Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
83. Hukuman, Seminggu tanpa jatah


__ADS_3

Tok.


Tok.


Tok.


"Sayang buka dong," Adi mengetuk pintu berulang kali namu tidak ada jawaban dari dalam.


"Duh marah beneran ini." Gumam Adi sembari menyugar rambutnya dengan kasar.


Ceklek.


"Nih tidur kamar sebelah!" Dia membuka pintu hanya untuk memberikan guling lalu menutup lagi pintunya dengan keras.


Brak.


Adi tersentak saat pintu itu di tutup kembali oleh istrinya.


Ceklek.


"Oh ya satu lagi, tidak ada jatah dalam seminggu ini."


Pintu di tutup lagi, dan seluruh tubuh Adi melemas karena tidak ada jatah untuk untuk berjalan-jalan ke lembah favoritnya.


"Apes sudah tidak di kasih tidur, tidak ada jatah pula." Adi menghela nafas nafas panjang, lalu berjalan ke arah kamar sebelah.


Sedangkan Dia yang berada di kamar merasa puas telah memberikan hukuman pada suaminya.


"Salah sendiri pulang udah larut malam, eh udah gitu sudah mirip kek maling." Dengus Dia sembari melangkah kan kaki nya untuk menaiki kasur empuk itu.


...----------------...


Suara syair terdengar syahdu dari arah masjid, membuat Dia ikut terlena saat mata mulai di buka.


Dia yang sudah bangun lalu turun dari ranjangnya untuk menuju ke dalam kamar mandi, dan segera berwudhu.


Sekitar sepuluh menitan, Dia telah selesai melaksanakan sebagaimana umat muslim melakukan kewajiban.


Pukul lima pagi, suara ayam yang bersahutan dan disertai suara burung yang bernyanyi. Membuat Dia semangat untuk melakukan aktifitas.


Di dapur..


"Bu, Mak, lagi masak apa?" tanya Dia dengan senyuman yang terukir.di sudut bibirnya.


"Mau buat tumis kangkung sama goreng ikan lele." Jawab Bu Rosma.


Huek.

__ADS_1


Huek.


"De, kamu kenapa?" Mak Ita sangat kuatir terhadap Dia yang terus saja memuntahkan yang ada dalam perutnya.


Sedangkan Bu Rosma terus saja memijat tengkuk menantunya dan sesekali mengelus pundaknya.


Huek.


Huek.


"sayang kamu ada salah makan?" tanya Bu Rosma.


"Sepertinya tidak Bu, tapi setelah Ibu mengatakan soal kangkung tadi." Dia menjelaskan.


Setelah mendengar keluhan Dia Bu Rosma buru-buru mengambil dan membuang kangkung tersebut. Sedangkan Mak Ita membuatkan teh untuk De agar perutnya sedikit terasa enakkan.


"Mak besan sepertinya cucu kita tidak menyukai sayur kangkung," ucap Bu Rosma.


"Iya, Bu besan. Ya sudah karena De tidak bisa mencium kangkung kita masak yang lain saja," tukas Mak Ita.


setelah menimpali ucapan Bu Rosma, Mak ita memberikan segelas teh hangat.


Dia menerima gelas yang berisikan teh yang di buat oleh Mak Ita. Sedang Dia tidak enak, niat ingin membantu malah merepotkan para orang tua.


"Mak, Ibu, maaf ya. De jadi merepotkan kalian," ucap Dia pada Emak nya dan mertuanya meminta maaf, karena bukan membantu malah membuat gaduh.


"De lebih baik kamu duduk saja, dan jangan ikut Mak perang sama alat dapur." Mak Ita ikut menimbrung ucapan Bu Rosma.


Sedangkan Dia hanya mengangguk tanda bahwa mengerti.


Tidak terasa jam yang bertengger di dinding sudah berada di angka setengah tujuh.


Dan hari Ini De, akan meminta izin untuk bertemu sahabatnya Indah di restoran. Sudah lama mereka tak saling bertemu dan saling menumpahkan rasa rindu, jadi. Dia ingin menemui sahabat satu-satunya itu.


"De, bangunkan suami kamu, lekas kita segera sarapan." Bu Rosma menyuruh Dia untuk membangunkan suaminya, karena sudah waktunya untuk sarapan.


"Iya Bu." Setelah menjawab Dia langsung beranjak duduknya dan segera berjalan ke arah tangga yang berada di ruang keluarga untuk menuju ke kamar.


Sesampainya di depan pintu kamar, Dia membuka secara perlahan handel pintu yang ia pegang.


Ceklek.


Dia mengendap-endap untuk melihat suaminya yang berada di kamar sebelah akibat hukuman yang di berikan nya.


"Tampan." Satu ucapan yang terlontar di bibir De, saat melihat suaminya yang tertidur sangat pulas. Nampak kelelahan yang tercetak di wajah Adi, namun tetap saja tidak mengurangi ketampanannya.


"Suamimu ini sangat tampan, jadi jangan memandangiku seperti itu." Suara yang tiba-tiba membuat Dia langsung salah tingkah.

__ADS_1


"Siapa yang sedang memandangi kamu, selalu saja tidak berubah dengan tingkat kepedean mu itu, By." Dia mendengus karena ternyata suaminya pura-pura tidur hanya karena melihat dirinya yang mencuri pandangan.


"Itu kenyataan sayang. Mendekat lah daddy ingin mengelus anaknya," tukas Adi dengan wajah kas orang bangun tidur.


Dia tidak menolak dan mendekat agar Adi bisa mengelus perutnya yang mulai terlihat buncit.


"Hye anak Daddy, baik-baik ya di perut bunda." Adi mengelus dan mencium perut Dia yang mulai mengeras.


"Baik Daddy, aku gak akan nakal kok." Seolah-olah Dia adalah anak kecil lalu menimpali ucapan Adi.


"Bagus, Daddy suka itu." Untuk yang terakhir Adi menciumi seluruh perut De, dan itu membuatnya sangat geli.


"Hentikan By, geli." Namun ucapan De tidak di hiraukan.


"By aku sungguh geli," tukas Dia lagi.


Mereka akhirnya bercanda di dalam kamar dan menimbulkan keromantisan di pagi hari.


Dalam dekapan Adi, Dia merasa nyaman. Entah apa rencana tuhan sampai akhirnya mereka dipersatukan dalam ikatan tali pernikahan yang mereka juga tidak menyangka.


Benih-benih cinta tumbuh seiring berjalannya waktu, jika dulu Dia belum menyadari akan perasaannya pada Adi, tetapi sekarang rasa takut kehilangan itu hadir.


Adi dan Dia masih saja bercanda hingga lupa tujuan awal mendatangi Adi untuk apa. Sampai-sampai ke dua perempuan paruh baya itu jengkel di buatnya.


Di dapur.


"Mak besan, apa anakmu lupa untuk memanggil suaminya. Sampai-sampai ikut tertidur juga?" Bu Rosma mencoba membuka percakapan pada Mak Ita karena sedari tadi dua orang itu hanya diam.


"Sepertinya. Apa kita makan duluan saja," ucap Mak Ita menimpali.


"Kalau kita nunggu mereka turun, yang ada kita kelaparan." Bu Rosma mendengus kesal, karena yang di suruh untuk memanggil nyatanya ikut menghilang dalam dunia mimpi.


"Kita tunggu sepuluh menit, jika mereka tidak kunjung datang. Kita duluan saja," ujar Mak Ita.


"Baik lah, karena aku sudah lapar. Kalau kita menunggunya lebih lama lagi kita yakin, kalau kita bakal lemas akibat menahan lapar."


Akhirnya mereka berdua menunggu Adi dan Dia untuk turun sepuluh menit lagi.


Tang.


Tang.


Tang.


Suara sendok dan piring yang di mainkan oleh dua perempuan tersebut, sembari menunggu kemunculan anak dan menantunya. Sampai waktu yang di berikan pasangan suami istri itu tak kunjung menampakkan hidung. Jadilah mereka berdua memilih meninggalkan mereka berdua untuk sarapan terlebih dulu.


Sampai Mak Ita dan Bu Rosma selesai sarapan, mereka belum juga keluar.

__ADS_1


__ADS_2