
Haikal tidak membangunkan bos serta temannya itu, namun Haikal menungguinya sampai bos nya itu terbangun dari alam mimpi dengan sendirinya.
Namun ada yang mengganjal di hati Haikal saat matanya menangkap sesuatu dari dalam baju nya, terutama di bagian leher terlihat jelas jika itu adalah tanda kepemilikan.
Apa itu ulah Santi, atau sebelum Santi mencuri ciuman itu sudah terdapat tanda tersebut. Jika bukan Santi lantas siapa? bukannya bos nya itu belum menikah, karena selama ini Haikal merasa kalau bos nya itu tidak pernah memamerkan atau hanya sekedar berjalan-jalan dengan perempuan.
Seakan semua bercampur aduk dan memenuhi isi kepalanya karena memikirkan tanda merah yang ada di tubuh Adi.
"Baiklah sepertinya saya harus bertanya sama si bos, tentang itu. Apakah ada drakula ganas yang menggigit leher nya atau memang si bos tadi malam pulang dari jajan." Gumam Haikal.
Entah berapa lama, Haikal menunggu Adi yang tak kunjung bangun hingga, matanya menangkap sesuatu di atas meja. Tepatnya teh yang berada di hadapannya.
Tanpa meminta persetujuan sang empu, Haikal meminum teh itu hingga habis tidak tersisa.
Tepat saat isi gelas itu habis dan Haikal meletakkan gelas berada di asalnya. Adi menggeliat.
Hoam.
Adi menguap lalu matanya melirik ke arah jam yang bertengger di lengan kirinya.
"Hem, rupanya sudah jam setengah dua. Cukup lama juga ya saya tertidur di sofa ini." Ucap Adi berbicara sendiri.
Ekhem.
Adi menoleh dan mencari suara deheman berasal.
"Bagaimana bos, tidurnya nyenyak?" setelah mengetahui suara tersebut Adi membuang muka.
"Menurut kamu bagaimana?" tanya balik Adi, dan tetap masih membuang muka walau Adi menjawab dan bertanya balik kepada Haikal.
"Sepertinya nyenyak, sampai-sampai tidak terasa kalau ada drakula yang menggigit leher kamu bos." Ucapan Haikal sontak membuat Adi tersedak ludahnya sendiri.
Uhuk.
Uhuk.
"Mana ada drakula bodoh, memangnya ini flim yang berjudul zombi."
"Nyatanya ada bos. Kalau tidak percaya berkacalah agar percaya," Ujar Haikal memberi saran.
"Apa maksud kamu," Adi tidak mengerti dengan ucapan Haikal. Drakula, tanda merah, dan sepertinya Adi harus mengikuti saran yang di berikan oleh Haikan untuk berkaca.
__ADS_1
"Mau kemana Bos," tegur Haikal.
"Bukannya kamu menyuruh saya untuk bercermin, agar saya tahu dengan leher ini." Jawab Adi dengan wajah kesalnya.
"Kan ada ponsel Bos. Kenapa harus berjalan untuk ke kamar mandi," tukas Adi.
"Apa kau sengaja ingin mengerjaiku," ucap Adi.
"Tidak, itu kan hanya saran. Kalau ada yang gampang kenapa harus cari yang susah, betulkan."
"Kau benar-benar ya, membuatku ingin sekali menelanmu hingga tak tersisa." Adi *******-***** jemarinya karena tidak tahan dengan ocehan Haikal.
"Sabar Bos,"
"Jika kau masih berbicara lagi maka bogeman ini siap melayang di kening kamu." Mendengar Adi berbicara seperti itu, membuat Haikal langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Beberapa detik kemudian Adi sudah mendapatkan ponselnya, dan membuka layar kamera untuk melihat leher serta dadanya.
Glek.
Adi menelan ludahnya dengan susah payah, betapa bodohnya dia sampai-sampai tidak menyadari kalau leher serta dadanya di penuhi gigitan drakula seperti yang dikatakan oleh Haikal.
"Bagaimana Bos, apa kali ini bos dinginku itu bisa mengelak kalau sudah bermain-main dengan perempuan." Ucapan Haikal membuat Adi bertambah kesal dan melamparkan bantal kecil ke arah nya.
Pluk.
"Ye, gak kena." Ujar Haikal dengan wajah mengejek.
"Apa menurutmu aku ini seorang murahan," ucapan Adi membuat Haikal menoleh.
sepertinya obrolan mereka tidak menggunakan bahasa formal lagi.
"Yang tahu kan hanya kamu sendiri, jadi jangan bertanya itu padaku. Jika kamu tidak menebar pesona di dunia malam mengapa leher serta dada kamu, dipenuhi oleh gigitan drakula." Ucap Haikal.
"Siapa yang tebar pesona, aku punya istri ngapa harus ke tempat laknat itu." Jawab Adi dengan wajah tidak suka, karena ia di tuduh lelaki murahan.
"Kamu semakin ngawur, bukan kah istri kamu sudah lama meninggal. Lantas sejak kapan kamu punya istri lagi, jangan terlalu berkhayal." Ejek Haikal.
Meski Adi sudah menjelaskan tetapi tetap saja Haikal tidak percaya, dan sepertinya percuma saja dirinya menjelaskan kalau memang ia benar-benar mempunyai istri, dan bukan khayalan belaka.
"Terserah kamu saja, kalau memang tidak mempercayaiku. Yang terpenting aku sudah beristri," tukas Adi dan berkata untuk yang kesekian kali.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong itu leher gak di gigit sama drakula di tempat ini kan,"
"Apa maksudmu." Jawab Adi.
"Ini lihat lah," lalu Haikal memberikan sebuah foto yanf terpampang jelas di layar ponsel.
"Kenapa bisa begini, aku pun tidak tahu menahu soal itu Kal. Lagian saya tidur mana bisa aku bermain gila! sedang di rumah istriku sedang hamil."
Saat Adi menyebut nama istri, membuat Haikal sedikit mempercayainya. Namun jika itu benar betapa jahatnya Adi sampai-sampai Haikal tidak tahu dan tidak juga di beri tahu. Apa harus Haikal mempercayainya, sedangkan Adi belum memberinya bukti.
"Lantas apa ini Di, jika kamu tidak suka padanya mengapa di foto ini seakan-akan kamu menikmatinya." Haikal masih bersihkeras untuk foto itu.
"Sudah ku bilang, aku tidak tahu! posisiku tidur bagaimana bisa aku menikmatinya. Dan aku harap sekarang kamu menghabus foto itu," pinta Adi dengan sangat agar foto yang ada di ponsel milik Haikal segera di hapus.
"Baik. Aku akan menghapus, tapi aku mau bukti kalau benar kamu sudah mempunyai istri." Haikal mengajukan sarat pada Adi, dan itu bisa di buat senjata olehnya.
"Baik, aku akan memperlihatkan foto istriku sama kamu. Ini lihat lah," ujar Adi memberi tahu tentang foto istrinya itu.
"Ini beneran istri kamu?" tanya Haikal tidak percaya.
"Terus mau kamu seperti apa! kamu tidak lagi menghamili ini bocah kan?" tanya Haikal karena dirinya sulit untuk mempercayainya.
Terlihat masih bocah, apakah mungkin itu benar, kalau yang ada di foto itu istri dari bos nya sekaligus temannya. Akan tetapi bagaimana mungkin temannya itu bisa menikah dengan perempuan di bawah umur.
"Apa kamu sudah gila, karena menuduhku menghamili itu perempua. Orang buka segel baru bulan kemarin,"
"Apa!"
Ha.
Ha.
Ha.
Haikal tertawa terbahak-bahak dan melupakan tentang foto di mana Adi di cium oleh Santi.
"Terus saja tertawa sampai kamu benar-benar puas." Maki Adi lalu dirinya beralih duduk di kursi kebesarannya. Sedangkan Haikal tetap bertahan di kursi depan meja.
"Apa kau sedang menaksanya untuk bisa kamu nikahi," ucap Haikal dengan memainkan kedua alis nya dan di buat naik turun.
"Kejadiannya terlalu singkat, dan aku takut kalau kamu tidak berhenti untuk tertawa jika aku berkata juhur. Jadi, kamu sebaiknya tidak perlu tahu untuk itu. "
__ADS_1