Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
BAB 60. Seperti (Wolf)


__ADS_3

Setengah jam kemudian. Dia sudah berada di pelataran rumah, namun sedikit terkejut saat mobil yang di kendarai Adi sudah terparkir di garasi.


Kok cepet banget pulangnya ya? Perasan baru juga gue telepon itu orang. Gumam Dia dalam hatinya.


Dia pun memarkirkan ucup lalu berjalan ke dalam rumah.


"Om! Om suami di mana!" teriak Dia mencari suami dewasa itu.


"Kok sepi," gumam Dia.


"Om, suami. Di mana kah dirimu berada!" Dia berteriak lagi mencari sosok lelaki yang menikahinya sudah hampir lima bulan sekarang.


Dia memutuskan untuk tak berteriak lagi karena merasa tenggorokannya kering, akibat berteriak terus menerus.


Hufff..


Jaket yang di pinjam tadi, kini di lepaskan dan di letakkan di sembarang arah.


"Minum yang seger-seger kek nya enak." Dia berkata dengan langkah berjalan kearah dapur.


Namun saat dirinya sudah berada di ambang pintu, Dia berhenti untuk tidak melanjutkan langkahnya lagi, dan memilih bersandar di tembok.


Jadi benar kalau Om suami klepek-klepek sama gue. Batin Dia, tidak menyangka kalau suaminya itu benar-benar mencintainya.


Ekem..


Hem.


Dia memutuskan untuk keluar dari persembunyiannya, karena ternyata seseorang yang berada di dapur sama sekali tidak menyebut namanya dalam isi percakapan.


"Lho sayang, sudah dari tadi apa ... Baru saja." kedatangan secara tiba-tiba membuat Adi sedikit kikuk. Takut, takut kalau istrinya mendengar semua percakapan antara dirinya dan Ibunya, Bu Salma.


"Baru juga sampai, Om." Jawab Adi.


"Bu, kok tumben enggak ngasih kabar kalau mau kesini?" tanya Dia sedikit kikuk, dan kini netra nya beralih menatap sang mertua.


"Apa suami kamu tidak memberi tahu," tukas Bu Salma.

__ADS_1


"Tidak, Bu." Lalu pandangan Dia beralih lagi ke arah suaminya, berharap suaminya akan menjelaskan.


"Maaf sayang lupa, kamu ingat waktu suamimu ini menerima telepon." Ujar Adi pada Dia.


"Eum." Balas Dia singkat.


"Itu dari Ibu, kalau hari ini akan datang." Adi menjelaskan kalau Ibunya sudah memberi tahu, namun dirinya lupa untuk mengatakannya pada Dia.


"Memangnya apa yang kau ingat, selain mengerjai aku!" sungut Dia dengan wajah kesalnya, karena ulahnya hingga semua orang menatapnya dengan aneh.


Sedangkan Adi hanya tertawa, kala mengingat kejadian tadi pagi. Di mana dirinya melahap habis tubuh istrinya tanpa ampun.


Bu Salma yang tidak mengerti hanya bisa menatap bingung ke arah meraka berdua. Adi dan Dia.


"Kalian membicarakan apa sih?" tanya Bu Salma pada mereka berdua.


"Serigala berbulu domba, Bu." Sahut Dia, dan menjawab dengan asal.


"Siapa yang serigala?" tanya kembali Bu Salma.


"Itu orang yang berada di samping Ibu," tukas Dia.


"Di," panggil Bu Salma pada Adi, sedangkan Dia berjalan mendekati mereka karena kulkas yang ia tuju berada di belang punggung kedua orang, yang tidak lain adalah suaminya serta Ibunya mertuanya.


"Ada apa sih, Bu. Jawab Adi.


Belum sempat Bu Salma berkata pada Adi. Namun kini beliau malah menanyai Dia.


Namun belum sampai Dia berada di depan kulkas, Bu Salma menetap setiap inci tubuh menantunya itu tersebut. Merasa ada yang aneh jadi, Bu Salma memutuskan untuk bertanya langsung pada sang pemilik tubuh tersebut.


"De, bisa kah kamu menghadap Ibu." Bu Salma meminta agar Dia menghadap beliau. Sedangkan Dia merasa di tatap pun merasa risih.


Astaga, gue lupa kalau ini leher penuh dengan gigitan nyamuk. Dia merutuki kebodohannya karena dengan tanpa sengaja itu sama saja ia memperlihatkan apa yang ada di sekitar lehernya.


"De," panggil Bu Salma lagi.


"I-iya Bu." Jawab Dia.

__ADS_1


"Itu leher kamu sampai dada kenapa merah-merah?" tanya Bu Salma. Bukan beliau tidak tahu akan tanda yang ada di leher menantunya itu. Namun Bu Salma hanya ingin memastikan kalau dugaannya tidak salah.


Jika Dia sedang di sidang oleh mertuanya, lain halnya dengan Adi, yang lebih banyak diam karena ulahnya juga yang terlalu ganas bak serigala hingga membuat Dia terpojok.


"Digigit ... Digigit ... Semut, Bu." Dia menjawab dengan sedikit bingung, karena ia takut kalau-kalau dirinya salah ucap.


"Apa semut nya besar, sehingga semua leher kamu di gigit habis." Ujar Bu Salma dengan tatapan penuh selidik.


"I-ya Bu, semut nya ukuran jumbo." Dia menjawab dengan senyuman yang sedikit di paksakan agar mertuanya tidak terlalu curiga padanya.


"Wah, ternyata semut nya ganas juga ya." Ucap Bu Salma dengan netra melirik ke arah Adi. Sedangkan Adi merasa di tatap hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Bu, mengapa Ibu menatapku seperti itu. Aku bukan maling! Jadi Ibu jangan menatap dengan tatapan seseorang tengah mempergoki maling," sergah Adi dengan wajah yang tak bisa di artikan. Tentunya seperti maling yang ketahuan mencuri lalu di hakimi.


Dia juga diam, tidak berani berkata atau menjawab, karena ia sendiri hampir mirip narapidana yang sedang di sidang.


"Kenapa wajah kalian tegang?" tanya Bu Salma pada mereka berdua.


"Tidak kenapa-kenapa, Bu." jawab Adi Dan dia berbarengan.


Baguslah kalau mereka sudah kikuk-kikuk. Ah gak sabar udah pengen banget gendong anak kodok, tapi ngomong-ngomong mengapa anakku begitu ganas bak serigala yang sedang kelaparan. Sampai-sampai hampir tidak ada celah di leher menantuku itu, semua merah. Apa saking semangatnya nya? Bu Salma tersenyum sendiri kala melihat mereka sudah melakukan kikuk-kikuk.


"Lho kemana mereka? bukanya barusan di sini ya," gumam Bu Salma, karena saat dirinya sadar dengan khayalannya Adi dan Dia sudah tidak ada di tempat.


...----------------...


Sedangkan pasangan pasutri itu tertawa terbahak-bahak karena melihat wajah Bu Salma saat berkhayal, entah apa yang di bayangkan hingga mulut di maju mundurkan seperti ikan lohan.


Mereka berdua sekarang berada di kamar, sedangkan di bawah hanya ada Bu Salma marah-marah akibat ulah kedua manusia somplak tersebut.


"Lihat apa yang Om lakukan." Ujar Dia menunjukkan tanda yang ada di leher serta dadanya, akibat keganasan suaminya. Dia merasa seperti macan tutul saat ini.


"Itu tanda kepemilikan tolong jangan di hapus," ucap Adi.


"Tidak usah membuat lelucon, karena ulah Om. Aku di tatap bak perempuan nakal." Ucap Dia menjelaskan.


"Itu mah orang sirik, kesayangannya Om duda, istrinya Om suami." Adi merespon ucapan Dia walau lirih tapi masih bisa di dengar.

__ADS_1


"Tau ah, kesel banget sekarang." Lalu Dia berjalan ke arah kamar mandi untuk menggosok bekas gigitan serigala, siapa tahu saja bisa hilang walau tidak sepenuhnya pikir Dia.


Sedangkan Adi memilih berbaring, hingga tanpa terasa dirinya mengeluarkan dengkuran halus.


__ADS_2