
"Pohon apa memangnya?" tanya Cahaya yang mulai penasaran dengan sebuah kalimat yang terucap, dari bibir Dia.
"Pohon kacang." Jawab Dia dengan asal.
Seketika semua menatap ke arah Dia.
Mungkin dalam benak mereka. Mana ada pohon kacang bisa di buat menggantung. Sedangkan kacang merambat dan hanya mengandalkan sebuah akar, lantas bagaimana caranya untuk bisa di buat gantung?.
"Sayang, jangan membuat kalimat yang akan memecahkan kepala karena setiap rumus yang kamu katakan itu, selalu membuat otaku ingin pecah." Adi berkata sembari menyilangkan kedua tangannya dan menatap lekat, ke arah Dia.
"Kamu saya yang tidak bisa dan bodoh," ujar Dia mengatai sang suami.
"Mama mertua, aku pun sama dengan ayah. Aku tidak bisa memecahkan rumus yang kerap Mama berikan," ucap Riki ikut menimpali.
"Kalian memang bodoh semua." Setelah berkata Dia pun pergi meninggalkan mereka berdua, dengan kacang yang akan di buat menggantung.
"Dasar, selalu saja begitu." Dalam hati Adi mengumpat istrinya karena hanya sebuah ucapan, yang tidak masuk akal.
"Apa mama mertua serius ingin menggantungku di pohon kacang yang menjalar?" Dalam hati Riki juga bertanya-tanya.
"Apa kalian akan terus berpikir soal kacang yang menjalar bisa di buat gantung?" Tanya Cahaya dengan serius.
"Iya." Jawab mereka serempak.
Adi maupun Riki, sama-sama memikirkan hal yang sama. Sedangkan Cahaya tidak habis pikir dengan lelaki yang berada di sampingnya.
Kesal karena merasa di abaikan. Cahaya memilih untuk pergi menyusul sang mama yang berada di taman.
Cahaya sudah berjalan ke arah pintu belakang yang langsung menembus halaman rumah. Terlihat dari dari kejauhan jika Dia sedang memberi makan ikan-ikannya. Lalu, secara perlahan Cahaya pun menghampirinya dan ikut duduk di sebelah sang mama.
"Ma," tegur Cahaya.
"Iya," jawab Dia lirih.
"Kenapa wajah Mama seperti ada beban yang tertumpu?" Cahaya menatap lekat ke arah sang ibu yang sudah melahirkannya serta membesarkannya, hingga 18 tahun lamanya. Mungkin Cahaya juga merasa bersalah karena ia pun juga sama. Belum bisa menjadi anak yang baik dan belum bisa membahagiakan kedua orang tuanya. Namun, di saat dirinya sudah besar! Bukannya ia menyenangkan hati orang tua malah ia lebih dulu menikah.
"Kelak jika kamu sudah menjadi orang tua. Maka, kamu pun tahu? Jadi Mama tidak harus menjawab apa yang kamu pertanyakan barusan," ujar Dia pada Cahaya yang masih memandangnya dengan lekat.
Cahaya masih berpikir keras akan kalimat yang lolos di bibir sang mama. Yang ia tahu jika orang tua tidak akan rela jika sang anak menikah dengan usia muda.
__ADS_1
"Ma, aku minta maaf jika selama ini belum menjadi anak yang bisa berbakti pada Mama dan juga ayah." Cahaya memegang erat jemari Dia dengan sangat erat.
"Kami sebagai orang tua tidak meminta imbalan apapun untuk meminta jasa karena itu sudah menjadi, tugas kami bukan."
"Jika kamu belun bisa membahagiakan kami, doakan ayah dan Mama selalu sehat dalam menjali hari-hari di hari tua kami." Dia pun berucap lagi dan Cahaya hanya diam dan tertunduk. Merasa belum bisa menjadi anak yang di banggakan, Cahaya merasa malu pada kedua orang tuanya dan tentunya pada dirinya sendiri.
Seakan tahu apa yang ada di pikiran Cahaya akhirnya Dia mengelus lembut punggung sang anak.
"Sekarang lebih baik kita masuk untuk melihat para lelaki itu," ajak Dia pada Cahaya.
"Iya, Ma." Jawab Cahaya datar.
Setelah itu ibu dan anak akhirnya masuk ke dalam untuk melihat para lelaki, yang berada di dalam rumah.
Sesampainya di dalam Cahaya dan juga Dia hanya bisa mengelus dada akan ulah, kedua lelaki tersebut.
Dapur yang semula bersih dan rapi kini sekarang bagai tempat sampah. Semua berserakan di bawah.
Melihat keduanya duduk dan saling tatap membuat Di angkat bicara. Bagaimana bisa pria yang sudah berumur menjadi bocah seperti yang tidak pernah, main lempar-lemparan.
"Apa kalian sudah puas mainnya?" tanya Dia pada mereka dengan menyilangkan kedua tangannya.
"Bukan aku sayang, tapi dia." Adi suami Dia tidak terima dan menunjuk Riki sebagai pelaku utama.
"Kamu yang mulai duluan bukan," sergah Adi pada Riki yang masih menuduhnya.
"Aku hanya melempar kulit jeruk. Tetapi, Ayah mertua balas melempar dengan pisang. Riki pun sama halnya dengan mertuanya, sama-sama tidak mau mengaku.
"Selanjutnya kau melemparku dengan buku," ucap Adi yang masih kekeh tidak mau di salahkan.
"Kenapa harus aku yang di salahkan. Bukannya Ayah mertua yang terus menyerangku," ujar Riki membela diri.
Sedangkan Cahaya yang sudah pusing akan kelakuan ayah dan calon suaminya, hanya bisa mengelus dada. Sesekali mengeluarkan napas berat.
Sedangkan Dia sudah tidak kuat menahan amarahnya pada dua lelaki, yang teramat menyebalkan itu.
"Baik, sepertinya kalian memang harus benar-benar di kasih pelajaran, agar tidak seenak udel kalian, mengerti!" Dia sudah mengeluarkan asap tebal dari dua telinganya dan sudah siap, untuk menerkam mereka berdua.
"Aku tidak mau tahu, bersihkan semua ruangan ini! Sapu pel dan harus benar-benar bersih paham." Dia melirik mereka secara bergantian dan membuat mukanya segarang mungkin.
__ADS_1
"Sebelum saya pulang semua ini harus bersih dan tidak ada satu pun yang kotor, paham kalian!" gertak Dia pada dua lelaki itu.
"Ay, ikut Mama cari udara segar. Rasanya otak ku akan meledak!" ucap Dia dengan wajah yang sudah merah akibat menahan kekesalan pada manusia tukang rusuh di sebelah mereka.
"Kamu sih." Adi menyenggol Riki.
"Semua ini karena Ayah," ucap Riki.
"Saya tidak mau tahu, semua ini kamu yang harus mengerjakan." Adi berjalan hendak kembali duduk dan di cekal oleh Riki.
"Eh, eh. Gak boleh gitu dong," sergah Riki.
Belum juga Dia keluar dari rumah namu lagi-lagi kedua laki-laki itu, membuat kehebohan lagi.
GLONTANG.
PYARRR.
Seketika keduanya membungkam mulutnya.
Dia yang tak tahan akhirnya membanting panci dan melayangkan piring ke arah mereka, hingga pecahan piring berserakan.
"Jika kalian masih saja bertengkar maka aku tidak akan segan-segan menggantung kalian di pohon mangga, yang ada di belakang!" teriak Dia karena saking gemasnya pada dua laki-laki yang teramat menyebalkan.
"Jangan dong sayang, jika di gantung kamu kalau tidur jadi sendirian emang mau?" kata Adi.
"Aku tidak peduli dan kalau bisa mau ku sunat sekalian biar nyahok kalian."
"Eh jangan," ucap mereka bersamaan.
"Jadi gak bisa ***-*** dong," ujar Adi tanpa punya rasa malu. Sedangkan Dia sudah menahan malu akibat ucapan Adi.
"Kalian bisa tidak, kalau tidak membahas adegan di atas kasur. Apa kalian tidak kasian pada kita yang jomblo," ucap Riki dengan nada kesal.
"Derita kamu, awas saja jika kalian masih berantem. Maka aku akan marah melebihi ini," ancam Dia pada keduanya.
"Kami janji tidak akan berulah lagi." Jawab mereka berdua.
"Baik aku dan Cahaya mau pergi. Ingat! Bersihkan semua ini sampai benar-benar bersih." Setelah berkata Dia dan Cahaya beranjak dari dapur dan untuk keluar dari rumah dan entah, apa yang akan mereka berdua lakukan. Keduanya sudah berada di dalam mobil, sedangkan Cahaya sudah bersiap untuk bertanya.
__ADS_1
"Ma, kita akan kemana?" tanya Cahaya pada sang mama.
"Bersenang-senang sebentar sayang karena kalau kita berada di rumah, bisa-bisa kita akan menjadi gila." Jawab Dia dengan mengulum sebuah senyuman yang terukir di sudut bibirnya.