Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
101 BUATKAN AKU ADIK


__ADS_3

Perjalanan rumah tangga Dia dan Adi sudah berjalan dengan usia pernikahan yang ke-14 tahun. Di usia Dia yang sekarang menginjak ke-31 dan dan Adi 49. Membuat mereka bertambah saling mencintai dan saling menyayangi, tidak ada orang yang mengganggu ketentraman akan kehidupan mereka.


Sedangkan Cahaya menjadi sosok remaja yang sangat cantik di usianya yang ke-13 tahun. Menuruni wajah sang mama dan kulit mengikuti sang ayah membuatnya semakin cantik.


Namun sifatnya menuruni sang ayah, yang semaunya sendiri terkadang jika berucap akan membuat kehebohan orangtuanya, karena terlalu ngawur dan nyeleneh. Seperti saat ini di ruang keluarga.


"Ayah, aku mau adik apa Ayah dan mama bisa membuatkannya?" kata-kata yang keluar dari bibir Cahaya sontak membuat Adi dan juga Dia langsung menoleh ke arah sang putri.


"Coba bilang lagi," sungut Dia yang pura-pura tidak mendengar.


"Mama nih gak asik."


"Ayah katakan pada Mama suruh buat adik buat aku," ucap Cahaya yang sekarang beralih menatap sang ayah.


Adi tidak menanggapi putrinya, karena ia teringat kejadian tiga belas tahun silam. Di mana ia sangat trauma akan kelahiran sang putri hingga membuatnya pingsan, karena tidak tahan mendengar teriakan istrinya yang sangat menyiksanya.


"Ayah, kenapa kau hanya diam saja. Jangan bilang kalau Ayah juga tidak mendengar ku," ucap Cahaya yang mulai lesu.


"Hye bocah! apa menurutmu membuat anak segampang membuat donat." Jawab Dia asal, karena permintaannya terlalu nyeleneh. Memangnya ia pikir buat semalam besok langsung jadi dan besoknya langsung keluar orok! sungguh itu membuat Dia sakit kepala.


"Tinggal buat apa susahnya sih!" seru Cahaya yang masih tidak mengerti dengan orang tuanya.


Memang susah apa tinggal buat terus jadiin, batin Cahaya dalam hati.


Sedang Dia dan Adi saling pandang akan kelakuan sang anak yang semaunya sendiri.


"Aya, kenapa sih kamu harus menuruni sifat ayahmu!"


"Sayang kalau gak nurun aku lantas mau ngikutin siapa," timpal Adi.


"Iya akhirnya semaunya sendiri seperti kamu!" seru Dia pada suaminya.


"Mana bisa gitu sayang, lagian mana pernah aku seperti itu." Jawab Adi tidak terima.


"Halah kamu itu kebanyakan seribu alasan," ujar Dia.


Dia masih ingat kala mereka belum menjadi suami istri yang menyuruh seenaknya dan berkata semaunya, sering membuat kesal jika teringat dan itu sikapnya tidak jauh dari sang putri.

__ADS_1


STOP!


Cahaya yang jengah melihat kedua orang tuanya yang selalu berdebat membuatnya harus membentak mereka, jika tidak begitu ayah dan mamanya tidak akan ada yang mau mengalah.


"Aku hanya ingin punya dedek bayi kenapa kalian musti berantem sih," ucap Cahaya kesal.


"Lha kamu minta dedek seperti minta kucing saja." Jawab Adi.


"Memangnya tinggal cetak oven terus jadi, apa kamu pikir tidak butuh proses." Dia ikut menyahut dan memarahi Cahaya.


"Kalian jahat, aku kan hanya minta dedek! kenapa kalian harus marah." Setelah mengatakan Cahaya pergi meninggalkan kedua orang yang masih duduk di sofa, tanpa bergerak sedikit pun.


"Lihat kelakuan anak kamu, ini semua karena kamu juga By. Yang selalu menuruti kemauannya hingga jadi sekarang ini nih," ucap Dia dengan wajah yang sudah diliputi oleh kekesalan.


"Anak kita," ujar Adi.


"Terserah kamu." Jawab Dia lalu gegas berdiri dan meninggalkan suaminya yang ada di sofa.


"Kenapa semua jadi pergi, ah gak seru kan jadinya." Adi berkata lirih sebelum memutuskan untuk pergi bekerja.


Sedangkan Dia yang berada di kamar hendak bersiap-siap untuk pergi ke restorannya yang di berikan oleh suaminya dulu.


Setelah mempunyai anak dirinya sedikit demi sedikit merubah penampilannya dan prilakunya.


Di depan cermin ia menyisir rambut hitamnya, yang sekarang menjadi sebahu dan itu kian menjadikan Dia semakin anggun.


CEKLEK.


Suara pintu yang terbuka, Adi lalu masuk dan menghampiri sang istri yang memakai makeup di wajahnya agar terlihat sedikit segar.


"Sayang, mau berangkat bareng." Adi melingkarkan kedua tangannya di perut sang istri dan meletakkan kepala di bahunya juga.


"Boleh." Jawab Dia.


"Sayang kamu semakin cantik sedangkan aku semakin tua," ucap Adi yang tiba-tiba berkata seperti itu.


"Kamu ini bicara apa sih." Jawab Dia.

__ADS_1


"Kamu semakin hari semakin cantik dan usia kamu pun masih terbilang muda."


"Lantas," Dia semakin tidak mengerti akan ucapan dari suaminya.


"Aku semakin tua, aku takut De. Takut jika suatu hari nanti kamu akan pergi meninggalkan aku yang sudah tua ini," ucap Adi dengan suara lirih, namun Dia masih mendengar dengan jelas akan ucapan itu.


"Kita menikah sudah berapa lama? lalu apa pernah aku mengkhianati kamu dan apa pernah aku pergi tanpa izin mu?" seketika Dia memutar tubuhnya dan melepaskan pelukan sang suami. Kini wajah mereka saling berhadapan dan Dia menatap lekat ke arah suaminya, yang sudah memperlihatkan guratan di keningnya.


"Aku hanya takut De, takut jika kamu meninggalkan aku dan memilih seseorang yang lebih muda dari aku."


Adi sekarang berusia 49 tahun. Jadi manusiawi baginya akan rasa takut itu, istrinya yang semakin hari semakin cantik serta semakin mempesona. Adi takut kalau Dia terjerat lelaki yang lebih muda dan kaya, meski dirinya pun juga tak kalah kaya nya.


"Sudah lah, By. Jangan mempunyai rasa takut yang berlebihan karena nantinya rasa takut itu akan membunuhmu." Setelah mengatakan Dia mengambil tas dan keluar dari kamar dan hendak, berpamitan dengan anak semata wayangnya.


Adi juga ikut keluar dan ingin berpamitan juga dengan gadis kecilnya itu.


"Sayang di mana anak kamu?" tanya Adi siapa tahu Dia mengetahuinya.


"Aku tidak tahu, ini kan masih di cari." Jawab Dia sembari menyusuri tiap ruangan.


Adi mengecek di kamarnya siapa tahu sang anak berada di dalam. Sedangkan Dia pergi ke taman belakang siapa tahu anaknya juga ada di halaman belakang rumah. Namun ternyata mereka berdua tidak melihat Cahaya.


"Aya! kamu di mana!" Adi dan Dia terus berteriak memanggil Aya, namun tidak ada jawaban sama sekali.


Dia yang penasaran melihat ke atas pohon mangga berharap sang ada di situ dan ternyata benar.


"Eh Mama, ketahuan juga … hehehe pis, Ma." Cahaya yang sudah tertangkap basah hanya bisa menyengir kuda karena ia tidak menyangka, bahwa mamanya mengetahui persembunyiannya.


"Ini nih, kalau kelakuan nurun di kamu! tuh lihat." Adi tidak menyangka kalau kelakuan bar-bar istrinya menurun ke Cahaya.


Dia tidak menanggapi celoteh suaminya dan segera menyuruh Cahaya untuk turun.


"Aya, turun kamu!" bentak Dia pada sang putri.


Akhirnya Cahaya turun dan menghampiri sang ayah.


"Ayah, memangnya Mama dulu suka manjat ini pohon ya?" tanya Cahaya pada sang ayah karena ia merasa penasaran dengan masa muda sang mama.

__ADS_1


"Iya, hampir setiap hari mama kamu menjadi tarzan." Cahaya yang mendengar ayahnya bercerita kalau mamanya dulu malah lebih para dari dirinya. Apalagi ayahnya dulu memanggil mama nya dengan sebutan tarzan.


__ADS_2