Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
126. BERAKHIRNYA KESALAHPAHAMAN


__ADS_3

"Perempuan itu adalah EO, untuk membantu acara saya yang akan saya selanggarakan nantinya. Namun, dengan waktu yang bersamaan Cahaya datang lalu menampar saya," ucap Riki menjelaskan perihal kesalahpahaman yang terjadi.


EO. Adalah singkatan dari (even organizer) yang membantu untuk acara-acara tertentu.


"Karena secepatnya saya akan menikahi Cahaya, dalam waktu singkat ini dalam bentuk keseriusan saya. Terhadap Cahaya," jelas Riki pada mereka semua dan seketika mata sembab milik Cahaya. Menatap nanar ke arah Riki, orang yang sudah dituduhnya selingkuh.


"Jadi, Om tidak pernah selingkuh?" ucap Cahaya dengan suara lirih namun semua masih bisa mendengar dengan jelas.


"Saya memang tidak pernah berselingkuh," ucap Riki menyakinkan Cahaya.


"Kamu serius dengan ucapan kamu itu," kata Dia karena baginya sungguh tidak menyangka, akan apa yang dilakukan oleh Riki Suseno.


"Saya serius dan tidak akan pernah main-main soal pernikahan karena itu adalah, suatu hal yang sakral." Jawab Riki tegas.


Sedangkan Adi yang merasa tidak enak karena suda membabi buta dan menghajar Riki, tanpa perlawanan sedikitpun. Membuatnya sedikit bersalah atas apa yang terjadi.


"Maaf karena sudah memberikan bogeman," ucap Adi pada Riki.


"Bukan salah calon ayah mertua melakukan itu...."


"Kau bilang apa barusan!" sergah Adi pada Riki dan untuk memastikan jika telinganya tidaklah bermasalah.


"Calon ayah mertua, apa ada yang salah." Riki mengulang ucapannya tadi.


Pakh.


Argh.


"Kenapa kau memukulku lagi!" seru Riki karena setelah berkata, dirinya mendapat pukulan lagi dari Adi.


"Kau belum menjadi menantuku, beraninya memanggil dengan sebutan 'Calon mertua' tidak sudi saya!"


"Dasar calon mertua durhaka," gumam Riki.


"Apa kau bilang sesuatu?"


"Tidak, Om."


Seketika Adi melempar tatapan tajam ke arah Riki.


Semua yang ada di ruangan pun menertawakan Adi yang di panggil 'om' oleh Riki.


"Diam!"


Mendengar suara bentakan dari Adi, alhasil semuanya diam dan tidak ada yang berani menatapnya. Walau itu tidak sengaja sekalipun.


"Sudah-sudah, sebaiknya kita makan karena cacing yang berada di perutku mulai berontak." Dia pun menengahi antara dua lelaki yang berbeda generasi dan mengajak untuk makan bersama.


"Baiklah sayang, aku menuruti ucapanmu itu." Adi pun menyahut setelah itu menjawab ucapan sang istri.


"Kalian duduk lah aku akan menyiapkan makan sore kita," kata Dia sembari berjalan dan melenggang keluar.

__ADS_1


"Makan siang kali, bukan makan sore." Rupanya Adi menyahuti sang istri yang masih belum benar-benar keluar.


"Hari ini sudah sore, jam siangnya sudah habis. Makanya mengapa aku bilang makan sore," ujar Dia sambil berlalu.


Semua orang yang berada di dalam akhirnya menepuk jidatnya masing-masing karena, kelakuan konyol dari istri Adi tersebut.


Sedangkan Riki dan Cahaya terlihat kikuk dan saling mencuri pandangan dan itu dilihat, oleh Rury yang tidak sengaja melihat keduanya.


"Om, bantu Tante nyiapin makan yuk." Rury sengaja mengajak Adi untuk keluar, dengan kedipan mata yang diberikan olehnya. Berharap orang yang di panggil om itu mengerti, dengan kode dari Rury.


Sepertinya Adi bisa menangkap kode dari Rury karena terlihat dari bibirnya, yang menyunggingkan senyuman.


"Baik lah, yuk kita kebelakang." Adi mengerti dan langsung berdiri dari sofa untuk memberikan ruang, untuk mereka berdua yakni. Riki dan Cahaya agar keduanya saling berbaikan.


"Kalian mau ke mana?" tanya Cahaya karena ayah dan Rury sedang berdiri dan siap untuk berjalan.


"Kami berdua akan membantu mama Dia. Jadi, kalian tetaplah di sini." Adi pun berkata dengan kaki yang sudah melangkah keluar, bersama Rury.


Sekarang hanya menyisakan dua orang saja. Dua orang yang menyudahi akan kesalahpahaman yang terjadi pada mereka.


Cahaya duduk dengan meremas baju yang dikenakannya. Seluruh tubuh Cahaya terlihat kaku karena saking groginya.


"Ay, saya minta maaf karena tidak bilang untuk ini," ucap Riki yang lebih dulu membuka percakapan.


"Harusnya aku yang minta maaf karena sudah terlanjur menuduh, Om." Cahaya adalah sosok gadis yang terbilang masih muda jadi pikir Riki, itu adalah hal yang lumrah. Namun, sebelum itu baiknya jangan mengambil kesimpulan yang akan membuat hubungan menjadi renggang, akibat dari korban kesalahpahaman.


"Tidak apa-apa. Lain kali jika ada yang mengganjal baiknya di bicarakan dengan hati yang dingin, serta pikiran yang tenang." Riki pun menerima permintaan maaf dari Cahaya. Orang yang selama ini mengisi hari-harinya dan memenuhi ruang di hatinya.


Sedang di dapur.


Dia membantu menyiapkan hidangan untuk keluarganya. Semua sudah siap tinggal menata di piring dan membawanya keluar.


"Terimakasih kalian sudah membantuku," ucap Dia ramah.


"Itu sudah menjadi tugas kami, Bu." Jawab karyawan yang sudah bersedia untuk membantunya.


Tidak berapa lama Adi dan Rury datang untuk melihat keadaan di dapur.


"Sayang, apa sudah semua?" tanya Adi pada sang istri.


"Sudah, By." Jawab Dia tanpa melihat ke arah suaminya.


"Aku bantu Tante," sahut Rury yang mengekori Adi dari belakang.


"Boleh, sekarang bawa ke depan agar kita secepatnya makan!" perintah Dia.


Setelah itu semua makanan sudah di bawa ke depan dan hidangan pun siap di lahap.


Akhirnya semuanya makan bersama dan dengan keadaan hening.


Perdebatan antara Cahaya dan Riki juga sudah terselesaikan dan menemukan titik terang.

__ADS_1


Hubungan akan terasa indah jika kedua belah pihak saling percaya dan saling jujur.


Seperti lagu yang berjudul. Jangan ada dusta di antara kita🥰


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hye teman-teman kesayangan semuanya. Author hanya sekedar memberi pengumuman. Kali saja berkenan untuk mampir ke karyaku, dengan judul: Cinta 150cm. Yuk kepoin karena Jodohku di tangan duda somplak akan tamat awal bulan ini ya.


"Natasya ... Bangun!" teriak perempuan dengan umur berkisar 40an.


"Mau jadi apa kamu! kalau jam segini belum bangun," omel sang bude lagi.


Natasya Ariani gadis (20). Dengan malas membuka mata saat sang bude membangunkannya, bukan karena malas namun ia terlalu lelah karena pulang dari bekerja dengan jam yang cukup larut.


Bukannya sang bude tidak tahu, sangat tahu akan pekerjaan ponakannya. Namun, terpaksa ia lakukan karena menurutnya seorang gadis tidak baik bangun kesiangan.


"Bude, Tasya masih ngantuk." Jawab Tasya dengan mata yang masih terpejam.


"Tidak bisa, kamu tahu ini sudah jam berapa? Ini sudah jam delapan. Mau jadi apa kamu kalau perempuan bangunnya sudah mau mendekati ba'da dhuhur," bude Rumi terus mengomel sampai keponakannya turun dari atas tempat tidur.


"Sekarang cepat bangun, atau tidak! Bude akan menyiram kamu dengan air satu ember." Bude Rumi mengancam Tasya agar cepat segera bangun.


Akhirnya Tasya atau Syah nama panggilannya. Kini, dia sudah bangun dan menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya.


"Eh, ini kenapa baunya kok aneh ya?" ucap Tasya lirih.


"Sepertinya bukan sabun cuci muka ... Tapi baunya seperti shampo," gumam Tasya lagi.


Tasya membuka matanya dan membilasnya agar bisa tahu apa yang sudah digunakan untuk mencuci mukanya.


Benar saja. Shampo berwarna hitam dengan botol berwarna hijau yang telah digunakannya.


"Sial, kenapa aku bisa tidak tahu kalau yang aku pakai bukan wardani sih." Di dalam kamar mandi Tasya mengumpat karena sudah salah pakai sabun.


"Tasya, apa kau bertapa dulu di dalam. Sampai-sampai harus membuat Bude menunggu!" suara dari luar kamar mandi terdengar begitu menggema.


"Sebentar Bude, Ini Tasya beri Doa dulu airnya!" sahut Tasya dari dalam kamar mandi.


"Memangnya Doa apa yang kamu berikan," timpal bude Rumi dari arah luar.


"Doa tolak miskin." Jawab Tasya sembari mencuci ulang mukanya dan berganti sabun cuci, dengan merek wardani.


Sedangkan di luar terlihat sang bude menghembuskan nafas kasar karena kelakuan keponakannya.


Tidak berapa lama Tasya sudah keluar dari dalam kamar mandi, lalu menatap bude Rumi yang sedang bersendakap dada di tembok, sebelah pintu.


"Mau ngapain Bude, kok diem di situ?" tanya Tasya dengan tampang bodohnya.


"Mau lihat orkes di dalam," sungut sang bude dengan wajah judesnya.


Seketika Tasya mendelik kan matanya, akan ucapan konyol dari orang yang sudah merawat dan membesarkannya dengan cinta, serta kasih sayang yang ia terima.

__ADS_1



__ADS_2