Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
134. MENYAKINKAN HATI( MENCARI CINCIN PERNIKAHAN)


__ADS_3

Setelah sarapan mereka berdua berpamitan untuk membeli cincin.


"Ma, aku sama mas Riki mau izin keluar ya." Cahaya pun menghampiri sang mama yang berada di taman belakang.


"Iya sayang. kamu hati-hati ya," ujar Dia saat Cahaya pamit hendak pergi dengan Riki, calon menantunya.


"Mama mertua saya sama Cahaya keluar dulu," ucap Riki dari arah belakang. Dia pun seketika ingin marah namun ia tahan. Dirinya masih tidak rela di panggil seperti itu, meski itu panggilan wajib. Hanya saja terdengar aneh di telinga karena umur mereka sepantaran.


Setelah kepergian kedua pasangan itu, Dia masih asik menyirami bunga-bunga yang tumbuh dengan indah, yang berada di taman. Di mana dirinya dan juga sang suami akhirnya menyatu.


Saat tengah asik menatap bunga-bunga itu, sebuah tangan melingkar di perutnya.


"Selamat pagi sayang," ucap orang yang tengah memeluk Dia dengan sangat erat. Siapa lagi kalau bukan Adi, suami dari Dia.


"Selamat pagi juga sayang," jawab Dia dengan tangan masih memegang slang.


"Kamu baru mandi ya karena aroma tubuhmu, membuatku mabuk." Terdengar hembusan nafas di leher Dia, saat kata-kata manis itu terlontar. Membuatnya sedikit salah tingkah.


"Aku kangen." Adi membisikkan kata 'kangen' tepat di telinga sang istri, hingga membuat Dia merasakan sesuatu karena hembusan nafas itu.


"By, tumben ada apa?" Dia merasa aneh akan sikap sang suami. Meski, Adi sosok yang romantis namun ini lebih dari itu.


"Tidak kenapa-kenapa, hanya saja aku sedang merindukan kamu." Ucapan demi ucapan membuat hati Dia semakin tidak karuan.


Adi semakin merekatkan pelukannya dan menempelkan kepalanya di leher jenjang milik Dia.


"Apa kamu sedang mengigau," ujar Dia melepaskan kedua tangan sang suami dan berbalik, agar bisa bertatapan dengan Adi.


"Iya, aku sedang mengigau sedang bersama kamu duduk di sebuah danau. Lalu kita bercerita melupakan rasa lelah untuk sejenak," tutur Adi pada sang suami dengan memegang kedua tangan milik sang istri.


"Apa kamu ingin mengajak ku keluar untuk mencari sebuah ketenangan?" kata Dia dengan mata sejurus memandang lekat ke arah Adi.

__ADS_1


"Boleh, anak-anak juga telah pergi." Adi pun mengiyakan dan setuju untuk menenangkan diri dari rasa lelah.


Akhirnya mereka bersiap untuk mencari suasana baru. Sedangkan di sisi lain, di mana Cahaya dan Riki berada saat ini.


...----------------...


Di dalam mobil Riki mengatakan sesuatu pada Cahaya akan pernikahannya kelak. Sebelum terlambat ia ingin memastikan jika Cahaya benar-benar mau menerimanya.


"Ay, maaf jika kata-kata Mas sedikit menyinggung." Di saat Cahaya tengah asik menikmati pemandangan yang ada di luar jendela, sesaat dirinya terpaku di kala Riki mengucapkan kalimat tersebut.


"Memang ada masalah apa? Sehingga Mas, tiba-tiba berkata demikian." Cahaya pun menimpali perkataan Riki, yang sama sekali dirinya belum mengerti akan arah pembicaraan tersebut.


"Apa kamu tidak menyesal telah menikah denganku? Apalagi usia kita terpaut jauh," ucap Riki dengan suara lirih namun Cahaya masih bisa dapat mendengar.


"Kenapa kamu tiba-tiba berkata seperti itu. Apa Om juga tidak yakin dengan pernikahan yang akan sebentar lagi akan di laksanakan." Cahaya pun semakin bingung di buatnya.


"Aku hanya bertanya saja. Apa itu melanggar," kata Riki dengan mata yang masih fokus ke arah jalanan.


"Aku sudah memilih Om Riki sebagai teman hidupku. Itu berarti aku pun sudah yakin dengan langkah yang aku ambil sekarang," jelas Cahaya karena dirinya lah yang selalu mengejar cinta pria dewasa itu, sampai pada akhirnya Riki luluh dengan seorang gadis seperti Cahaya.


Bukan bimbang akan perasaannya. Akan tetapi, bimbang akan sebuah jawaban yang akan diberikannya.


"Aku tidak peduli semua itu! yang aku mau cuma mau hidup dengan mu dan kita akan menjalani, rumah tangga dengan kebahagiaan."


"Jadi?"


"Aku tetap pada pendirianku," kata-kata Cahaya membuat Riki langsung menghentikan mobilnya.


"Kenapa berhenti?" tanya Cahaya dengan mengangkat kedua alisnya.


"Terimakasih untuk semua rasa yang kamu beri pada Mas, Mas tidak mau berjanji tapi di sini aku akan selalu membahagiakan kamu, serta menuruti semua yang kamu butuhkan." Riki pun memegang jemari Cahaya dengan sangat erat, lalu di ciumnya tangan itu.

__ADS_1


"Ya sudah yuk jalan," ucap Cahaya untuk Riki menjalankan roda empat tersebut. Cahaya memilih untuk menyudahi percakapan itu karena ia tidak ingin semakin dalam untuk sebuah ucapan yang semakin, membuat sesak di hati.


Akhirnya Riki pun menjalankan perintah dari Cahaya untuk menjalankan mobilnya.


Tidak berapa lama kemudian. Mereka sudah berada di sebuah toko besar yang bertuliskan 'toko mas' mereka melangkah untuk memilih-milih. Memang mereka tidak memesan cincin karena ia ingin melihat-lihat siapa tahu ada yang pas di hati mereka.


"Mas, Dik, apa ada yang bisa kami bantu." Pegawai itu pun datang dan menghampiri mereka berdua. Sedangkan Cahaya mendengus kesal karena sebuah panggilan.


"Oh, iya saya dan calon istri saya mau mencari cincin pernikahan yang paling bagus ada?" tanya Riki agar pegawai itu tahu kalau yang di panggil 'adik' itu adalah calon istrinya.


"Oh, maaf Mas. Saya kira perempuan yang ada di sebelah Mas nya adalah saudara anda," ujar pegawai itu meminta maaf.


"Iya tidak apa-apa. Sekarang pilihkan saya yang paling bagus," titah Riki pada pegawai tersebut.


Sedangkan Cahaya hanya diam sesekali menyimak obrolan antara pegawai dan calon suaminya.


"Kalau ini bagaimana?" pegawai itu menunjukkan cincin yang sangat cantik pada mereka berdua.


"Sayang, lihatlah. Apa kamu suka model yang seperti ini." Riki pun bertanya pada Cahaya akan cincin tersebut yang sudah dipilihkan oleh pegawai toko mas tersebut.


"Bagus Mas," Cahaya pun nampak menyukainya karena saat melihat ia tidak mengalihkan pandangannya dengan semua cincin, yang ada di etalase.


"Apa suka," ujar Riki pada sang kekasih.


"Aku sangat menyukainya." Jawab Cahaya.


"Calon istri saya menyukai cincin ini. Jadi, saya akan mengambil yang ini saja." Pilihan Riki jatuh pada cincin yang saat ini di pegang oleh Cahaya.


"Baik Mas, totalnya 15juta."


Tidak lama kemudian pegawai itu membungkus cincin itu dan menyerahkan sebuah paper bag yang berisikan, pesanan dari Riki.

__ADS_1


Akhirnya mereka sudah mendapatkan cincin, tinggal fitting baju pengantin yang belum.


Setelah mendapatkan apa yang mereka cari, kini Cahaya dan Riki masuk ke dalam mobil dan akan pergi untuk mencari makan siang.


__ADS_2