
Sekitar tiga puluh menit Dia dan Mak nya sudah berada di rumah, dan menyuruh sopir driver untuk membantunya membawa belanjaan masuk ke dalam teras.
"Di taruh di mana ini, Mbak?" tanya supir tersebut.
"Taruh di depan situ ya Pak." Jawab Dia dengan di iringi sebuah senyuman.
Pak supir pun menurut untuk meletakkan lima buah kantong kresek berukuran besar tersebut dan meletakkannya di teras.
"Mbak ini sudah ya," ucap Supir itu.
"Iya Pak, makasih ya. Ini uang pembayarannya dan ini untuk Bapak karena sudah membantu saya," Dia memberikan uang lima puluh ribu untuk supir driver tersebut.
"Mbak saya kan hanya membantu sampai di situ saja. Lagian tidak berat, kenapa harus di kasih upah?" tanya supir itu, karena beliau merasa itu bukan lah hal yang susah untuk dilakukan. Mengingat penumpangnya dua-dua nya seorang perempuan.
"Kalau begitu anggap ini sebagai rezeki Bapak ya, dan mohon di terima." Ujar De, karena sebetulnya ongkos taksi online nya hanya dua puluh ribu.
"Kalau begitu saya terima ya Mbak, Bu."
"Iya Pak," jawab Dia.
Setelah itu taksi online pun berpamitan, dan sekarang giliran Mak Ita berteriak memanggil Edo.
"Belum juga dipanggil sudah datang saja kamu, Do." Ujar Mak Ita.
"Iya tadi nggak sengaja denger kalian ngomong," tukas Edo.
"Ya sudah bawah ini semua ke dalam." Titah Mak Ita pada Edo.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Jika seisi rumah heboh dengan belanjaannya lain halnya di tempat adi duduk sekarang.
Di ruangan kerja, Adi membayangkan memakan rujak manis serta ditemani dengan sebotol minuman dingin. Lalu tanpa pikir panjang Adi memanggil Haikal, untuk datang ke ruangan kerjanya.
Tuuut, panggilan terhubung.
π"Halo Kal, bisa kamu datang ke ruangan saya." Ucap Adi.
π"Ada apa memangnya?" tanya Haikal.
π"Jangan banyak tanya! mending sekarang kamu ke sini," seru Adi.
π"Oke, baiklah ini segera meluncur." Setelah Haikal menjawab. Lalu dirinya mematikan ponsel.
__ADS_1
"Menyebalkan." Gerutu Haikal, namun tetap saja dirinya akan datang ke ruangan Adi, kalau sampai tidak datang yang ada dirinya bisa menjadi gelandangan.
Tok.
Tok.
Tok.
"Iya masuk saja, pintunya tidak di kunci." Adi menyahuti suara ketukan itu.
Ceklek.
"Ada apa kamu menyuruhku untuk kesini, apa ada yang penting." Ujar Haikal pada Adi, dan Haikal pun berjalan menuju sofa panjang lalu membaringkan tubuhnya di atas sofa.
"Saya lagi kepengen makan rujak manis, bisakah kamu membelikannya untukku." Ucap Adi.
"Apa kau sedang hamil, makanya ingin makan rujak?" Haikal yang semula berbaring kini bangun seketika karena mendengar permintaan Adi, yang terlihat konyol menurutnya.
"Apa itu berlaku untuk orang hamil saja," suara ketus Adi membuat Haikal menelan ludah nya dengan kasar, karena ternyata dirinya sudah salah ucap.
"Iya β¦ Iya semua orang bisa menikmati termasuk saya sendiri," tukas Haikal.
"Nah itu kamu tahu, sekarang pergilah. Jangan kembali sebelum mendapatkannya! mengerti," bentakan Adi membuat Haikal langsung berdiri untuk segera mencarinya.
"Bagus." Setelah menimpali ucapan Haikal, Adi langsung berdiri dari duduknya dan menuju ke sofa. Entah mengapa tiba-tiba saja perutnya terasa begah dan rasanya ingin sekali memuntahkan sesuatu.
Ini kenapa dengan perut saya ya, kok rasanya seperti ini. Hem ... Sepertinya saya harus meminta tolong Santi untuk membuatkan teh hangat, gumam Adi dalam hatinya.
Saat akan mengambil gawai yang ada di meja, suara ketukan pintu membuat Adi tak jadi meraih ponsel yang akan digunakan untuk menghubungi Santi.
Ceklek.
"Kamu rupanya Santi," ucap Adi setelah membukakan pintu untuk seseorang.
"Iya Pak, saya ingin memberikan laporan pemasukan untuk bulan kemarin. Silahkan di cek lagi," jawab Santi sopan.
"Eum iya, makasih." Adi menerima lembaran berkas yang diberikan oleh Santi.
"Tunggu!" teriakan Adi membuat orang yang di panggil berhenti untuk melangkah. Dengan hati yang gembira Santi memutar balik tubuh nya, dan berharap bos nya itu mengatakan sesuatu kepadanya. Macam ucapan kata cinta yang diharapkan dari seorang duda yang sudah di sukai sejak lama.
"Ada apa ya, Bapak manggil say lagi."
"Mau minta tolong, tolong buatkan saya teh hangat. Perut saya lagi kurang enak," pinta Adi pada Santi selaku karyawan yang menjabat bagian keuangan.
__ADS_1
"Baik Pak, saya akan membuatkannya." Jawab Santi, dengan hati berbunga-bunga.
Di pantry. Santi membuat teh hangat pesanan dari seseorang yang sangat ia kagumi, kagum dengan ketampanannya dan kagum dengan orangnya tentunya. Setelah kematian istrinya Santi belum mendengar bos duda nya itu menikah lagi. Maka dari itu ia berusaha untuk mendekati si bos datarnya.
Semoga si bos suka sama aku, gumam Santi dalam hati nya.
Tidak lama kemudian Santi sudah membuatkan teh yang diinginkan bos nya itu. Saat melewati teman sekerja, ada yang menatap aneh dan ada pula yang menatap ngeri. Karena teman-temannya baru kali ini melihat Santi tersenyum bagai orang yang sedang di mabuk kasmaran.
Sesampainya di depan pintu ruangan bos nya, Santi merapikan blazer yang dikenakan serta menata rambutnya supaya terlihat rapi.
Tok.
Tok.
Tok.
Sinta mengetuk pintu, dan tak berselang lama pintu terbuka dengan sendirinya.
Sinta yang awalnya ragu untuk masuk, namun terpaksa ia lakukan karena tidak mendapat respon dari sang pemilik ruangan.
"Hemm, rupanya si bos tertidur." Gumam Sinta.
"Kamu terlalu tampan bos, ingin rasanya aku mencium pipi anda." Ujar Sinta lirih.
Sinta terus mendekati tubuh Adi yang sedang tertidur pulas, lalu memandangi wajah yang dipenuhi sejuta pesona. Menatapnya penuh dengan rasa kagum.
Begitu beraninya Sinta, dan nampaknya rasa ingin memiliki yang begitu besar. Hingga tak bisa membedakan urusan pekerjaan dan urusan hati. Tanpa memperdulikan apapun itu, dengan beraninya Sinta mencium kening Adi. Kesempatan yang tak pernah ia dapatkan, jadi. Selagi ada kesempatan maka tidak akan menyia-nyiakannya. Itu lah yang ada di pikiran perempuan tersebut.
Tanpa Sinta sadari seseorang tengah memfoto adegan tersebut. Setelah mendapat gambar dengan pose di mana wajah perempuan itu, tepat berada di wajah milik Adi yang sedang berada di dunia mimpi.
Tidak berapa lama Sinta berdiri, dan di saat itu lah seseorang tadi adalah Haikal berdehem.
Ekhem.
Ekhem.
Santi terlihat gelapan namun berusaha tenang.
"Mas Haikal, sa-saya ke sini β¦ Itu karena sa-saya di suruh membuatkan teh untuk bos,"
"Sekarang boleh keluar kamu." Dengan wajah datar Haikal selaku asisten Adi menyuruh perempuan itu untuk keluar.
"I-iya Mas. Saya pamit keluar,"
__ADS_1
"Hum." Hanya itu yang keluar dari mulut Haikal saat Santi pamit keluar dari ruangan.