Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
BAB 75. Ungkapan Perasaan Riki


__ADS_3

Pukul delapan pagi, Dia sudah bersiap untuk berangkat restoran yang ia kelola sekarang. Restoran pemberian dari suaminya, sekaligus hadiah pernikahan untuknya.


"Kamu mau di antar," Adi mencoba menawari siapa tahu istrinya mau di antar oleh nya.


"Tidak Om, terimakasih. Jika nanti mengantarku kasian asisten mu itu," ucapan Dia membuat Adi langsung teringat akan hal itu, karena pagi ini Adi menyuruh Haikal untuk datang ke rumahnya.


"Ya sudah aku berangkat dulu ya." Pamit Dia pada suaminya.


"Kamu udah pamit sama Mak?" Tanya Adi, karena ia takut kalau istrinya lupa untuk berpamitan.


"Udah, barusan." Jawab Dia.


"Ya sudah hati-hati,"


"Ya." hanya dua huruf yang keluar dari mulut De, yang menanggapi ucapan suaminya.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Hampir satu jam Dia sudah berada di restoran, dan di sambut hangat oleh karyawan-karyawannya itu.


"Pagi Mbak," sapa orang ke satu.


"Pagi juga." Jawab Dia dengan di iringi senyuman.


"Pagi Mbak Dia," sapa karyawan kedua.


"Iya pagi juga." Balas Dia dengan senyuman yang mengembang.


Semua orang menyapa dengan ramah, namun ada satu orang yang ia cari. Hingga dia celingukan di setiap sudut ruangan untuk mencari sosok temannya Indah, yang tidak terlihat sedari tadi.


Tumben Indah belum kelihatan di mana itu anak ya? batin Dia karena tidak kunjung menemukan temannya itu.


"Akhirnya Dia memilih berjalan untuk ke dapur siapa tahu temannya ada di dapur.


Di dapur pun tidak ada, lalu dirinya keluar lagi.


Tadi di rumah Dia tidak bernafsu untuk sarapan jadilah dirinya keluar lagi dari resto. Rencananya akan membeli bubur ayam yang tidak jauh dari tempatnya kini berada.


" Ah, itu dia tukang bubur nya." Ucap Dia lirih.


Setelah melihat penjual bubur itu ternyata ada, Dia buru-buru menghampiri.


Sesampainya di pangkalan penjual bubur. Dia duduk sembari menunggu selesai Bapak itu menyelesaikan pekerjaannya.


Setelah pembeli tertinggal dua orang, Dia buru-buru memesan bubur tersebut.

__ADS_1


"Pak, bubur satu porsi ya."


Saat Dia sedang menunggu bubur nya yang masih di racik, tiba-tiba saja seseorang menyapa nya.


"De, sendirian."


"Riki," Dia membalas sapaan dari Riki.


"Seperti yang kamu lihat," ujar Dia lagi.


"Makasih Pak," Saat dirinya sedang berbicara dengan Riki. Bubur yang di pesan telah jadi, dan Bapak penjual itu pun memberikannya.


"Iya neng." Timpal Bapak itu.


"Elu sendiri ngapain di sini?" tanya Dia, karena Riki tidak kunjung memesan bubur tersebut.


"Mau beli bubur, Ibu ku minta di belikan." Ucap Riki.


"Oh, ya sudah gue duluan ya."


Tanpa Dia menyadari, bahwa Riki terus mencuri pandangan ke arah di mana Dia sedang menikmati semangkok bubur.


Sedangkan Dia merasa curiga, seperti di perhatikan. Lalu di pandangi tanpa berkedip.


Setelah Dia benar-benar yakin. Barulah ia mendongakkan kepalanya, dan melirik seseorang yang berada di hadapannya itu.


"Maaf,"


"Cih, menyebalkan."


"Mas, ini bubur nya sudah jadi." Saat Riki akan mengikuti Dia berdiri, tiba-tiba saja Bapak penjual bubur memberikan pesanan Riki. Hingga mata Riki sudah tak melihat Dia lagi.


"Ya sudah Pak, makasih." Setelah menerima kantung kresek dari penjual bubur tersebut. Riki mencoba mencari Dia, siapa tahu masih dekat dan bisa jadi masuk ke dalam restoran yang tidak jauh dari rombong bubur saat ini.


Saat Riki menyusuri jalan dengan menggunakan motor, benar saja. Riki melihat kalau Dia berjalan ke arah restoran. Lalu ia dengan cepat menghampiri karena memang ini adalah kesempatan, kesempatan untuk mengungkapkan apa yang mengganjal di hati nya.


"De, tunggu!" Riki berteriak memanggil nama Dia, dan itu membuat orang yang di panggil berhenti.


"Kenapa elu membuntuti gue," seru Dia dengan heran.


"Bisa kita ngobrol bentar," ucap Riki.


"Apa ada yang penting?" tanya Dia penasaran.


"Ada, maka ikut lah dengan ku. Kita tidak mungkin berbicara di tempat ini kan," ujar Riki.

__ADS_1


"Ya sudah kita masuk ke dalam, kita bicaranya di dalam saja." Dia berkata dengan langkahnya yang terus berjalan untuk menuju ke restoran, serta mengajak serta Riki.


"Baik lah." Riki setuju untuk berbicara empat mata di dalam, lalu ia langsung memarkirkan motornya tepat di sebelah ucup.


"Sekarang bicara lah." Dia menyuruh Riki untuk segera mengatakan apa yang ingin di sampaikan oleh Riki.


"De ... Sebenernya ... Sebenernya aku...."


"Elu gak ada kelainan kan, gue udah nungguin tapi elu nya gak buruan ngomong nya." Ketus Dia, saat Riki tak kunjung mengatakan apa yang akan di katakan oleh lelaki yang ada di hadapannya.


"Sebenernya, aku ... Aku suka sama kamu, iya suka sama kamu udah dari dulu." Saat Riki mengatakan tentang perasaannya, Dia tak berbicara. Terkejut itu pasti, Dia hanya bisa melongo kala mendengar Riki saat berterus terang kalau ia suka dengan Dia.


Cinta elu terlambat untuk elu berikan sama gue Rik, gue sudah menjadi istri orang dan gak seharunya elu mengatakan itu sama gue, dan harunya elu mencari tahu tentang status siapa gue.


Saat Dia terbengong dan memikirkan tentang ucapan Riki padanya, sebuah tepukan halus di lengannya. Membuat De terbangun dari dunia yang penuh drama ini.


"De," panggil Riki.


"I-iya Rik, ada apa."


Riki menghela nafas dalam-dalam karena ternyata Dia tidak mendengar apa yang keluar dari mulut Riki.


Ternyata meski Riki sudah menepuk-nepuk lengannya, namun tetap saja De tidak meresponnya.


"Jadi kamu sama sekali tidak mendengar apa aku yang berbicara panjang lebar tadi De!" suara Riki sedikit meninggi namun bukan membentak, ia hanya kesal karena Dia mengabaikannya. Tanpa perduli perasaan Riki.


"Tadi gue dengernya cuma sepotong, maaf." Tutur Dia karena memang ia masih tidak percaya, kalau Riki menyukainya semenjak dulu.


"Jadi gimana, apa kamu membalas perasaanku ini?" Riki bertanya dengan penuh harapan, dan berharap kalau Dia mau membalas cintanya.


"Sepertinya kamu salah orang Rik," ucapan Dia membuat Riki bingung.


"Apa maksud kamu De?" tanya Riki.


"Maaf gue gak bisa membalas perasaan elu ke gue, kare...."


"Oh, aku tahu kenapa kamu menolak ku." Riki sengaja memotong ucapan Dia, karena ternyata Dia tidak sama sekali menyukainya.


"Kamu sudah menjadi tawanan lelaki dewasa itu kan, karena dia lebih kaya dari aku!" Riki sudah terlanjur emosi hingga lepas kendali.


"Siapa yang elu maksud, gue sama sekali tidak mengerti sama ucapan elu."


"Jangan berlaga bodoh De!" seru Riki.


BRAK.

__ADS_1


"Apa yang kalian lakukan di sini berduaan, Hum. Jawab!"


Saat Dia berdiri dan menggebrak meja, ternyata ada seseorang yang tidak mereka berdua sadari. Hingga membuat nya begitu marah.


__ADS_2