Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
132. KEDATANGAN RIKI DI ACARA KELULUSAN CAHAYA


__ADS_3

Dengan langkah yang tergesa-gesa, Riki berlari kecil untuk bisa mencapai Cahaya yang berada di dekat mobil.


"Sayang maafkan, Mas." Riki memegang kedua tangan Cahaya dan meminta maaf akan keterlambatannya, di saat acara yang sangat penting ini. Namun, semua itu bukanlah mau nya datang terlambat.


"Tidak apa, toh ada ayah dan mama yang sudah hadir." Jawab Cahaya dengan membuang muka ke arah samping.


"Mas, benar-benar meminta maaf. Tadi di jalan macet total karena ada kecelakaan, lalu aku memutuskan untuk menaiki ojek dan berharap jika kalian masih berada di sini." Riki mencoba memberi penjelasan kepadanya Cahaya, berharap ia mau menerima semua yang sudah di jelaskan nya.


Yah, setelah mereka bertunangan bahasa mereka menjadi halus dan sudah tidak ada kata saya atau pun elu gue. Riki pun sudah tidak seformal kemarin-kemarin sekarang, dirinya jauh lebih hangat di banding sebelumnya.


Untuk sesaat Cahaya menatap lekat ke arah lelaki yang ada di depannya. Mencari kebohongan yang ada di wajah lelaki tersebut. Namun, semua itu tidak di temukan oleh Cahaya sama sekali.


"Apa Mas, sedang tidak berbohong." Dengan ragu Cahaya berkata.


"Mas, tidak pernah bohong." Jawab Riki penuh keyakinan.


"Baiklah aku percaya," ujar Cahaya dengan senyuman yang tercetak di sudut bibirnya.


"Oh ya, ini ada bunga buat kamu. Selamat ya akhirnya kamu lulus juga," ucap Riki memberikan sebuah buket bunga dan memeluk Cahaya begitu dalam.


Adi dan Dia pun ikut terharu akan keduanya, ia tidak menyangka bahwa sosok teman sekarang berubah menjadi calon menantunya.


"Sudah, sudah sekarang baiknya kita pergi untuk merayakan hari kelulusan Cahaya." Dia pun membuka percakapan agar mereka segera masuk ke dalam mobil.


"Bagaimana kalau kita acaranya makan-makan," usul Adi pada semuanya.


"Boleh, calon Ayah mertua. Kita makan di tempat yang menyediakan bakaran," ucap Riki menimpali.


"Boleh juga tuh," sahut Cahaya.


"Baiklah kita akan ke sana sekarang," tukas Dia pada semuanya.


Akhirnya mobil di nyalakan dan menuju ke tempat rumah makan langganan mereka.


Sekitar satu jam kemudian.

__ADS_1


Hamparan sawah yang sangat luas, serta angin sepoi-sepoi membuat siapa saja akan merasakan kedamaian.


Di rumah makan yang sangat terlihat asri, akan tanaman padi. Membuat siapapun akan merasa damai.


"Sejuk kan?" tanya Cahaya pada Riki.


"Iya, membuat damai hati kita." Jawab Riki.


Sekitar setengah jam.


Gurami bakar dan ikan bawal sudah terhidang di depan mata mereka, aroma khas arang. Membuat semua sudah tidak sabar untuk menikmatinya.


Untuk sesaat mereka semua dengan hikmat menikmati semua sajian di tengah hamparan sawah yang hijau.


...----------------...


Hampir seharian mereka semua kuliner hingga tanpa sadar waktu sudah menunjukkan di angka tujuh malam.


Di kediaman Cahaya.


"Sayang, kamu udah gede dan bentar lagi dah mau jadi istri juga." Dia menggerutu soal Cahaya yang mulai menjadi manja.


"Mumpung belum jadi istri kan, Ma. Jadi boleh dong manja-manjaan sama Mama," ujar Cahaya cengengesan.


"Ay, gak kerasa kamu sudah dewasa. Perasaan baru juga kemarin kamu di gendong," ucap Dia dengan mengelus lembut rambut Cahaya.


Saat tengah asik bercengkrama tanpa mereka sadari jam yang bertengger di dinding sudah menunjukkan angka sepuluh malam.


"Ma, aku tidur dulu. Udah ngantuk," pamit Cahaya pada sang mama.


"Iya sayang," timpal Dia pada putrinya.


Akhirnya mereka berdua masuk ke dalam kamar masing-masing.


Tadi sebelum Adi meninggalkan rumah, ia sudah meminta sang istri untuk tidak menunggunya. Karena kemungkinan dirinya akan pulang sedikit larut dari biasanya.

__ADS_1


Sedangkan di tempat lain di mana Adi berada. Yah, tadi ia sempat berpamitan pada sang istri untuk keluar karena ada proyek baru yang perlu dibahasnya.


Di tempat yang sangat bising, terdengar suara alunan musik yang di bawakan oleh DJ. Mengalun seirama dengan jogetan semua mahluk tuhan, yang mencari sebuah kesenangan demi kenikmatan.


Harusnya Adi menolak untuk bertemu club jika malah dirinya malah yang harus terjebak di antara, wanita-wanita dengan tubuh seksinya serta gaun yang belum selesai di jahit.


Dalam benak Adi, apa mereka tidak masuk angin, atau merasakan dingin dan, bisa saja berakibat kembung.


"Tenang saja Pak, ini minuman tidak ada alkoholnya jadi Bapak aman untuk meminumnya." Klien Adi mencoba untuk memberi tahu jika minumannya aman dikomsumsi.


"Maaf, bukan saya menolak. Saya sudah membawa aqua karena saya juga. Tidak terbiasa meminum minuman seperi itu!" ucap Adi penuh dengan penekanan.


"Apa takut jika saya jebak," ucap pria yang sengaja meminta Adi untuk bertemu di dunia para manusia yang kurang kerjaan menurutnya.


"Saya sudah mengatakan kalau saya tidak terbiasa meminum minuman seperti itu, memang karena saya tidak suka." Jawab Adi dengan tanpa ekspresi.


Adi bukan tidak mau, ia hanya berusaha menjaga tubuhnya dari wanita malam. Yang bisa saja karena di jebak hingga membuat kupu-kupu itu hinggap, di tubuh Adi.


Adi tahu semua itu hanya akal-akalan pria botak tersebut karena dalam dunia bisnis, maka ada orang yang sengaja menjatuhkan lawannya. Dengan cara licik pun dilakukannya.


Adi sudah tidak tahan karena merasa risih oleh wanita-wanita yang terus saja menggodanya.


"Sial, kenapa juga aku harus menuruti semua ini! Tahu begini aku tidak akan sudi menginjakkan kaki di tempat ini," umpat Adi di dalam hatinya karena ia merasa telah di jebak dengan kline nya.


Dua orang terus memandangi Adi dengan senyuman menyingrai. Adi yakin kalau tidak ads yang beres dan sepertinya pulang ada hal yang tepat.


"Oh iya, apa masih ada yang kita bahas. Jika tidak saya permisi mau palang karena ini sudah jam 00:00 takut kalau istri saya lama menunggu," ucap Adi beralasan.


"Kita sudah lama tidak bertemu, masa Bapak baru jam segini sudah mau pulang. Nikmatilah suasana di tempat ini, mari kita bersenang-senang sejenak." Pria yang berkisar umur (40) itu, mencegah Adi yang ingin pulang.


Adi menghela nafas kasar karena dirinya tidak dapat pulang. Jika bukan karena bisnis mungkin saja ia akan pergi dari tempat laknat itu.


Orang itu meneguk wine yang berad di depan mata, dikerubungi eh tiga wanita di antara ada yang menuangkannya dan yang lain, sibuk dengan kedua pria itu.


Ketiga wanita bak ulat bulu yang terkena sinar matahari hingga sampai-sampai mereka tidak bisa diam.

__ADS_1


Bukan tatapan nafsu yang ada di dalam diri Adi. Melainkan tatapan jijik karena para wanita itu juga berusaha untuk menggodanya. Dengan cara bergelayut manja.


__ADS_2