
"By, kamu mau apa." Ucap Dia bingung.
"Diam lah, sekarang kamu cukup diam dan menikmati aroma yang menenangkan ini.
" Ini sudah jam setengah lima By, nani aku telat." Keluh Dia pada suaminya.
Adi tidak menghiraukannya, lalu meletakkan istri kecil nya itu di bathtub dengan aroma kesukaan Dia. Bau harum aroma bunga lavender membuatnya sedikit tenang.
"Aku ingin mandi sekarang keluarlah," titah Dia pada suaminya.
"Aku kan sudah keluar tadi, dua kali lho malahan." Ucap Adi dengan tampang bodoh nya.
Dasar otak! isinya kasur mulu, seru Dia dalam hati.
Ck ... Ck.
"Maksudku bisa kah kamu keluar dari kamar mandi ini wahai suami ku yang perkasa," sungut Dia dengan menahan kekesalan pada suaminya itu.
"Oh, kirain mau di keluarin lagi." Ujar Adi dengan tawa kecil.
"Dasar edan! otak ngeres mulu," Gerutu Dia.
"Kamu bilang sesuatu?" tanya Adi.
"Keluar sekarang!" Bentak Dia karena stok kesabarannya sudah habis.
Akhirnya Adi keluar, dan meninggalkan Dia di dalam kamar mandi.
Tak lama kemudian Dia sudah selesai dengan mandinya, dan akan menjalankan sebagaimana umat muslim untuk mewajibkan shalat.
Pukul Lima pagi, Dia sudah turun dari kamar. Namun sebelum turun ia mengeringkan rambut nya agar tidak mengundang banyak pertanyaan.
"De, mau sarapan pakai menu apa?" tanya Mak Ita.
Sedangkan Dia bingung, semenjak hamil dirinya sudah kehilangan nafsu makannya, dan lebih banyan mengemil dari pada makan makanan yang langsung mengenyangkan.
"Gak tau Mak, terserah Mak mau masak apa." Ujar Dia berkata, sembari duduk menikmati jajanan pasar yang di beli oleh Mak nya.
"Sayang kenapa nggak bangunin aku," ucap Adi berkata pada istrinya, dan kedatangannya di dapur secara tiba-tiba membuat Mak Ita dan Dia cukup terkejut.
"Kamu nya dengkur, aku gak jadi bangunin kamu By, takut ngeganggu makanya aku keluar sendiri." Jawab Dia santai.
Mak Ita menatap heran ke arah suami dari anak nya tersebut, kari pagi-pagi buta sudah rapi, rapi bukan mirip seperti pekerja kantoran, atau hanya sekedar bertemu rekan bisnis. Rapi bak anak muda yang akan mengadakan kencang dengan sang pujaan hati, kira-kira seperti itu lah.
__ADS_1
Adi tak menimpali lagi, melainkan ikut bergabung dengan istri dan mertuanya.
"Sayang kamu ke resto tidak?" tiba-tiba Adi bertanya soal kedatangannya ke resto. Apa suaminya itu sudah pikun kalau hari ini ia sudah berjanji untuk ke dokter kandungan.
"By, kamu lupa apa berlagak pikun. Kamu inget kan kalau hari ini kamu akan mengantarkan aku," ucap Dia dengan tatapan kesal nya.
"Memangnya aku ada bilang begitu." Ujar Adi menimpali.
"Kamu sungguh menyebalkan ya, apa sih yang ada di pikiran kamu itu By." Dia merajuk karena suami dewasanya itu melupakan janjinya.
Melihat Dia yang kesal Mak Ita pun menengahi agar anak nya tidak merajuk lebih dalam lagi. Orang hamil lebih cenderung sensitif kalau bukan kita yang menjaga perasaannya.
"Di, lebih baik kamu libur dan anterin istri kamu ke dokter. Orang hamil itu sangat sensitif jadi usahakan tidak membuat nya marah atau kesal."
"Tumben Mak Bijak, biasa kan...."
"Apa! dasar menantu durhaka kamu ya," sungut Mak Ita karena sudah di buat kesal oleh menantunya itu.
"Eh, enggak Mak." Adi mengangkat dua jemarinya dan meletakkan di pelipis nya tanda perdamaian.
"Kenapa kamu menatap saya seperti itu, hum." Hardik Mak Ita pada menantunya.
Dasar Emak singa kalau sudah marah, masa iya kopi ku diembat juga. Cih menyebalkan, gumam Adi di hatinya.
"Masa, perasaan Mak minum kopi mak sendiri." Mak Ita tidak percaya dengan ucapan Adi.
"Coba lihat, Mak." Lalu Mak Ita melirik cangkir yang berada di meja.
Pantas saja rasanya pahit, sepahit hidupku. Ternyata benar kalau saya salah alamat, batin Mak Ita yang terlanjur malu akhirnya pergi dan menghentakkan kaki nya.
Dasar mertua gak ada akhlak, setelah meminum bukannya di buatkan malah di tinggal begitu saja, umpat Adi dalam hati*.
Setelah perdebatan dengan mertuanya, Adi celingukan mencari istrinya. Bahwa ia baru sadar kalau istrinya tidak ada di sebelahnya lagi.
"Gara-gara Mak kan, De pergi! pasti tambah merajuk itu orang." Adi bergumam seraya mencari istrinya di setiap sudut ruangan, pelataran, di taman, dan terakhir di kamar.
Adi benar-benar melupakan soal yang akan mengantar istrinya, karena hari ini ia akan di jemput oleh asistennya untuk melihat proyek yang akan di garap. Namun seperti ucapan mertuanya, jika Adi harus mendahulukan istrinya.
"Sayang rupanya kamu di sini," ucap Adi dengan wajah sedikit kikuk.
"Aku marah sama kamu By, bisa-bisanya melupakan kalau akan mengantarkan aku ke dokter kandungan." Ujar Dia panjang lebar, dan Adi pun terkekeh mendengar suara istrinya yang terdengar manja, namun Adi menyukainya.
"Maaf sayang, sempat melupakan. Karena ada sedikit kerjaan jadi suamimu ini tidak fokus," kata Adi dengan menepuk pahanya agar Dia duduk pangkuannya.
__ADS_1
Dia tidak menolak, dan langsung berdiri lalu berjalan ke arah suaminya berada. Lalu duduk di pangkuannya.
Saat mereka berdua tengah asik bermesraan, tiba-tiba suara ketukan membuat kedua insan itu saling pandang.
"Siapa yang sudah mengganggu kemesraan kita!" seru Adi.
Sedangkan Dia mengangkat bahu nya, dan menyuruh untuk segera membuka pintu.
CEKLEK.
"Ada apa Mak," ucap Adi pada Mak Ita.
"Di bawah Ada tamu, nyariin kamu. Cepet turun noh, jangan jadi manten baru."
Adi mendelik kan matanya lebar-lebar karena perkataan mertuanya yang terlalu bar-bar. Tanpa disadarinya Mak Ita pergi tanpa Adi tahu.
"Dasar gak anak gak emak, sama-sama bar-bar." Gerutu Adi dengan wajah kesal.
"Siapa By?" tanya Dia yang berada di sofa.
"Tamu menyebalkan yang datang, sayang."
"Ouh." hanya itu yang keluar dari bibir Dia.
"Ya sudah aku mau menemuinya dulu." Ucap Adi sembari menutup pintu, lalu turun ke bawah untuk menemui tamu menyebalkan itu.
Tak.
Tak.
Tak.
Suara langkah Adi membuat tamu itu menoleh.
"Tumben sudah segeran kamu?"
"Pertanyaan macam apa itu, dasar brengsek." Ucap Adi lalu melempar majalah yang berada di atas meja. Dengan sigap tamu itu, yang tak lain adalah Haikal menangkapnya dengan mudah.
"Sial kamu," sungut Haikal.
"Salah sendiri itu mulut gak di ajari ngomong seperlunya." Ujar Adi.
"Dasar bodoh."
__ADS_1
Maka seperti itulah jika mereka sudah bertemu, saling mengatai dengan hal-hal yang tidak penting dan sangat membuang-buang waktu.