Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
BAB 66. Kedatangan Mak Ita, ( De Galau)


__ADS_3

Entah berapa lama Dia melamun tentang pekerjaan suaminya yang tidak ia tahu, hingga suara ketukan membuyarkan lamunannya.


"Ish. Siapa sih yang ketuk pintu pagi-pagi, kek gak ada kerjaan saja." Umpat Dia, namun ia tetap berjalan untuk membukakan pintu.


Ceklek.


Setelah pintu berhasil di buka, betapa kagetnya ia. Ternyata yang datang adalah Emak nya, Emak yang selalu di rindukan olehnya.


"Mak, De kangen." Ucap Dia dengan mata berkaca-kaca.


"Udah nikah sama mau jadi Emak, masih saja kek bocah." Mak Ita berkata dengan wajah ketusnya itu.


"Yaelah Mak, kumat dah penyakitnya." Ujar Dia.


"Suami mu mana, tumben sepi?" tanya Mak Ita.


"Iya tadi berangkat jam setengah tujuh, katanya ada urusan penting gitu." Jawab Dia.


"Ya sudah yuk Mak, masuk." Dia mengajak Emak nya masuk, dan membantu membawa tas yang lain. Namun Dia merasa heran, mengapa satu orang tasnya ada tiga.


Kenapa tas nya banyak, mirip kek orang pindahan. Gumam Dia dalam hatinya.


Dengan kerutan di jidat Dia bertanya untuk mengurangi rasa penasarannya.


"Mak, ini tas kok ada tiga?" tanya Dia pada Emaknya.


"Itu punya Abang kamu yang satu," tukas Mak Ita.


"Huh, mana orangnya kaga ada. Mak bohong ya," celetuk Dia.


"Tadi ada liat bakul cilok, mungkin masih ngantri." Jawab Mak Ita. Sedangkan Dia yang mendengar hanya ternganga dan tidak mampu untuk berkata-kata.


Bagaimana bisa lelaki dewasa mirip kek anak kecil, demi makan cilok rela mengantri.


Puf.


...Ada-ada saja tingkahnya, dasar udah tua tapi kelakuan kek anak SD. Ucap Dia dalam batinnya....


"Ada-ada saja," tukas Dia dengan menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah yuk kedalam." Imbuh Dia lagi.

__ADS_1


Akhirnya mereka berdua masuk, dan Dia juga mengantar Mak nya ke dalam kamar tamu.


Sedangkan Edo sepertinya masih di luar menikmati jajanan anak SD.


Tidak begitu lama terdengar suara Edo berteriak memanggil.


"Kampret, elu mau kagak." Edo menawari cilok yang di belinya barusan, Edo sengaja membeli dua bungkus untuknya dan untuk adik nya.


Tidak membutuhkan waktu lama, Dia langsung mengambil alih cilok tersebut dari tangan Abangnya.


...----------------...


Tidak terasa hari sudah menjadi sore. Pukul lima sore, Mak Ita, Dia , serta Edo sudah rapi dan kini mereka bertiga duduk di depan televisi.


"Bang, tumben ikut kesini?" tanya Dia pada Edo, karena Dia penasaran setiap di ajak kesini Edo selalu tidak mau, dengan alasan kerjaan.


"Rumah di bongkar De, jadi gue numpang tidur di mari." Jawaban Edo seketika membuat Dia melongo. Rasanya tidak mungkin kalau Mak nya merenovasi dengan uang bulanan yang ia kirimkan. secara merenovasi itu membutuhkan uang banyak.


"Suami kamu yang merenovasi," sahut Mak Ita. Sontak langsung membuat Dia langsung tersedak oleh minuman yang ia pegang.


"Mak,"


"Iya De, Mak tidak tahu apa-apa untuk itu, kemarin suami kamu datang dengan membawa bahan matrial dan lain sebagainya." Mak Ita memberi tahu semuanya dan tidak ada yang di tutupi, dan Dia pun merasa tidak enak.


Lama Dia terdiam memikirkan suaminya yang penuh misteri itu. Pekerjaannya ia pun tidak tahu, tapi mengapa suaminya bisa melakukan itu semua. Apa pekerjaannya seorang preman, dan memalak orang-orang. Atau suaminya itu seorang begal. Semua menjadi tanda tanya untuknya.


Obrolan mereka terhenti kala mendengar suara adzan di kumandangkan, mereka berhenti mengobrol dan berganti melanjutkan shalat berjamaah.


"De, shalat dulu. Biar abang mu yang jadi imamnya," ucap Mak Ita.


"Iya Mak."


Lalu mereka bertiga menjalankan sebagaimana islam mewajibkan umatnya, untuk menjalan kewajiban.


Sekitar sepuluh menit mereka sudah selesai


Bersujud dan menghadap ke arah kiblat.


"De, gue mau ke kamar ya. Nanti kalau makanannya sudah siap jangan lupa panggil," ucap Edo, lalu dirinya melangkah meninggalkan kedua perempuan itu.


"Iye." Jawab Dia.

__ADS_1


Mereka berdua memutuskan memasak untuk makan malam. Akan tetapi Dia rupanya tidak semangat untuk memulai aktivitas, entah mengapa dirinya tiba-tiba memikirkan sosok suaminya itu.


"De, kalau kamu bengong terus biarpun kamu menunggu sampai besok, itu ayam gak bakalan matang." Tegur Mak Ita, karena terlihat sedari tadi anaknya banyak melamun.


"Ya matang Mak, kan nunggu minyak nya dulu." Jawab Dia.


"Sepertinya kamu perlu melihat kompor itu," sungut Mak Ita dengan ucapan bernada kesal.


Akhirnya Dia menengok kompor tersebut dan.


"Bagaimana."


"Hehehe ... Maaf Mak, De khilaf."


Ck ... Ck.


Mak Ita berdecih karena saking kesalnya, bagaimana tidak kesal. Dia yang di suruh menggoreng ikan, nyatanya hanya menuangkan minyak tanpa menyalakan kompor.


"Lagi lamunin apa sih kamu," sungut Mak Ita.


"Gak ada Mak, ya sudah kita lanjut masak. Keburu suami De, pulang." Ujar Dia, dan ia tidak mau kalau Emak nya terus bertanya tentang kenapa ia melamun.


Tepat pukul tujuh malam De, dan Mak Ita sudah selesai memasak hidangan sederhana namun terasa nikmat di lidah.


Setelah menyelesaikan masak De, berpamitan untuk masuk ke dalam kamar nya. Mengecek gawai nya siapa tahu ada pesan masuk atau telepon dari sang suami. Nyatanya itu hanya angan-angan saja karena tidak ada panggilan atau pesan sesuai yang diharapkannya.


Di balkon dirinya berdiri menikmati angin sepoi-sepoi yang ada di luar, menghayati tentang perasaannya bersama angin malam.


Setelah mendengar pengakuan Mak nya, entah yang di rasakan Dia, perasaan kasihan atau memang dirinya sudah merasakan getaran cinta yang tumbuh oleh berjalannya waktu.


Yang pasti sekarang dirinya berharap suaminya akan pulang dan menemaninya menghirup udara malam seperti biasa.


*Gue gak tau ini perasaan cinta atau perasaan balas budi, tapi yang gue mau, Om suami segera pulang dan mengajakku bercanda seperti biasanya.


Maaf sampai di tahun pernikahan kita, Om suami belum nerima jawaban yang selalu Om tanyakan, sepertinya mulai sekarang gue harus bisa belajar untuk cinta sama Om*. Batin Dia.


Dia masih di bayangi oleh sikap Adi yang selalu perhatian, mengerti akan dirinya, dan tidak banyak menuntut. Namun belum puas untuk membuka memori itu, taba-tiba sebuah panggilan dari arah luar kamar membuyarkan lamunannya.


Huff..


Dia tidak menjawab, dan hanya menghela nafas lalu bergegas keluar untuk menemui pemilik dari suara itu, jika tidak maka mak singa akan menerkam. Siapa lagi kalau bukan Mak Ita.

__ADS_1


Ceklek.


"Kamu itu di panggil gak nyahut-nyahut, sengaja ya buat tenggorokan Mak Sakit." Mak Ita terus saja mengomel, dan dalam hati Dia terus mengumpat. Baru saja sehari di sini Mak nya udah berubah jadi Mak Singa, apalagi sebulan. Bisa jadi Queen lion.


__ADS_2