
Yah, itu semua adalah rencana Bu Indah dan Mak Ita. Mereka berdua merencanakan untuk menjebak Di dan Adi, dengan memberikan obat perangsang lalu diletakkan di jus jeruk yang memang sudah di persiapkan oleh Mak Ita.
Saat anak dan menantunya berangkat bekerja, disitulah kesempatan bagi pasangan besan tersebut. Untuk melancarkan aksinya dengan menaruh obat tersebut, di rasa sudah tercampur mereka meletakkan di dalam kulkas. Lalu kedua orang paruh baya itu, keluar rumah dengan harapan semoga berhasil.
...----------------...
Setelah kejadian malam kemarin, Adi semakin bucin (budak cinta) sedangkan Dia masih, belum menyadari akan perasaannya itu.
"De, buruan sarapannya ini siang lho." Adi berujar dengan langkah menuju ke arah luar.
"Berisik," gertak Dia. Karena baru saja dirinya menyuapkan makanan kedalam mulutnya, tapi suaminya sudah seperti seorang yang sedang ketinggalan bus.
Baru saja makan udah suruh cepat-cepat. Memangnya ini nasi tidak pakai di kunyah, menyebalkan. Umpat Dia dalam hati.
"Sayang udah belum," lagi dan lagi. Adi berkata untuk bersiap-siap.
Dia yang geram akhirnya menjawab.
"Kalau masih tanya lagi, aku timpuk nih ya pakai piring." Dia berkata dengan geram.
"Pis sayang." Lalu Adi mengangkat kedua jarinya tanda persahabatan.
Tak berapa lama Dia sudah menyelesaikan makannya, setelah itu dirinya sudah bersiap untuk bekerja.
"Yuk Om, aku dah kelar makannya." Ujar Dia.
Ssssttt.. Huuuu...
"Kenapa itu muka kek habis makan asem saja," cetus Dia.
"Apa kamu sengaja, ingin membuat ku terus mendesah." Ujar Adi.
"Apaan sih. Enggak jelas banget deh," sungut Dia.
"Lha, gimana tidak mendesah. Lihat ke bawah," titah Adi pada Dia.
Ups...
"Sorry."
Dia tertawa seakan-akan dirinya tidak melakukan apa-apa, sedangkan Adi langsung mengangkat kakinya.
"Dasar kau memang bocah tengil," seru Adi dengan kaki yang pincang, akibat diinjak oleh Dia.
__ADS_1
"Gak usah marah-marah, gitu saja udah lebay." Ucap Dia dengan suara santai.
"Apa kamu...."
"STOP!"
Tanpa menunggu Dia memotong ucapan Adi, karena jika di teruskan. Maka yang ada dirinya tidak akan berangkat bekerja, demi meladeni sang suami yang makin hari makin somplak.
"Apa kita akan seperti ini terus?" tanya Dia.
Adi pun langsung melengos keluar, lalu menyalakan mesin mobilnya.
"Dasar istri gak punya hati, udah nginjek tapi masih gak mau minta maaf. Huuf," Adi bergumam karena kesal Dia yang tidak pernah peka terhadapnya.
Brak.
"Astagfirullah. De, bisa gak ngagetin suami ini. Entar kalau suamimu ini jantungan terus mati gimana," cetus Adi terkejut karena Dia menutup pintu mobil dengan keras.
"Ya syukur dong, Om." Ucap Dia tanpa menoleh.
"Dasar mulut cabe," sungut Adi, karena beberapa hari ini telah di uji kesabarannya oleh Dia.
"Buat anak dulu, kalau mau warisan De." Ujar Adi dengan tatapan yang membuatnya merinding disko.
"Sekali mana jadi?" tanya Adi, dengan wajah yang berseri-seri.
"Emang kalau satu kali enggak bakalan jadi ya?" Dia balik bertanya dangan satu jari di letakkan di dagu.
Adi yang salah tingkah bingung cara menanggapi pertanyaan Dia, niat ingin menggoda agar mendapat buah kenikmatan untuk yang kedua kalinya, bukan itu yang di dapat malah ucapan bodoh yang ia dapatkan dan itu membuat Adi frustasi.
Beginilah kalau nikah sama bocah, nasib-nasib. Adi menyugar rambutnya dengan kasar.
"Bisa jadi kalau berkali-kali, apa kamu mau mencobanya." Ucap Adi dengan di iringi senyuman.
"Coba ulangi lagi," kata Dia dengan wajah sangarnya ia menjawab.
"Tidak, tidak jadi. Yuk berangkat," ajak Adi lalu dirinya langsung menjalankan mobilnya
Dasar macan tutul. Umpat Adi kepada Dia.
...----------------...
Di restauran cukup lumayan pengunjung yang datang, sehingga agak keteteran apalagi Dia belum mendapatkan pengganti Serly.
__ADS_1
"Elu jangan capek-capek nanti kita kena omel Pak bos lho," Indah memperingati Dia, agar tidak terlalu banyak bekerja. Karena itu bisa membuatnya dalam masalah jika sampai bos nya melihat istrinya bekerja terlalu berat.
"Alah lebay lu, orang biasanya juga gue kerja berat." Ucap Dia pada Indah tanpa menoleh.
"Sekarang status elu beda De, elu udah jadi bini orang yang punya tempat ini." Indah berkata sambil tangannya mengelap gelas dan piring.
"Lantas."
"Harusnya kan elu menikmati, dan gak perlu kerja kek gini." Ucap Indah.
"Kalaupun gue jadi istri orang kaya, terus gue lupa sama asal gue gitu. Enggak Ndah, gue gak akan lupa meski gue jadi istri orang kaya."
"Karena yang kaya suami gue bukan gue, jadi ya tetep gue harus bekerja dengan giat lagi. Apalagi gue nikah bukan di dasari oleh cinta tapi karena kecelakaan yang tidak disengaja," ujar Dia lagi menjelaskan.
Indah diam terpaku menatap sahabatnya itu, karena menurutnya jarang orang yang punya pikiran seperti Dia, apalagi jika seseorang itu berasal dari bawah lalu mempunyai suami kaya, bisa di pastikan perempuan itu akan lupa diri. Tapi di sini tidak dengan Dia, Dia menjadi sosok yang sama dan tidak berubah sama sekali.
Gue bangga punya sahabat seperti elu De, elu enggak pernah memperlihatkan kalau sebenarnya elu itu kaya. Batin Indah.
"Ya sudah yuk kita lanjut kerja. Lihat lah semakin sore semakin rame," Dia berkata dengan mata yang menyorot ke arah tamu.
"Iya, yuk." Jawab Indah.
Dan mereka bekerja melayani para pengunjung, karena restoran cukup rame dan padat oleh pengunjung.
Pukul empat sore, Dia masih belum beranjak dari pekerjaannya itu. Hingga salah satu karyawan menegurnya, jika jam empat di mana sif satu pulang semua dan kini tinggal Dia yang belum keluar dari tempat itu.
"Mbak Dia, pulang?" tanya orang pertama.
"Iya, ini kan udah waktunya pulang Mbak." Orang kedua menimpali.
"Pak Adi belum jemput jadi, yah daripada nganggur mending saya bantuin kalian." Terang Dia pada kedua karyawan tersebut.
Karena salah satu karyawan itu merasa tak enak dan kasian, akhirnya memilih pergi ke dapur lalu keluar lagi dengan membawa segelas jus di tangannya. Lalu di berikan pada Dia.
"Mba, ini di minum dulu." Karyawan itu memberikan gelas pada Dia, Dia pun menerima dengan senyum yang mengembang.
"Makasih ya," Dia pun berterimakasih padanya.
"Sama-sama Mbak, ya sudah kalau begitu saya kebelakang lagi." Dia pun mengangguk.
Jam berputar dengan cepat, hingga pukul lima lebih, Adi belum juga menjemput. Entah dirinya sekarang di mana bersama siapa dan melakukan apa? Karena Dia juga belum menelepon sang suami, ia takut kalau suaminya sedang sibuk. Karena tidak seperti biasanya Adi telat menjemput.
Kamu kemana sih, kok belum ada jemput. Sungguh menjengkelkan, umpat Dia dalam hati.
__ADS_1