Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
141. MENDAPAT OLOKAN


__ADS_3

Pagi yang indah telah menyambut semua orang. Pagi-pagi semuanya sudah bangun karena hari ini adalah kepulangan Satria. Yah, Satria pulang sendiri tanpa orang tuanya. Karena Edo bersama istrinya sedang repot juga di kampung halamannya. Jadilah hanya Satria yang datang.


Pengantin baru juga sudah bangun. Dia menelisik semua anggota tubuhnya termasuk rambutnya, namun semua itu tidak ada yang aneh karena rambut yang terlihat kering dan cara berjalannya pun. Tidak seperti dirinya dulu.


Dalam benak Dia, apa mungkin mereka berdua belum melakukan malam pertama? Sedikit terlihat aneh namun Dia mencoba berpikir positif dan tidak membuat pusing kepala, akan hal itu.


Sedangkan Adi yang melihat wajah menantunya sedikit tertawa dalam hatinya. Karena ia yakin kalau Riki tidak melakukan ritual wajib di malam pengantin.


Mendapat tatapan aneh dari orang dari Cahaya. Membuat Riki sedikit salah tingkah. Riki yakin jika mertuanya sedang menertawakannya, yang tidak jadi bermain bola sodok. Karena kepolosan sang istri yang tak mengerti dengan kode, yang telah disampaikannya.


"Pasti ayah mertua sedang menertawakan aku. Ah sial banget hidupku," dalam hati Riki meratapi nasibnya.


Sedangkan Cahaya juga merasa heran dengan tatapan sang mam kepadanya.


"Ma, kenapa Mama menatapku seperti itu?" tanya Cahaya yang merasa risih akan pandangan dari kedua orang tuanya.


"Eh, tidak. Tidak ada apa-apa kok, tumben sudah bangun?" tanya Dia putrinya.


"Iya. Karena denger kalau bang Sat akan pulang makanya aku bangun lebih awal," ujar Cahaya pada sang mama.


Ya sudah kalau begitu bantu Mama untuk menyiapkan sarapan, untuk kita semua." Dia pun mengajak Cahaya untuk memasak karena sekarang sudah pukul enam pagi.


Sedangkan kedua pria dewasa itu duduk di ruang keluarga sambil menikmati secangkir kopi yang sudah di buatkan oleh Dia. Beserta pisang gorengnya.


"Apa kau semalam tidak bisa membuka segel putriku," ejek Adi pada Riki dan seketika Riki tersedak oleh minuman yang berada ditangannya.


Uhuk.


Uhuk.


"Jangan pura-pura tersedak untuk menghindari ucapanku." Dengan senyuman menyingrai Adi terus mengejek Riki yang tak lain, adalah menantunya sendiri.


"Jangan sok tahu Ayah mertua, memangnya kau tahu semalam aku bercinta dengan anakmu atau tidak." Riki pun menyela bahwa dirinya memang tidak jadi memainkan bola sodok karena Cahaya masih tidak mengerti.


"Alah, orang bohong dengan tidak itu terlihat. Dan kau pun sedang berbohong," ucap Adi dengan senyuman yang membuat Riki semakin bertambah kesal.


"I-itu karena kami sudah lelah," ucap Riki yang masih tidak mau dibilang gagal dalam acara malam pertama.


Hahahahaha.


Tawa Adi semakin menggelegar karena dugaannya benar adanya.


"Kau tahu. Aku dan mama mertuamu semalam sudah sampai di dua ronde, itu pun sejujurnya masih kurang."


GLUK.


Terdengar suara Riki menelan ludahnya sendiri saat dirinya mendengar apa yang dikatakan oleh ayah mertuanya. Bagaimana bisa lelaki yang berada di dekatnya dengan usia yang hampir setengah abat itu. Menghabiskan malam panjang, sedangkan yang menikah dirinya tetapi belum melakukan malam pertama.


Sungguh menyebalkan bukan.

__ADS_1


"Dasar kau mertua mesum." Riki pun kehabisan kata-kata hingga pada akhirnya, mertuanya lah yang menjadi sasaran.


"Bodoh amat, yang penting semalam dua ronde." Adi terus saja mengolo-olok menantunya itu. Tujuannya semakin bertambah panas karena Adi memang suka sekali menggoda Riki.


Saat Riki akan menyerang balik mertuanya. Terlihat Satria baru saja keluar dari kamar tamu dengan wajah bugarnya. Sepertinya ia baru saja selesai mandi.


Bertepatan dengan datangnya Satria. Pintu depan terbuka dan dan sepertinya ada yang masuk.


Adi yakin jika itu adalah Haikal.


Dan benar saja sosok itu adalah Haikal.


"Wah … Ada yang sedang bersantai sembari meminum kopi, ngomong-ngomong ada yang dilupain nih." Haikal langsung membuka suara sehingga ketiga pria itu langsung menoleh dan menatapnya.


"Kalian kenapa menatapku seperti itu? Apa ada yang aneh," ujar Haikal lagi.


"Kau seperti setan saja! Pulang tidak di antar datang tidak di jemput," ucap Adi dengan suara nyaringnya.


"Maaf, udah terbiasa sih." Lalu Haikal tertawa.


"Ada apa ke sini pagi-pagi. Bini ku belum kelar masaknya jadi jangan minta makan," tutur Adi pada Haikal.


"Sialan kamu, kamu tahu? Dari dulu sampai sekarang kamu tidak pernah berubah. Tetap saja somplak," kata Haikal sembari meletakkan bokongnya di sofa.


Sedang Riki dan Satria masih setia mendengarkan obrolan teman lama ayah mertuanya, untuk sebatas menyapa dirinya masih terlalu sungkan karena baru kenal sewaktu. Ijab qobul dirinya dan Cahaya dilakukan.


"Hye pengantin baru, bagaimana tadi malam. Lancar?"


"Lancar." Jawab Riki datar karena sesungguhnya ingin sekali dirinya pergi dan menghindari para lelaki berotak mesum tersebut.


"Kal, diam lah dulu. Di sini ada bocah jangan sampai ucapan kamu membawanya ke hal buruk," ucap Adi memperingati sahabat lamanya itu.


"Yes, akhirnya ada juga yang memperhentikan ucapan yang tidak bermutu ini." Dalam hati Riki bersorak gembira karena tidak akan ada lagi pembahasan seperti ini.


Sedangkan Haikal melirik bocah 17tahun tersebut dan mengangguk paham.


"Ada apa?" Adi pun sedikit penasaran dan memilih untuk bertanya langsung.


"Aku akan tetap di sini dan tidak akan kembali ke rumah orang tuaku." Dengan nada lesu Haikal berkata.


Adi sedikit terkejut dengan ucapan Haikal yang tidak akan kembali lagi di mana rumah yang sudah bertahun-tahun ia tempati, lalu tiba-tiba memutuskan untuk meninggalkannya.


"Apa ada masalah?" Adi menatap lekat ke arah Haikal. Entah masalah apa yang sudah di hadapinya untuk saat ini. Karena Adi yakin jika keadaannya sedang tidak baik-baik saja.


"Nanti kamu bakal tahu. Untuk sementara aku dan Indah akan berada di sini sedangkan Faisal akan tetap di sana karena, tanggung jika pindah ke sini juga. Sekolahnya tinggal satu tahun lagi jadi aku membiarkan dia untuk tetap di sana," ujar Haikal yang memberi penjelasan soal anaknya pada Adi.


Untuk saat ini. Keadaan sedikit berubah, saat Haikal tiba-tiba datang.


"Bagaimana dengan usahamu di sana. Lantas siapa yang mengola jika kamu berada di sini," ucap Adi karena mengingat usahanya di sana jika pemiliknya tidak ada lantas siapa yang akan memegangnya pikir Adi kira-kira seperti itu.

__ADS_1


Sedangkan orang yang di tanya hanya dia dan tidak berkutik sama sekali. Namun, terlihat dari raut wajahnya Haikal sepertinya sedang menahan sesuatu karena tangan yang mengepal. Dan wajah yang berubah sedikit dingin tidak seperti saat-saat dirinya datang.


Yang ada di pikiran Adi saat ini, Haikal sedang terpuruk dengan masalah usahanya. Adi yakin jika Haikal mengalami kebangkrutan tapi itu hanya praduga nya saja.


Keadaan tiba-tiba hening saat Dia, istri Adi berjalan menghampiri orang-orang ada di ruang tengah.


"Sayang ajak lah mereka sarapan," ucap Dia pada suaminya dan menyuruhnya untuk mengajak semuanya sarapan.


"Iya sayang." Jawab Adi saat Dia menyuruhnya.


"Mana Indah, kenapa tidak diajak ke sini sekalian!"


"Indah masih masak, aku memang sengaja datang ke sini sendirian." Haikal menjawab dengan sebuah senyuman kecil yang terlihat dari sudut bibir Haikal.


"Baiklah, nanti saja aku akan ke sana sekalian ingin mengajaknya keluar." Ucapan Dia mendapat anggukan dari Haikal.


"Sekarang lebih baik kita sarapan," perintah Dia pada semuanya.


Akhirnya semua orang kini berada di meja makan untuk menikmati menu sarapan yamg di masak Dia dan juga Cahaya.


Dia pun mengambilkan makan untuk suaminya dan diikuti oleh Cahaya.


"Terimakasih sayang," ucap Adi pada sang Istri.


"Ay, makasih." Riki pun mengucapkan kalimat itu karena ini kali pertamanya. Makan pun di layani oleh Cahaya yang baru kemarin resmi menjadi istrinya.


"Sama-sama." Jawab Cahaya lalu dirinya pun mengambil nasi beserta lauk untuknya sendiri.


Sedangkan Dia masih meladeni Satria dengan cara diambilkan juga sama seperti suaminya. Dan setelah itu barulah dirinya yang mengambil.


Kini semua orang diam tak ada yang berbicara karena semua fokus terhadap piringnya masing-masing.


Tidak berapa lama semua orang telah menyelesaikan sarapan. Sekarang menyisakan Cahaya dan Dia untuk membereskan piring kotor yang ada di meja.


"Ay, semua itu tolong bersihkan ya. Nanti biar Mama yang mencucinya," titah Dia pada Cahaya.


"Iya Ma." Jawab Cahaya. Lalu seperti yang di perintahkan Cahaya mengambil satu persatu piring bekas makan semua orang. Dan meletakkan di wastafel.


Sedangkan semua para lelaki ada di taman belakang untuk sekedar mengobrol dan entah apa yang mereka bahas. Hanya mereka yang tahu.


Dua wanita yang berada di dalam. Telah selesai membereskan semua pekerjaan yang ia lakukan saat ini.


Klunting.


Saat sedang mengelap meja suara pesan masuk dari gawai milik Dia bunyi.


"Ma, sepertinya Hp. Mama bunyi," ucap Cahaya.


Dia buru-buru mencuci tangannya untuk meraih gawai yang ada di meja makan.

__ADS_1


"Indah,"


__ADS_2