan.


"Mau bakso yang ada di pinggir jalan, depannya mall ini." Dia menunjukkan tempat di mana penjual bakso tersebut pada Adi.

__ADS_1


Sedangkan Indah hanya diam tak bersuara sama sekali, tapi langkah nya mengikuti kedua pasangan beda usia itu.


"Itu ada food court, kita makan di situ saja ya,"


"Enggak, aku maunya makan bakso." Dia menolak, dan tetap ingin makan di kedai bakso tersebut.


Seumur saya gak pernah makan di kedai bakso yang ada di pinggiran jalan, tapi sekarang semua sudah berubah.


"Ya udah setelah ini kita pulang ya," ucap Adi.


Tak berapa lama kemudian mereka berdua sudah keluar dan akan menuju ke kedai bakso.


"Pak bakso tiga ya," ucap Dia pada Bapak penjual itu.


"Baik neng."


Dengan cepat tiga porsi bakso itu pun sudah berada di depan masing-masing.


"Indah kenapa kamu diam, apa kamu takut dengan saya untuk saya jadikan menu penutup setelah bakso ini." Karena Adi melihat Indah sedari tadi diam, dan belum juga memakan bakso yang ada di depannya.


"Om, jangan membuat Indah bertambah takut dengan tampang Om yang sangar itu." Sahut Dia.


"Apa menurutmu suami tampan dan baik hati sepertiku, terlihat menyeramkan."


"Tentu Om, semua akan takut jika melihat Om yang menatap dengan tatapan yang mau memangsa." Dia mencoba memberi tahu Adi.


"Menyebalkan, kamu kira saya singa apa, saya kan kucing yang manis."


Cuih.


"Menyebalkan."


"Sayang, aku ambilin sambalnya juga dong." Dia menurut.


"Indah segera makan."


"I-iya Pak." Indah menjawab dengan suara yang gemetar.


Hah..Hah..Hah..


"Bocah! Apa kau ingin aku cepat mati. Cepat ambilkan saya minuman."

__ADS_1


Hu ha.. Hu ha..


__ADS_2