Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
119. PENGAKUAN CAHAYA


__ADS_3

Seseorang keluar dari dalam mobil dan benar saja, itu Cahaya bersama Riki.


Dia dan Adi melihat keduanya turun bersamaan dan entah apa yang dibicarakan karena ia tidak dapat mendengar semua itu.


Sedangkan di luar Cahaya menawari Riki untuk masuk namun yang ada dirinya menolak ajakan dari Cahaya, bukan tanpa alasan yang nanti dirinya tidak akan bisa keluar jika sudah berhadapan dengan Dia, maupun dengan Adi, selaku orang tua dari kekasihnya saat ini.


“Mampir,” kata Cahaya.


“Tidak kapan-kapan saja” tolak Riki datar.


“Kenapa?” tanya Cahaya pada Riki.


“Apa kamu mau saya tidak bisa pulang hanya karena mama dan ayah kamu,” ucap Riki yang pasti Cahaya tahu arah ucapan tersebut.


“Ya sudah kalau begitu, aku masuk dulu.” Cahaya lalu pamit untuk segera masuk kepada Riki.


“Iya, lekas ah masuk karena mereka sudah menunggu kamu.” Sengaja Riki berkata seperti itu karena dirinya, tidak sengaja melihat kedua orang tua cahaya sedang berada di ambang pintu.


Sesaat Cahaya pun melirik ke arah gerbang dan benar saja jika mama dan ayahnya, sedang bersendakap dada diambang pintu.


“Dasar orang tua kepo, pengen tahu saja apa yang dilakukan oleh ku,” gerutu Cahaya dalam hati yang tak menyangka jika orang yang sedang berada di dalam sana, ingin tahu keadaan di luar saat ini bersama Riki.


“Buruan masuk,” ucap Riki lagi.


“Iya,” hanya itu yang keluar dari bibir Cahaya dan setelah itu, Cahaya masuk dengan menggeser pagar.


Sesampainya di dalam Cahaya menatap dua orang tersebut dengan tatapan aneh.


“By, bagaimana kalau kursi ini di pindah saja,” Dia pura-pura tidak melihat Cahaya yang berada di sampingnya dan dengan begitu, ia juga tidak di tuduh orang tua kepo dengan anaknya.


“Iya sayang nanti kalau suami kamu ini pulang kerja tidak tersandung, oleh kursi.” Jawab Adi yang mengikuti permainan sang sang istri.


Sedangkan Cahaya menggaruk-nggaruk kepalanya yang, sesungguhnya tidak gatal dan, merasa kesal juga karena di abaikan.

__ADS_1


Para orang tua itu sibuk dengan hal yang tidak penting hingga akhirnya Cahaya menghetakkan kakinya.


“Kamu kenapa?” Dia pura-pura bertanya saat Cahaya menghentakkan kaki tepat di sebelah sang mama.


“Mengapa kalian mengabaikan aku,” ujar Cahaya dengan wajah ceberutnya.


“Kami kan tidak tahu kalau kamu sudh pulang,” sela Di dengan wajah di buat bingung.


"Apa yang di bilang mama kamu itu benar, kalau kami tidak tahu kalau anak tersayang kami sudah pulang." Adi yang ikut menjawab pun harus memasang tampang bodoh agar si anak tidak curiga.


Cahaya memonyongkan bibirnya karena sungguh sangat kesal pada mereka. Bisa-bisanya keduanya berbohong nyata-nyata tadi dirinya sempat melihat, kalau mama dan ayahnya sedang mencuri pandang terhadapnya saat masi, berada di luar gerbang dengan Riki.


"Kalian menyebalkan," ucap Cahaya dan setelah itu ia langsung melangkah masuk ke dalan tanpa memperdulikan orang yang berada di luar.


"Sepertinya putri kita sedang marah," Adi berkata pada sang istri.


"Sepertinya iya," ucap Dia.


"Yuk masuk, sudah lapar." Adi mengajak Dia untuk masuk sekaligus mengajaknya makan malam karena perutnya, ingin cepat-cepat meminta asupan gizi.


Sesampainya di dapur, Dia menyiapkan makan malam untuk anak dan suami.


Pukul tujuh malam, semua sudah berkumpul di meja makan dan dengan segera makan.


Adi tanpa sengaja memicingkan mata saat netra nya menangkap ada yang aneh dari jari putrinya.


Untuk memastikan maka Adi harus bertanya karena tadi pagi, ia tidak melihat benda bulat bertengger di jari manis milik Cahaya.


"Ay, itu dapat dari mana?" tanya sang ayah dengan sendok yang mengarah kepada sang putri.


"Yang mana?" Cahaya mengerutkan keningnya saat ayahnya bertanya tentang apa, yang ia belum mengerti.


"Kau jangan pura-pura tidak tahu, Ay." Adi mendengus kesal karena Cahaya tidak tahu apa yang dikatakan olehnya.

__ADS_1


Dia yang tadinya fokus pada isi piringnya, kini menatapa kedua orang yang berada di antara kiri dan kanannya.


"Kalian sedang membahas apa?" Dia yang penasaran memilih bertanya karena dirinya tidak tahu apa yang di ributkan, oleh anak dan suaminya itu.


"Coba kamu lihat apa ada yang aneh pada jemari Cahaya atau tidak," ucap Adi pada Dia yang menyuruh untuk melihat yang ada di jari anaknya.


Dia pun langsung meneliti satu persatu jari Cahaya,


"Cincin."


Dia memgerutkan keningnya saat melihat cincin yang melingkar manis di jari Cahaya.


"Kamu mendapatkan cincin itu dari 'Riki' bukan," ucap Dia yang langsung mengarah pada satu nama.


Cahaya baru sadar jika dirinya masih memakai cincin pemberian dari Riki, padahal dirinya sudah berniat akan melepaskan agar mama dan ayahnya tidak tahu. Akan tetapi, sifat pelupa Cahaya membuat kedua orang tuanya mengtahuinya.


"Da-dari om Riki, Ma." Jawab Cahaya dengan suara lirih.


"Sudah ku duga, dalam rangka apa dia ngasih cincin mahal sama kamu?" Dia semakin banyak bertanya dan berharap jika putrinya mau berkata jujur.


Cayaha bingung harus menjawab apa? nyatanya itu cincin hadiah dari yang ia terima saat Riki sedang melamarnya tadi sore.


“Ay,” panggil Dia lagi.


“Ma, jika aku menikah dengan om Riki apa kalian akan merestui kami.” Entah keberanian dari mana hingga Cahaya demikian.


Sejenak keadaan pun jadi hening dan entah apa yang harus dikatakan oleh seorang Dia. Dirinya masih teramat bimbang untuk memberi restu kepada anaknya, yang di mau Dia adalah Cahaya harus belajar setinggi mungkin untuk bisa mencapai sebuah cita-cita yang ia mau, tapi ... sekarang yang ada di otak sang anak hnya ingin menikah dan menikah. Haruskah ia merelakan anak semata wayangnya kepada ‘Riki’ sosok yang pernah masuk ke dalam hatinya dulu dan sekarang, semua akan berubah seketika dan berganti status menjadi menantu.


“Ay, lanjutkan makan dulu. Mama ada sesuatu yang terlupa di atas dan mau mengeceknya.” Dia langsung berdiri dari tempaat duduknya dan kakinya melangkah, meninggalkan meja makan. padahal ia belum selesai makan hanya karena mendengar permohonan dari Cahaya.


“Yah,” Cahaya menatap sang ayah. berharap ayahnya maau membantu nya untuk mendapatkan restu dari mamanya.


“Habiskan makananmu, Ayah akan menyusul mama di atas.” Adi menyuruh Cahaya tidak meninggalkan makanannya juga dan menyuruh sang anak untuk menghabiskan.

__ADS_1


Adi sudah berjalan menaiki satu persatu anak tangga dengan langkah yaang begitu cepat, sesampainya di kamar. Netra Adi menyusuri semua ruangan dan matanya sekilas melihat Dia berada di balkon.


Adi segera menghampiri istrinya lalu memeluknya dari belakang dan melingkarkan kedua tangannya di perut ramping tersebut.


__ADS_2