Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
BAB 36. Semua Karena Toge


__ADS_3

Satu hari, seminggu dua minggu, dan sebulan sudah mereka menjadi suami istri, entah rumah tangga macam apa yang di perankan oleh keduanya, nyatanya mereka seperti anak SD yang memainkan permainan manten-mantenan, berantem, saling ejek dan saling berbeda pendapat membuat mereka di penuhi oleh pertengkaran kecil. Layaknya anak TK, jika rasa kesal itu hilang maka mereka akan kumpul lagi. Dan mereka juga akan menjadi aktris atau pun aktor saat mereka bertemu kedua orang tua dari masing-masing seperti sekarang ini. Mereka sukses memainkan drama dengan apik.


DI RUMAH ADI.


"Mak besan, kapan kita punya anak kecebong nya," Bu Rosma berbicara dengan sang besan perihal anak-anak mereka.


"Aduh Bu besan, De saja masih 18tahun masa iya mau momong kecebong." Protes Mak Ita pada Bu rosma.


"Gak ada masalah dengan umurnya Mak besan," ujar Bu Rosma.


"Iya memang gak ada urusannya sama umurnya, yang jadi masalah itu kelakuannya? Noh lihat." Mak Ita langsung memberi kode pada besannya untuk melihat apa yang di tunjukan oleh besannya.


"Astoge, benar-benar." Geram Bu Rosma saat melihat tingkah mereka seperti bocah.


"Nah tau kan, mengapa saya melarang De untuk menunda punya tuyul." Ucap Mak Ita.


"Tapi Adi uda tua, nanti keburu ubanan, dan lagi pula Mak besan mau punya mantu pakai tongkat." Bu Rosma berbicara dengan sedikit takut, jika anaknya akan di buang karena ke dahuluan tua, sedangkan De masih cantik dan ada kemungkinan De akan meninggalkan anaknya.


"Ogah, udah punya mantu duda terus gak lama si mantu jalan pakai tongkat, hii. Moh aku besan." Rupanya Mak Ita juga tidak mau sampai punya mantu seperti itu.


Jika sepasang besan tanpa suami itu, membahas seputar anak-anaknya lain halnya dengan Adi dan Dia.


Dapur yang sudah seperti kapal pecah semua sayuran berterbangan karena aksi mereka saling lempar dan di iringi gelak tawa. Membuat para orang tua mereka menepuk jidatnya.


Pakh.


Pukh.


Pyang.


Alhasil semua sayuran hancur dan tak bisa di olah dan menjadikan makanan.

__ADS_1


Dan tak berapa lama kemudian.


"Adi! Dia, apa yang kalian lakukan huh." Bu Rosma menghampiri mereka di dapur dan betapa terkejutnya saat melihat sayuran saling bertebaran, meja yang bersih kini di penuhi oleh tepung, dan tentunya juga wajah meraka yang sudah mirip badut.


"Kalian itu sudah menikah, mengapa seperti bocah saja!" sergah Bu Rosma yang begitu marah saat melihat pemandangan yang tak enak di lihat.


"Ini semua gara-gara Om suami Bu," ujar Dia.


"Enak saja, kamu duluan istri kecil." Adi tak terima.


Kamu.


Kamu.


Kamu.


Prang... Brak...


Mak Ita melihat pemandangan yang ada di depannya membuatnya muak, lalu menghampiri mereka dan membanting nampan dari stanlies. Hingga semuanya diam tanpa mengeluarkan suara.


Aish Emaknya singa bangun, bisa gawat ini. Gumam Adi di dalam hatinya.


Wah, sadis amat Mak besan yang satu ini, udah mirip kek guk guk saja. Bu Rosma hanya bisa membatin tanpa berkata apapun karena melihat besannya untuk pertama kalinya marah sampai membanting barang. Membuat nyali Bu Rosma ciut karena saking garangnya.


"Sekarang bersihkan atau gak! kalian bakal Mak gantung di pohon toge." Ucap Mak ita sambil berlalu meninggalkan mereka bertiga, sedang ketiganya hanya menggaruk kepalanya karena seperti ada yang mempermainkannya.


"Pohon toge mana bisa buat gantung Di?" tanya Bu Rosma pada anaknya.


"Iya Bu, pohon toge kan kecil. Dan lebih besaran jamur, udah gitu kan pohon toge enggak beranting." Ujar Adi pada Ibunya.


Anak dan Ibu terus berpikir untuk mencari jawaban, sedangkan Dia mengumpat mereka yang tak lain adalah mertuanya serta suaminya, dan betapa bodohnya mereka sampai-sampai mondar mandir hanya karena masalah pohon toge.

__ADS_1


Berapa lah panjangnya toge gak ada satu jari, emang bisa apa buat gantung, dasar suami dan mertua bodoh mau saja di kerjain sama Emak. Dia menghela nafas dalam-dalam karena yang somplak bukan hanya suaminya, tetapi mertuanya ternyata parah juga.


Jengah dengan mereka berdua yang masih membahas toge, akhirnya Dia pun mengeluarkan suaranya.


"Sampai kapan kalian akan membahas toge, dan sampai kapan pun pohon toge itu tak beranting maupun berdahan!" Dia meneriaki mereka bukan maksud durhaka dengan mertuanya, tetapi mereka benar-benar membuat kepalanya pusing.


"Oh ya, satu lagi! Om suami tolong bersihkan ini dapur, saya mau cari makanan untuk makan siang kita."


Adi diam dan tak protes mau pun marah, begitu juga Bu Rosma yang kaget dengan menantunya, dan yang sekarang ada di otaknya ternyata yang satu Emak singa yang satunya lagi Turunan macan tutul.


"Di istrimu kalau marah sudah seperti macan tutul ya." Masih dengan wajah bodohnya Bu Rosma berkata tentang julukan menantunya.


Eh, bukan saya saja yang bilang Ibu juga memberi julukan yang sama dengan ku, kalau ternyata Emak dan anak mirip singa dan macan. Adi bergidik jika membayangkan.


"Di terus bagaimana nasib kita, apa benar-benar akan di gantung di pohon toge?" lagi-lagi Bu Rosma bertanya serta mengungkit tentang misteri pohon toge yang tidak ada dahannya.


"Entah lah Bu, dan sepertinya jangan membahas lagi soal pohon toge, jika tidak! Kita akan benar-benar di gantung di pohon toge.


Takut terkena semburan beracun dari mulut istri kecilnya itu, hingga Adi membersihkan dapur yang semula berantakan menjadi bersih lagi.


Rasa capek yang menguasai karena dirinya hanya membersihkan seorang diri, karena Bu Rosma sedang berada di pulau kapuk(di alam mimpi).


Dan Adi pun tak henti-henti mengomel tak jelas.


Yah Bu Rosma Dan Mak Ita di minta Adi untuk datang ke rumahnya, tujuannya adalah supaya bisa saling mengenal karena mereka belum pernah bertemu sejak anak-anaknya menikah, dan di bulan ke satu Adi dan Dia menikah, mereka memutuskan untuk libur, dan tentunya Dia dengan alasan yang tepat dan Indah salah satu temannya memberi dukungan kecuali yang lain. Dan Adi, Adi seorang bos tentunya tak perlu meminta izin pada siapapun termasuk istri kecilnya itu.


Tak berapa lama Adi mendengar suara ucup, itu tandanya istri serta mertuanya pulang.


"Sayang dapurnya udah bersihkan?" tanya Dia yang memulai bersandiwara lagi.


"Udah dong sayang," timpal Adi dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.

__ADS_1


"Kamu beli makanan apa sayang," Adi menanyakan makanan apa yang di beli oleh istrinya.


"Pokoknya makanan yang bisa di makan, ya sudah panggil Ibu, biar ku siapkan makanannya." Setelah menyuruh suaminya untuk memanggil Ibunya, sedangkan Dia dan Emak, menata makanan di meja makan.


__ADS_2