Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
BAB 63. Suami Luar Biasa


__ADS_3

"Oh Ani. Mengapa kau begitu tega padaku," Adi yang sudah tidak mampu lagi kini berakting untuk membuat sang istri berhenti menyiksanya.


"Oh, Roma. Aku masih ingin melihatmu menghabiskan cilok itu, dan jangan lah kamu membuat aku bersedih Roma." Dia mengikuti drama yang di buat oleh Adi.


Dia begitu senang dan merasa bahagia saat melihat suaminya memakan semua yang di belinya tadi.


"Sayang, perut suamimu ini sudah tidak mampu menampung makanan lagi." Keluh Adi, karena merasa kalau perutnya memang sudah tidak sanggup untuk menerima asupan lagi.


"Aku tidak mau tahu ya, pokoknya habiskan itu makanan. Di luaran sana banyak orang yang kelaparan dan tidak mampu membeli makanan. Jadi habiskan sekarang juga," sungut Dia dengan nada mengancam.


"I-iya sayang. Suamimu ini akan menghabiskannya," tukas Adi.


Lalu Dia meninggalkan Adi di dapur setelah mendapatkan rekaman vidio untuk di kirim ke nomor Indah.


Sedangkan Di dapur Adi mengumpat habis, dengan nasibnya akan siksaan dari istri kecilnya itu.


"Perutku bukan karung, kenapa harus langsung di habiskan sih." Adi mengomel sambil mulutnya terus di masuki oleh cilok.


Menghabiskan tiga porsi sekaligus itu bukan lah perkara gampang untuknya, karena memang porsi makannya hanya sedikit. Sedangkan ini, ini membuatnya ingin sekali dirinya menyerah.


"Hem, kesempatan mumpung Dia kagak ada." Senyuman licik mulai mengembang di sudut bibir milik pria yang menjadi istri Dia, selama satu tahun ini.


Adi buru-buru memasukkan makanan ke dalam kresek lalu membuangnya di tempat sampah yang tidak jauh dari tempat duduknya itu. Setelah itu dirinya berpura-pura sendawa agar istrinya tidak curiga kepadanya.


Tepat setelah Adi membuang semua makanan, Dia datang untuk melihat suaminya sudah menghabiskan semuanya atau tidak.


"Sayang, semua makanan sudah habis. Boleh suamimu ini sekarang pergi," ucap Adi dengan muka melasnya ia berkata.


"Mau kemana?" tanya Dia, karena sekarang sudah jam sembilan.


"Kalau suamimu yang ganteng, perkasa dan ruso ini tidak bekerja. Memangnya kamu mau gak dapat bulanan lagi," tukas Adi.


Selama menikah Dia tidak pernah tau tentang pekerjaannya yang lain, yang iya tahu hanya restoran tempat di mana dirinya bekerja.


"Kamu sudah menjanjikan madu, jadi jangan coba-coba memberiku empedu." Dia berkata dengan tatapan sinis.


"Maka dari itu, istri kesayanganku. Jadi suamimu ini meminta ijin untuk kerja," tekan Adi.


"Baiklah, sekarang berangkat lah. Jangan lupa nanti pulang tolong bawakan sate ayam untuk istrimu ini," ujar Dia. Lagi-lagi ingin di bawakan makanan.

__ADS_1


"Jangan bilang kalau harus suamimu ini yang akan memakannya nanti," ucap Adi dengan suara ketusnya.


"Om, jangan seudzon. Gak baik," ucap Dia menimpali.


"Baik, nanti ku bawakan."


"Terimakasih." Ucap Dia dengan senyuman manisnya, membuat Adi semakin gemas dan tentunya semakin cinta.


"Ya sudah, suamimu ini berangkat." Lalu Adi menyodorkan tangannya kepada Dia, untuk di ciumnya. lalu di balas kecupan di kening oleh Adi.


...----------------...


Suami Dia sudah pergi untuk bekerja, sedangkan Dia tadi menghubungi Indah untuk datang ke rumahnya. Dia menyuruh Indah untuk libur bekerja karena saat ini dirinya perlu teman ngobrol. Meski sebelumnya Indah menolak untuk libur bekerja karena takut akan di marahi nantinya, tetapi dengan penuh iba Dia memohon akhirnya Indah mau.


Dia menunggu Indah di teras, agar memudahkan Indah.


Tak berselang lama nampak Indah sedang turun dari ojek, lalu Dia menghampiri sahabatnya itu, dan memanggilnya.


"Indah," panggil Dia.


Indah menjawab hanya dengan senyuman.


"Yuk masuk." Ajak Dia pada Indah. Sedangkan Indah masih tidak memperdulikan karena dirinya masih terhipnotis oleh rumah megah milik Dia.


"Iya, Ndah syukur alhamdulillah." Dengan di iringi senyuman Dia berkata.


Setelah mereka berdua berada halaman belakang tepatnya di taman, Dia dan Indah masih asik dengan obrolan hingga Indah lupa akan pertanyaan yang sudah di siapkan.


"De, elu tadi nyuruh gue buat ke sini kenapa ya?" tanya Indah dengan dengan mulut masih di penuhi oleh makanan.


"Kalau mau ngomong alangkah baiknya jika elu kunyah dulu itu di mulut," sungut Dia.


"Maaf." Ujar Indah.


"Oh iya, elu tadi kenapa buat nyuruh gue ke sini." Ujar Indah.


"Eh iya, sampai lupa gue." Timpal Dia, karena iya juga melupakan tentang apa yang ingin di bahas, dan yang akan di tanyakan olehnya pada sahabatnya itu.


"Ya sudah cepet bilang," seru Indah.

__ADS_1


"Ini gue beberapa hari ini ngerasa ada yang aneh di diri gue." Ujar Dia menjelaskan.


"Tapi elu sehat, nyatanya elu masih bisa duduk dengan gue sekarang." Indah berkata dengan sedikit candaan.


"Dasar kampret elu, ya."


"Jadi gini ceritanya." Imbuh Dia lagi.


Lalu Dia menceritakan tentang keadaannya beberapa hari ini pada Indah, karena badannya tidak seperti biasanya.


Setelah Indah mendengarkan curhatan Dia, Indah jadi berpikir kalau Dia hamil. Terlihat dari ciri-cirinya Indah sangat yakin, kalau temannya sedang mengandung.


"De, lebih baik elu beli alat tes dah, karena gue yakin kalau elu sekarang lagi bunting." Indah mencoba memberi usul pada Dia, karena Indah sangat yakin. Jika mendengar penuturan dari temannya ia yakin kalau temannya sedang hamil.


Dia diam terpaku menatap wajah sahabatnya itu lekat-lekat, dan itu membuat Indah tahu apa yang sedang di pikirkan oleh temannya.


"Jangan menatapku seperti itu, jika elu ragu maka buktikan." Ujar Indah.


"Baik lah, nanti gue bakal minta laki gue buat mampir ke apotek untuk membeli alat tes."


Dengan sigap Dia mengambil gawai nya untuk mengirim pesan pada suaminya.


"Makasih ya Ndah, sekarang gue agak legaan." Dia tersenyum karena sekarang dirinya merasa hatinya tak sekacau tadi.


"Sama-sama, ini udah sore gue pulang ya." Indah berpamitan pada Dia, karena hari sudah terlihat mulai menunjukkan awan gelap. Jadi ia tidak mau sampai terjebak di rumah bos nya itu.


"Ya sudah hati-hati." Ujar Dia pada Indah.


Setelah kepergian Indah, kini Dia merasa kantuk. Hingga dirinya memutuskan untuk tidur sejenak sebelum suaminya pulang nanti.


...----------------...


PUKUL LIMA SORE.


Sayup-sayup terdengar seseorang memanggilnya, dan menggoyangkan bahunya juga.


Namun sepertinya mata Dia sudah di penuhi oleh lem G. Jadi dirinya sangat sulit untuk membuka matanya, walau dirinya mencoba memaksa matanya agar terbuka.


"Hujan, hujan." Teriak Dia , karena merasa dirinya sedang kebasahan oleh air hujan.

__ADS_1


Ha ... Ha ... Ha...


Adi begitu puas setelah mengerjai sang istri karena tak kunjung bangun akhirnya ia memilih jalan pintas untuk membangunkan istrinya.


__ADS_2