
"Ish menyebalkan." Dia memonyongkan bibirnya sehingga membuat Adi semakin gemas dan ingin melahapnya lagi.
"Itu bibir mau lagi sepertinya," ujar Adi.
"Apa Om, ingin bibirku bertambah mirip orang sehabis di sengat tawon." Dia berkata dengan nada kesal.
"Lagian kenapa itu bibir di majuin?" tanya Adi dengan senyuman yang tersungging, karena dirinya bisa membuktikan kalau dirinya itu laki-laki tulen, bukan laki-laki jadi-jadian seperti yang dikatakan oleh istri kecilnya itu.
"Kesel, karena Om. Mirip hewan yang ada di punggung Om itu," ucap Dia sambil membenarkan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
"Itu kan bukan salah saya. Kamu yang meminta untuk saya membuktikan kalau benar saya adalah pria normal, dan bukan pria belok." Adi menjawab dengan sejuta kemenangan.
"Iya gak harus semua dilahap kan," ketus Dia.
"Itu tanda kalau saya perkasa, lagian kamu juga menikmati kan." Adi berkata sambil memainkan satu alisnya.
Dia yang merasa kalah telak hanya bisa diam, dengan wajah menunduk akibat menahan malu.
"De, saya berharap kamu akan setia sama saya." Tanpa ekspresi Adi berkata, sekarang posisinya sudah berubah dari sebelumya. Jika tadi dirinya duduk di bibir ranjang, tetapi sekarang tangannya memegang erat jemari lembut milik Dia dan menatapnya dengan lekat, dan menghadap lawan bicaranya.
"Roman-roman nya Om, udah mulai cinta ya sama aku." Ujar Dia dengan sedikit tersenyum.
"Memang itulah yang saya rasakan sekarang," ucap Adi dengan wajah yang serius.
"Apa itu serius." Kini berganti Dia yang menatap wajah Adi.
"Saya mau membangun mahligai rumah tangga denganmu hanya sekali seumur hidup, sampai kita di pisahkan oleh maut." Lagi-lagi Ada berkata demikian.
"Sayangnya aku enggak percaya." Sahut Dia.
"Jika Om, memang cinta sama aku, enggak bakalan kan itu figura di pajang disitu." Dia berkata dengan mata yang melirik ke arah di mana foto pernikahan suaminya dengan Almarhumah istrinya.
"Itu bukan masalah besar kan, besok bisa di turunkan atau di buang." Ujar Adi.
"Tidak perlu di buang, taruh saja di gudang karena itu bagian dari hidup, Om."
"Tidak! aku tetap akan membuangnya." Tekan Adi.
"Terserah, Om saja." Ucap Dia.
Untuk beberapa detik, mereka saling terdiam. Hingga suara Adi memecah keheningan di antara mereka berdua.
"De, saya boleh tanya." Ujar Adi, sedikit ragu tapi itu semua harus di ungkapkan agar nantinya ia tidak akan merasa terhempas kan karena perasaannya.
"Silahkan." Timpal Dia.
"Apa kamu sudah bisa mencintai saya?" suatu pertanyaan yang membuat jantung Dia sedikit tidak beraturan.
"Apa itu penting, bukankah Om sudah mengambil kehormatanku." Dia menatap Adi dengan penuh selidik.
"Tidak De, itu semua adalah abdimu pada seorang suami. Bukan berarti dengan memberikan itu padaku, kamu mencintai aku." Dengan tatapan yang penuh harapan Adi berkata.
__ADS_1
"Aku tidak pernah menyangka Om, jika menikah muda apalagi menikahi seorang duda." Ujar Dia dengan wajah polosnya.
"Itu bertanda kalau kita jodoh," ucap Adi tersenyum.
"Eleh, kalau kita gak kepergok warga kita juga gak bakal nikah, Om." Suara ketus Dia membuat Adi semakin gemas.
"Saya berharapnya sih kamu bakal cinta sama saya," tutur Adi.
"Itu mah tergantung hati saya." Jawab Dia.
"Ya sudah, sana tanyakan sama hati kamu." Balas Adi.
"Belum di jawab," ucap Dia.
"Telepon lah," jawab Adi.
"Memangnya bisa?" tanya Dia.
"Gak tau, tapi coba saja. Kalau tidak ada jawaban berarti hati kamu enggak punya paketan," ujar Adi dengan wajah tanpa ekspresi.
"Ommm!"
Pluk.
"Ampun De, ampun."
Pakh.
Pluk.
Adi berteriak merintih kesakitan akibat serangan yang brutal, bagaimana tidak. Adi di pukuli dengan bantal guling yang ada di sebelahnya. Tanpa melawan hanya bisa menunduk dengan kedua tangan di letakkan di atas kepala guna melindungi dari serangan istrinya yang di juluki macan tutul.
...----------------...
Setelah pagi penuh drama kini mereka berdua sudah berada di tempat kerja masing-masing.
DI RESTORAN.
"Ndah apa ada yang aneh sama gue, kok semua orang pada ngeliatin gue segitunya ya?" tanya Dia penasaran, karena hampir semua orang menatapnya dengan senyuman mengejek.
"De, boleh tidak kalau gue jujur sama elu?" tanya balik Indah pada Dia.
"Apa," seru Dia.
"Elu habis olahraga kasur ya?" tanya Indah dengan di iringi gelak tawa.
Saat Indah berkata, seketika wajah Dia memerah karena bagaimana bisa temannya tahu jika yang di katakan itu benar.
"Bagaimana elu tahu?" tanya Dia dengan wajah bak mirip terdakwa.
"Dasar elu bener-bener ogeb ya," sungut Indah karena saking kesalnya dengan sahabatnya yang bermuka bodoh itu.
__ADS_1
"Lha, gue kan tanya. Ngapa elu ngegas," Dia berkata dengan nada tidak suka.
"Mau tau kan. Kenapa orang-orang pada liatin elu," sungut Indah.
"Memangnya apaan." Jawab Dia.
"Yuk ikut, nanti elu bakal tahu." Sergah Indah.
Dia tanpa menyela mengikuti kemana Indah pergi.
Sesampainya di WC. Dia berhenti dan menarik tangan Indah.
"Indah, elu kok bawa gue ke sini." Ucap Dia dengan perasaan Aneh.
"Jangan banyak omong! mending elu ngaca," ketus Indah.
Lalu Dia menuruti seperti apa yang di katakan oleh Indah, untuk berkaca karena ia juga merasa aneh dengan sorot mata semua orang.
Sedetik tidak ada yang aneh, namun Dia melihat dengan teliti setiap inci lehernya, dan.
"Om, suami sialan. Brengsek banget sampai-sampai leher gue diembat juga." Dia langsung marah-marah karena akibat ulah suaminya dirinya menjadi bahan omongan, serta tatapan yang menjijikkan.
"Kalau elu mau marah ya marah sama laki elu, ngapa yang jadi sasaran gue bodoh!" lagi dan lagi. Indah lah tempat amukan Dia.
"Bojomu ruso tenan yo De," (suamimu kuat juga ya de)
"Elu ngeledek gue."
"Kagak." Jawab Indah.
"Masa elu kagak sadar kalau itu leher penuh dengan tanda kepemilikan?" tanya Indah penasaran.
"Ya, itu karena ... Itu di karenakan ...."
"Elu terlalu menikmatinya bukan," potong Indah.
"Sssttt, itu volume bisa di turunin dikit kagak." Ucap Dia, karena Indah bersemangat saat menjawabnya.
Dia pun langsung tersipu malu, akibat ucapan Indah.
"Ya udah, terus ini gimana?" tanya Dia, karena dirinya tidak mau menjadi pusat perhatian orang.
"Elu ada jaket kagak." Ujar Indah.
"Kagak, dan sepertinya gue mau pulang, udah gak mood soalnya." Jawab Dia.
"Ya sudah, nih pakai jaket gue buat nutupin itu leher yang sudah di penuhi oleh stampel buatan laki elu." Lalu Indah melepas jaketnya untuk di berikan pada Dia.
"Makasih besok gue kembaliin. Oh ya, titip resto gue pulang dulu.
Setelah Itu Dia meninggal kan Indah, karena ia ingin segera pulang untuk memberikan pelajaran dengan suami dewasanya itu. Sebelum itu Dia mengabari suaminya untuk pulang juga.
__ADS_1