
"Lagian ada apa sih Mak, panggil De." Ucap Dia dengan wajah tak bersemangat.
"Ini udah jam delapan, apa kamu tidak lapar." Ujar Mak Ita.
"Iya lapar," jawab Dia.
"Terus ngapain semedi di kamar," ucap Mak Ita.
"Baringan Mak, ya udah yuk makan." Tidak mau berdebat terlalu panjang dengan Mak nya, akhirnya Dia memilih mengajak Mak Ita untuk makan.
"Ya sudah. Ayo turun," tukas Mak Ita.
Lalu mereka berdua turun untuk makan malam. Walau di hati Dia ada yang kurang, namun suaminya sudah berpesan untuk tidak menunggunya, karena tadi pagi Adi sempat berkata kalau ia akan pulang malam. Mungkin bisa sampai tengah malam.
Saat Mak Ita dan Dia berjalan menuju dapur, terlihat Abangnya Dia sudah duduk manis di kursi meja makan.
"Kalian seperti bekicot saja," ujar Edo. bekicot itu ( siput) ya ges.
"Brengsek lu." Stelah Dia berkata lalu dirinya duduk.
Saat acara makan malam tidak ada yang bersuara di antara mereka bertiga, dan hanya terdengar suara dentingan sendok saat bertatapan dengan piring.
Makan malam telah usai dan kini mereka sudah berpamitan, untuk masuk ke dalam kamar masing-masing.
Kini tinggal hanya Dia yang berada di ruang TV, karena sudah berniat untuk menunggu suaminya pulang. Namun sampai pukul 22:00 suaminya belum ada pulang.
Kantuk yang kian mendera, dan tidak mampu untuk di tahan, karena semakin berat semakin dirinya tidak bisa melawan rasa itu, akhirnya mata itu terpejam juga.
...----------------...
KEESOKAN PAGINYA.
Dia sangat terkejut saat dirinya merasakan ada sesuatu yang menimpa perutnya, begitu berat sampai-sampai sedikit merasakan sesak. Dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka tangan yang semula melingkar di perut kini ia turunkan. Namun masih ada beban lagi di tubuhnya, karena ingin menggerakkan tubuhnya tapi sulit. Akhirnya ia membuka matanya lebar-lebar dan ternyata benar, sebuah kaki berada di paha Dia.
Sedetik Dia berpikir, karena merasa dirinya tidak tidur di kamar ini. Melainkan di ruang keluarga.
...Apa semalam di pindah sama Om suami. Sehingga sekarang gue ada di kamar? tapi kok gue enggak kerasa ya. Dalam hatinya ia terus bertanya-tanya....
Dia, mengangkat pelan kaki suaminya itu karena tidak mau sampai pemilik kaki tersebut bangun. Namun sayang belum sempat kaki itu di turunkan Adi sudah terbangun terlebih dulu, akibat pergerakan Dia.
"Sayang udah bangun." Adi berkata dengan suara khas orang bangun tidur, bukannya Dia menjawab malah menelamkan kepala di dada bidang suaminya.
__ADS_1
Adi merasa heran namun ia juga tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu, sehingga Adi pun membalas dengan pelukan yang begitu erat.
"Apa Om, yang memindahkan aku di kamar?" tanya Dia dengan rasa penasarannya.
"Tidak! kamu mengigau dan naik tangga semalam. Lagian kamu kan berat mana mungkin saya menggendong kamu," tukas Adi menjelaskan.
"Mana mungkin Om," sungut Dia tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh suaminya itu.
"Jadi kamu tidak percaya, kalau kamu mengigau lalu berjalan memanggil namaku." Ucap Adi dengan datar.
"Enggak sama sekali." Jawab Dia.
"De," panggil Adi.
"Hum." Jawab Dia.
"Saya kangen," ucap Adi.
Lalu Dia mendongakkan kepalanya agar bisa melihat wajah tampan suaminya itu, dan di tatapnya lekat-lekat.
Tidak ada jawaban dari mulut Dia. Sehingga tanpa aba-aba, Adi menempelkan bibirnya di bibir Dia.
Adi yang merasa mendapatkan kode kebebasan karena istrinya tidak berkata ataupun menolak, dengan segera melu*mat habis bibir Dia.
"De, boleh kah saya, menengok kecebong yang ada di situ." Ucap Adi lagi, karena biar bagaimana pun ia harus meminta izin untuk membuat anak kecebong tumbuh subur di dalam perut istrinya itu.
Sedangkan Dia tidak menjawab, hanya memejamkan mata, akibat sentuhan-sentuhan yan di peroleh dari tangan nakal suaminya.
Adi semakin semangat karena suara ******* lolos dari mulut Dia, ada perubahan dari istrinya namun itu akan di tanyakan nanti, karena sekarang ingin menikmati sarapan dengan menu pembuka yang sangat lezat.
"Sayang, bisakah kamu segera menuntaskannya. Aku tidak mau ya jika telat untuk shalat," sergah Dia.
Adi pun merasa kasihan tapi, rasanya sudah di pucuk ubun-ubun. Mau tak mau ia harus menuntaskannya.
Eum...
Ssss ... Eum. Dia melenguh saat kenikmatan itu mulai merasuki jiwanya.
Begitu pulang dengan Adi, pusaka yang ia banggakan kini telah mempunyai tempat berlabuh.
"Sayang ... Eum ... "
__ADS_1
Adi mau pun Dia sama-sama menikmati surga dunia yang di ciptakan di pagi buta oleh mereka sendiri.
Olah raga pagi pun telah di mulai sebelum sang mentari mengintip dari tirai jendela.
Ahhhhh..
Suara desan Dia mampu membuat Adi semakin bersemangat.
Dan bruk.
Adi ambruk di tubuh Dia, dengan rasa bahagia lalu menciumi seluruh wajah istrinya tanpa ada yang terlewatkan sedikit pun.
Sekarang beralih di perut Dia, menciuminya dengan perasaan haru.
"Sayang, junior Ayah. Baik-baik ya di perut Bunda," Adi berbicara sendiri seakan-akan dirinya sedang mengajak anak kecil berbicara.
"Dasar bodoh, belum juga bisa ngerespon." Maki Dia.
"Oh iya ya, lagian kenapa sekarang kamu berubah jadi macan tutul lagi. Bukannya kamu tadi sangat manis mirip kucing persia," ucap Adi dengan senyuman serta memainkan satu alisnya.
"Mengapa aku di samain seperti hewan sih, gak lihat ya kalau aku tuh manusia! menyebalkan." Setelah mengatakan itu, Dia segera bangun dan meninggalkan suaminya sendiri. Sedangkan dirinya berjalan ke arah kamar mandi untuk melakukan mandi wajib.
Sedangkan Adi, diam mematung karena dirinya salah ucap lagi.
Huf..
"Salah lagi kan." Umpat Adi.
Tapi baginya itu semua tidak masalah karena yang terpenting dirinya sudah sarapan dengan menu spesial. Pagi-pagi sudah di suguhi tahu bulat di goreng dadakan dan rasanya sungguh, Eumm.
Dalam hati Adi bersorak bahagia, karena pagi ini mendapat jatah yang jarang-jarang ia nikmati.
Dia sudah keluar dari dalam kamar mandi dengan keadaan rambut basah, dan sekarang Adi yang masuk ke dalam kamar mandi untuk bersih-bersih. Karena pagi ini ia masih di sibukkan dengan pekerjaannya agar cepat selesai dan bisa duduk manis.
PUKUL 5:30.
Dia keluar untuk membantu Mak nya, namun panggilan dari dalam kamar membuat dirinya berhenti untuk melangkah.
"Sayang, besok kita ke Dokter kandungan ya." Adi mengusulkan untuk secepat mungkin memeriksakan keadaan kandungan sang istri.
"Iya." Jawab Dia, lalu dirinya melanjutkan langkahnya untuk bisa sampai di bawah.
__ADS_1
Sedangkan Adi yang berada di kamar tengah membayangkan sesuatu. Dalam bayangannya kini dirinya duduk dan menikmati sesuatu.