
Hampir setengah jam lamanya, mereka bertarung di atas ranjang. Semakin lama semakin membuat mereka menjadi.
"By, aku lelah. Sekarang By ya yang ada di atas," suara lemah dan nafas yang tidak lagi beraturan. De meminta suaminya untuk memimpin nya di atas kasur.
"Baik lah sayang, aku akan mengambil alih peperangan ini." Setelah berkata Adi langsung menimpa tubuh ramping milik Dia.
Memainkan Lollipop yang ada di atas gunung, serta memainkannya. Semua itu membuat Dia bertambah tak karuan, rasa nikmat yang di ciptakan oleh suaminya membuat dirinya terus mengerang.
Kini Bibir Adi tepat di bawah, di mana lembah surgawi itu berada. Adi menghirup dalam-dalam aroma yang menurutnya itu akan membuatnya candu.
Setelah puas menghirup aroma dari lembah surgawi. Adi menciuminya dengan rasa nikmat dan sesekali menjilati.
"Nikmat," gumam Adi dengan mata terpejam.
Ahhhhh.
Eummmm.
Dia terus saja mengerang, menikmati perlakuan Adi yang lembut.
"By ... Aku ... Ti-tidak tahan," suara terbata dan nafas tersengal akibat rasa yang di berikan oleh Adi, Dia yang tak bisa menahan meremas rambut Adi yang berada di bawah pah*nya.
Setelah menikmati dengan cukup lama, Adi langsung menancapkan junior kecil itu dengan pelan, karena ia takut kalau sampai menyakiti calon anak nya.
"Sayang aku ... Eum, sudah tidak tahan." Adi mengerang tanda jika ia akan menyemburkan lava ke dalam lembah milik istrinya.
Ahhhhhhh.
BRUK.
Adi ambruk di tubuh sang istri, keduanya sama-sama di banjiri oleh keringat. Keringat keperkasaan dan keringat pengabdian sebagai seorang istri.
"De, terimakasih. Kali ini aku merasa sangat bahagia," ucap Adi.
Cup.
Lalu mencium kening istrinya lalu ia berpindah tempat, karena tidak mau calon anak nya merasakan sakit akibat tertimpa tubuh dari calon Ayah.
__ADS_1
"Iya By, aku juga merasakan hal yang sama." Jawaban Dia membuat Adi semakin bertambah bahagia.
Cup.
Adi memiringkan tubuh nya agar sejajar dengan istrinya, setelah itu ia mencium bibir tipis milik Dia.
"Ya sudah yuk tidur," ajak Adi sembari meletakkan lengannya dan menepuknya. Agar Dia memakai sebagai bantalan untuk kepalanya.
"Iya By, aku lelah dan ingin segera istirahat." Jawab Dia.
Tanpa mengenakan pakaian sehelai pun, mereka akhirnya terlelap di bawah selimut yang menutupi tubuh polos mereka berdua.
Jika Dia sudah terlelap, tapi tidak dengan Adi. Ia masih terjaga, dan ingatannya membuka memori yang sudah tertutup lama itu.
Dulu saat istrinya bertemu dengan teman-temannya apalagi berbeda kelamin, ia akan marah dan sangat marah. Tidak perduli akan istrinya kecewa bahkan marah dengannya.
Sekarang berbeda terbalik, rasa takut jika istrinya marah terlalu besar, jadi ia berusaha untuk menjaga perasaan De. Walau sebenarnya ada sejumput rasa sakit ya di rasakan nya.
Entah ini rasa cinta yang terlalu besar atau rasa tidak mau kehilangan. Atau bisa jadi dua-dua nya.
Dengan pelan Adi mengangkat kepala sang istri dan di letakkan di bantal secara perlahan. Agar tidak sampai terbangun.
Menatap ke arah langit yang di penuhi oleh bintang yang bertaburan. Bulan yang begitu cantik, di pandanginya dengan mata telanjang. Seakan sekelebat bayangan istrinya berada di atas sana, tersenyum bahagia sedang menatapnya.
Saat dirinya masih menatap sang rembulan, tiba-tiba saja sebuah pelukan dari belakang. Membuatnya sedikit terkejut.
"Kenapa meninggalkan ku sendiri," ucapan Dia seketika membuat Adi mengulas senyuman.
"Sejak kapan istri kecilku ini manja. Hum," perkataan Adi membuat Dia langsung mendengus kesal, karena bukan jawaban seperti itu yang ia inginkan.
"Apa tidak boleh, atau jangan-jangan kamu maunya aku manja sama orang lain ya." Setelah Dia menimpali, dan di saat itulah Adi memutar tubuh nya sehingga mereka berdua saling berhadapan.
"Jika berani maka aku akan membunuhnya, karena kamu hanya boleh bermanja dengan aku saja, bukan dengan orang lain atau pun Bang Edo." Tekan Adi, dengan nada mengancam.
"Mana pernah aku begitu," sungut Dia.
Boro-boro bermanja-manja sama Abang nya, yang ada dirinya dengan saudara laki-laki nya akan berantem terus, karena mereka tak pernah akur. Satu rahim namun berbeda karakter.
__ADS_1
"Bagus kalau begitu," ujar Adi datar.
"By,"
"Hem." timpal Adi.
"Aku ngantuk, bahkan ini masih jam setengah dua belas malam. Apa Hubby gak mau nemenin aku tidur lagi," ucap Dia dengan penuh harap suaminya mau menemani untuk tidur lagi.
"Baik lah suamimu yang baik ini akan menemani istri dari Adi yang sangat manja, namun aku suka." Setelah berujar Adi mengangkat tubuh ramping istrinya dan masih berbalut selimut. Lalu berjalan ke arah king size dan meletakkan istri kecilnya itu di atasnya dan di susul oleh Adi.
"Ya sudah sekarang tidur ya," ucap Adi.
"Jangan di tinggal lagi, aku mau By. Tetep di sini," Dia meminta pada suaminya agar tetap menemaninya hingga esok pagi.
"Aku akan selalu menemani kamu De, sekarang tidurlah, dan untuk barusan maaf. Tadi sedikit gerah dan AC tidak bisa membuatku menolongnya makanya aku tadi keluar untuk menghirup udara." Kelit Adi, sedikit berbohong tidak akan membuat berdosa pikir nya.
Dia yang di ajak berbicara hanya diam tanpa menyahut, saat Adi menoleh ternyata istrinya sudah hilang dan pergi ke alam mimpi.
Rupanya sudah tidur, apa dia sengaja ingin membuatku sakit kepala! oh lihat lah tubuh polosnya itu, membuatku ingin lagi dan lagi. Batin Adi frustasi. Pasalnya tubuh polos milik Dia terekspos dengan jelas, saat selimut itu itu tak menutupi gunung kembar yang menjadi lahan favoritnya.
Tidak ingin otak nya semakin berkeliaran, Adi langsung menutupi gunung yang terpampang jelas di depan mata.
PUKUL 4 PAGI.
Pagi yang indah telah membangunkan anak adam, di tambah suara merdu dari arah masjid membuat Dia bergegas bangun.
Dia buru-buru bangun karena akan mandi wajib, namun sayang saat dirinya akan bangun sebuah pelukan membuatnya sedikit tersentak.
"By, apa yang kamu lakukan. Lepaskan aku mau bersih-bersih," Dia memohon karena ingin segera mandi lalu shalat.
"Sayang aku tidak tahan," suara bisikan dari arah belakang membuat Dia merinding.
"Ta...."
Belum selesai Dia berkata, dan akan menolak. Namun kedua tangan kekar itu telah berada di dua gunung sekaligus dan itu membuat Dia bergairah hingga suara ******* itu lolos dari bibir nya.
Ahhhhh.
__ADS_1
"Sayang, semua ini membuatku candu." Ujar Adi berkata dengan lirih.
Pagi yang syahdu kini menjadi gelora yang membara akibat pergulatan mereka di pagi hari.