
Dengan berat hati terpaksa pria itu menerima namun ada beberapa syarat yang ia ajukan pada gadis itu.
"Baik saya akan menerima," ucap lelaki itu dan Cahaya pun tersenyum lalu bernafas lega karena ia pikir, kalau lelaki itu hanya membutuhkan uang yang ada digenggamannya tanpa punya rasa curiga sedikitpun.
"Ets … Tapi kamu juga tidak bisa pergi dariku begitu saja bocah!" seru lelaki itu dan seketika senyuman yang terukir itu, membuat Cahaya langsung pudar.
"Bukannya Om mau menerima uang yang seadanya, lantas mengapa masih mengancamku." Ucapan Cahaya seketika membuat lelaki itu tertawa.
"Hye bocah! siapa yang mau menerima uang segitu sedangkan kerusakan yang kau perbuat, bisa menghabiskan jutaan!" seru pria itu dengan wajah mengejek. Sedangkan Cahaya merasa di permainkan oleh pria kulkas yang berada di depannya.
"Terus mau Om apa? apa maunya kalau kita menikah, ups." Entah keberanian dari mana sampai-sampai Cahaya berani berkata seperti itu.
"Dasar bocah edan, sekolah yang benar jangan mikirin nikah!" Pria itu tidak habis pikir dengan bocah yang berada di depannya, begitu berani dengan mengajaknya menikah.
"Apa dia pikir aku lelaki murahan dan tidak laku, sampai-sampai ada yang menawarkan pernikahan … Ck … Ck." Lelaki itu terus saja mengumpat dalam hati karena benar-benar kesal di buat oleh bocah tersebut.
"Mamaku juga dulu menikah muda, memangnya apa salah nya." Jawab Cahaya dengan memonyongkan bibirnya ke depan.
"Bagaimana kalau saya sudah beristri?" Pria itu menatap wajah Cahaya dan matanya hampir tidak berkedip kala memandang. Cahaya di buat grogi dan hatinya semakin bergetar.
Sedangkan Rury yang melihat kelakuan temannya hanya bisa mengelus dada, tidak menyangka kalau Cahaya seberani itu. Padahal jika di sekolah meski para lelaki mengejar untuk mendapatkan cintanya, Cahaya kekeh tidak mau menerima.
"Tinggal rebut," ucap Cahaya enteng.
"Kau benar-benar gadis gila!"
"Gue gila karena, Om." Jawab Cahaya dengan cepat.
"Mengapa kau menyalahkan saya," ujar pria itu tidak terima.
"Karena Om terlalu tampan." Cahaya dengan entengnya berkata seperti itu.
"Kau…."
STOP!.
"Apa kalian akan bertengkar terus dan tidak ada yang mengalah!" terpaksa Rury menghentikan perdebatan antara temannya dan pria asing itu.
"Temanmu itu terlalu berani dan tidak punya sopan santun kepada saya!" lelaki itu sangat geram kepada gadis yang berada di hadapannya.
"Lagian kamu Cahaya! ngapain sih pakai goda suami orang segala, daripada kamu ngejar suami orang noh di sekolah banyak yang ngantri sama elu!" Rury ikut geram juga dengan kelakuan temannya karena tanpa ia tahu, pria tersebut sudah berkeluarga atau tidak. Yang ada di otaknya nikah dan nikah mulu.
__ADS_1
"Gue yakin ini om, gak punya bini. Noh lihat dijemarinya ga ada cincin," ucap Cahaya dengan menuding ke arah jemari milik lelaki tersebut.
"Tidak memakai cincin bukan berarti tidak mempunyai istri kan."
Skakmat.
Cahaya akhirnya tertunduk malu akibat ucapannya.
Sepertinya Cahaya ngikut bapaknya ya thor. Sama-sama somplak.
Iya thor sepertinya 🤣🤣 ya sudah yuk lanjut.
"Ya sudah ini uangnya, Om. Dua juta," ucap Rury pada lelaki itu dan memberikan uang itu tersebut.
"Ini masih kurang delapan juta, mana KTP kalian." Setelah menerima uang sebesar dua juta, pria itu meminta KTP untuk jaminan agar kedua gadis kencur itu tidak lari dari tanggung jawab.
"Buat apa?" dengan tampang polosnya Cahaya berkata.
"Untuk saya gadai, puas kamu." Jawab pria itu.
"Buruan mana! saya sudah lapar dan kalian jangan membuat saya mati juga," ucap lelaki itu lagi.
Dengan terpaksa akhirnya keduanya memberikan kartu tanda penduduk pada pria itu.
"Iya, cantikkan namanya." Jawab Cahaya dengan bangga.
"Iya cantik namanya tapi tidak dengan kelakuannya," ucap pria itu menjawab.
"Ish, menyebalkan." Cahaya menggerutu karena setelah dipuji tiba-tiba dijatuhkan oleh pria tersebut.
Di saat pria itu membaca dengan teliti alamat yang tertera di KTP, sedikit membuatnya ingin tahu lebih dalam lagi karena alamat, yang dibacanya seperti tidak asing.
"Kenapa, Om. Apa Om pernah ke alamat itu?" sengaja Cahaya mempertanyakannya karena terlihat dari guratan di wajah, milik lelaki itu semakin jelas dan tampaknya sedang berpikir akan sesuatu.
"Sedikit." Hanya itu yang keluar dari bibir pria itu.
"Ya sudah ini saya bawa dan ini kartu nama saya, jika sewaktu-waktu kalian sudah bisa membayar." Pria itu pun langsung memberikan kartu namanya pada Cahaya dan Cahaya pun menerimanya.
"Riki Dwi Suseno." Cahaya membaca dan menyebutkan nama dari kertas kecil yang ia pegang.
"Om Riki, i love you." Cahaya mengucapkan kan kata cinta pada pria yang ada di depanya, setelah itu Cahaya masuk kedalam mobil dan pergi meninggalkan pria yang motornya, telah ia tabrak tadi.
__ADS_1
"Dasar bocah edan," gumam Riki.
Yah, pria itu adalah Riki. Dirinya baru saja pulang dari negeri jiran tepatnya rumah orang tuanya. Ia datang kesini untuk sebatas liburan dan melihat keadaan rumah, yang tak pernah di tempati. Walau ada yang yang menginap untuk menjaga rumah tersebut.
Setelah kepergian gadis yang bernama Cahaya, Riki langsung membenarkan motornya yang telah menjadi korban tabrakan, yang dilakukan oleh gadis yang sekarang telah pergi.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Sedangkan di dalam mobil Cahaya bak orang gila karena terus saja tersenyum.
Rury yang melihat bergidik ngeri karena sepertinya teman nya telah ketempelan.
"Ay, elu ketempelan di mana?" tanya Rury yang tidak tahan dengan Cahaya.
"Ketempelan di tempat tadi," ujar Cahaya yang masih tersenyum bak orang yang sedang kasmaran.
"Sepertinya elu perlu di bawa ke kyai," ujar Rury pada Cahaya.
"Untuk apa?"
"Biar di rukiah dan demit yang ada di badan elu ilang," ucap Rury dan seketika mobil pun di berhenti.
"Kenapa berhenti?"
"Emangnya gue kesurupan apa! sampai harus di ruqyah segala," ujar Cahaya yang tidak terima.
"Lagian elu kenapa senyum-senyum kagak jelas," sanggah Rury.
"Sepertinya gue jatuh cinta, Ry?"
Rury tercengang mendapati sahabatnya berbicara seperti itu. Pasalnya ia pernah bilang kalau dirinya tidak akan jatuh cinta karena, pacaran itu hanya membuang-buang waktu saja.
"Bukannya elu gak mau pacaran dan maunya langsung nikah?"
"Iya, tapi ini beda Ry. Gue jatuh cinta sama om Riki," ucap Cahaya jujur.
"Elu gak bercanda kan," ujar Rury yang sama sekali merasa heran pada sahabatnya itu.
"Tidak, gue serius!" dengan suara lantangnya Cahaya berkata.
"Kenapa selera elu jadi sugar daddy?" tanya Rury yang semakin penasaran.
__ADS_1
"Berasa nyaman saja." Jawab Cahaya enteng.
"Terus kalau dah punya bini, emang elu mau jadi pelakor."