Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
104. KETIKA DUA LELAKI BERKUMPUL


__ADS_3

"Makanan di luar tak seenak makanan yang kamu buat, itu mengapa suami mu ini memilih pulang dan akan makan di rumah." Jawab Adi dengan senyuman yang tersungging.


Maka seperti itulah kalau Dia menyuruh untuk makan di luar, jawaban yang sama dan tidak berubah dari dulu.


"Ya sudah yuk aku siapin," tukas Dia.


Setelah itu mereka langsung menuju meja makan dan Dia, segera menyiapkan piring dan mengambilkan makanan untuk sang suami.


"Kamu masak apa hari ini?" tanya Adi pada istrinya.


"Ini tadi aku masak makanan kesukaan kamu, udang crispy, tumis kangkung, dan sambil gak lupa kerupuk udang. Jawab Dia sambil menyebutkan menu apa saja yang ia masak selain tumis kangkung.


" Wah, jadi gak sabar pengen buru-buru buat makan." Dengan wajah berbinar-binar Adi berkata dan tak membutuhkan waktu lama, Adi pun langsung makan dengan lahapnya.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Sedangkan di rumah Haikal, tepatnya rumah pemberian dari Adi kado pernikahannya yang sudah beberapa tahun silam.


"Sayang, aku mau ke rumah Adi sebentar." Haikal pamit pada istrinya untuk ke rumah Adi yang jaraknya sangat dekat. Yakni hanya melewati satu buah rumah maka ia sudah sampai. Alasannya jika Adi membutuhkan dirinya, itu akan mempermudah pertemuannya.


"Pas," gumam Haikal karena saat dirinya akan membuka gerbang terlihat istri dari bos nya, sedang berada di pelataran rumah.


"Nona, apa bos ada?" dari balik gerbang Haikal bertanya.


"Ada! masuk saja." Jawab Dia.


Setelah itu Haikal masuk dan langsung ke dalam untuk menemui bos nya.


"Suami kamu ada di mana nona?" Haikal bertanya lagi.


"Sepertinya ada di dapur." Jawab Dia datar.


Haikal pun langsung menuju di mana bos nya itu berada dan benar saja, jika Adi sedang menikmati makanan yang tersaji di meja.


"Di," sapa Haikal yang langsung ikut duduk di sebelahnya.


"Kamu sudah makan?" Adi tidak bertanya kedatangan Haikal untuk apa? melainkan malah bertanya apakah sudah makan apa belum.


"Belumlah, ini masih jam berapa." Jawab Haikal dengan menahan jigongnya agar tidak sampai terjatuh karena, melihat menu yang sangat menggugah selera.


"Ya sudah buruan makan, mumpung biniku lagi masak banyak." Adi menyuruh Haikal untuk ikut makan dengannya dan Haikal tidak menolak.


Akhirnya Haikal mengambil piring dan ikut serta menikmati makan sore bersama Adi.


"Tumben kamu, ada apa?" tanya Adi tiba-tiba dan itu membuat Haikal menghentikan sendoknya yang sudah berada di bibir.

__ADS_1


"Soal kerjaan, jadi bagaimana? apa kamu menyetujuinya," ucap Haikal.


"Belum terpikirkan, tapi … lihat besok saja," timpal Adi.


Mereka berdua sudah selesai untuk menikmati hidangan yang dimasak oleh Dia, sekarang mereka sedang berada di taman belakang rumah. Menikmati semilirnya angin sore yang mulai terasa.


"Kal, boleh cerita sedikit." Haikal langsung menoleh ke arah Adi.


"Apa!"


"Kenapa istriku semakin hari semakin cantik ya, kamu tahu? itu membuatku semakin takut." Adi sedikit melonggarkan isi hatinya yang sedikit terasa sesak.


"Harusnya kamu bersyukur dong, kalau bini kamu makin tambah cantik." Jawab Haikal yang masih tidak mengerti arah pembicaraan lelaki yang berada di sampingnya.


"Kenapa kau sangat bodoh! sampai-sampai tidak tahu apa yang ku maksud," sungut Adi yang ternyata Haikal tidak tahu arah pembicaraan.


"Jadi … Maksud kamu…."


"Iya itu," sahut Adi tanpa ingin tahu apa yang akan dikatakan oleh Haikal karena Adi, terlanjur memotong ucapan Haikal.


"Kau jangan pelit, masa iya demi istri kamu berpikir kalau istrimu itu boros." Jawab Haikal enteng tanpa tahu permasalahan yang dihadapi oleh Adi.


Takh.


"Hey kenapa kau menyentil ku bodoh!" seru Haikal dengan sesekali mengusap keningnya.


"Berarti aku salah berucap ya?"


"Menurut kamu," ucap Adi.


"Ya sudah tinggal mengatakannya lagi apa susahnya sih." Jawab Haikal dengan enteng dan itu, sedikit membuat Adi menahan amarah.


"Udah lanjutin, kamu mau cerita apa?" tanya Haikal lagi yang sedang menunggu Adi bercerita namun tak kunjung mengatakan.


"Gak jadi karena mood ku sudah rusak karena kamu!" sergah Adi yang tak mau melanjutkan ceritanya lagi.


Yaelah, kamu ngambek?" Haikal tertawa karena melihat Adi bak anak remaja yang sedang merajuk.


"Enak saja, jaga ucapan kamu ya." Adi lalu menarik Haikal untuk berdiri dari tempat duduknya.


"Mau di bawa kemana aku," ucap Haikal bingung.


"Pulang sana! enek lama-lama lihat kamu," seru Adi yang mengusir paksa Haikal.


"Kalau mau ngusir yang sopan sedikit kenapa!" sungut Haikal.

__ADS_1


"Itu namanya bukan ngusir bodoh!"


"Oh iya, ya." Jawab Haikal dengan diiringi tawa.


"Jangan senyum tidak jelas, kalau kau seperti itu maka mirip dengan monyet."


"Sana pulang!" sergah Adi lagi.


"Dasar bos gila, aku doakan supaya Dia, cari yang lebih gagah." Haikal tidak terima dan menyumpahi Adi.


"Hye, begitu juga denganmu." Adi menyerang kembali perkataan Haikal.


Sedangkan di luar sana. Dia mendengarkan keributan hingga ia berniat untuk menghampiri mereka berdua.


Sesampainya di taman Dia melihat kedua pria dewasa itu saling ejek, saling maki dan saling menyerang.


Dia yang melihatnya ingin sekali melempar keduanya di kandang singa agar tidak bertengkar terus.


"Woy stop!" teriakan Dia yang sangat nyaring membuat keduanya berhenti seketika, untuk tidak saling ejek.


"Macan tutul datang," bisik Adi pada Haikal.


Haikal tidak menanggapi namun hanya tertunduk karena takut dengan kemarahan istri dari bosnya.


"Apa masa kecil kalian kurang bahagia maka bertengkar!" seru Dia yang saat ini sedang menatap kedua lelaki yang ada di depannya.


"Bahagia malah." Jawab Adi.


"Terus ngapain bertengkar, apa mau ku gantung di pohon tomat!" seru Dia pada mereka.


Seketika kedua lelaki dewasa itu mendelikkan matanya lebar-lebar. Bukan karena terkejut, melainkan keduanya sedang berpikir 'apa bisa pohon tomat untuk menggantung' seperti itulah, isi di dalam otak mereka.


"Kenapa kalian diam, huh! apa mau gue gantung beneran."


Keduanya menggelengkan kepala saat macan tutul mulai bangun.


"I–iya saya pulang," ucap Haikal terbata.


"Hye, hye. Kalau elu mau pulang ngapain malah kesitu, memangnya jalan keluar ada di situ!" teriak Dia pada Haikal, pamit pulang namun bukan pintu keluar yang ia lewati. Melainkan ke arah gudang.


"Maaf, rem nya blong." Jawab Haikal cengengesan.


"Terus ngapain kamu diam di situ juga?" mata Dia beralih menatap sang suami yang hanya diam sedari tadi.


"Nungguin kamu selesai marah-marahnya." Jawab Adi dengan tangan menggaruk kepalanya.

__ADS_1


"Dasar suami edan, masuk gak kamu!" gertak Dia dan seketika Adi pun masuk dengan cara berlari, ia tidak mau melihat kemarahan sang istri yang semakin menjadi.


__ADS_2