
"Sejak kapan Om, ada di situ?" Cahaya menatap orang yang berdehem barusan.
"Yang pasti tahu apa saja yang kamu obrolkan," kata Riki dengan posisi bersandar di tembok.
Cahaya sedikit merasa malu karena sudah terpergok oleh Riki.
"Sekarang baiknya kita segera keluar karena takut mama kamu akan semakin cemas," terang Riki.
Akhirnya mereka semua bersiap untuk keluar.
Malam ini terpaksa Riki mengantarkan kedua perempuan itu dengan mobilnya. Sedangkan mobil milik Cahaya dibiarkan terparkir di rumah Riki.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tidak berapa lama keduanya sudah berada di rumah, milik Cahaya dan Rury pun ikut menginap di tempatnya.
Tok.
Tok.
Tok.
Cahaya pun mengetuk pintu dan tidak berapa lama sosok perempuan yang masih, terbilang cantik itu. Perlahan membuka pintu.
"Aya, kamu benar-benar keterlaluan ya!" sungut Dia yang teramat kesal pada putri satu-satunya itu.
"Maaf, tadi ketiduran di rumah om Riki. Tadi perutku tiba-tiba sakit dan gak sengaja ketemu sama om Riki di jalan," dengan suara yang sudah bergemetar Cahaya menjelaskan apa yang sudah terjadi padanya.
"Baik lah calon Ibu mertua, menantumu ini pamit pulang dan salam buat calon ayah mertua yang menyebalkan itu."
"Apa kau bilang."
Nyatanya Adi sudah sedari tadi di belakang sang istri dan duduk di pojok. Sehingga semuanya tidak tahu akan Adi yang mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Dasar belum juga jadi menantuku sudah berani kau ya denganku," seru Adi dengan berkacak pinggang.
"Mau kau ku pecat dan tidak jadi menikah dengan putriku," tambah Adi lagi.
"Eh jangan dong, calon Ayah mertua." Akhirnya Riki mengalah dan memohon agar pernikahannya tidak di batalkan.
"Cahaya segera masuk dan kamu juga Rury," titah Dia pada kedua anak remaja yang berada di sampingnya tersebut.
"Iya, Ma."
"Iya, Tante." Jawab mereka berdua dan kini hanya menyisakan Adi, Dia dan juga Riki.
"Apa kamu juga tidak ingin pulang," ucap Dia pada Riki yang masih berdiam dan berdiri.
"Apa kalian tidak ingin menawari saya duduk, atau memberikan minum.” Riki berkata dengan tangan menggaruk kepalanya yang sepertinya tidak gatal.
__ADS_1
"Kau sangat tidak sopan, bisa-bisa meminta apa yang kau mau. Memangnya ini rumah kamu apa!" sergah Adi pada pria yang suka semaunya.
"Gak boleh ya, ya sudah kalau begitu saya pulang."
"Ya sudah pulang sana," ucap Adi.
Sedangkan Dia dalam hati menggerutu karena tiap bertemu mereka selalu saja bertengkar, entah itu hanya kata-kata ucapan atau sebatas gurauan. Bisa membuat berselisih paham di antara kedua orang beda generasi tersebut.
Dia yang mulai jengah akhirnya memilih untuk meninggalkan mereka berdua. Muak melihat tingkah lelaki yang tidak mau mengalah. Pada akhirnya kaki Dia melenggang masuk dan menutup pintu tanpa mereka sadari.
Sesaat Adi berteriak kala pintu terkunci. Sedangkan Riki yang tanpa sengaja melihat semua itu. Sedikit memberikan hiburan karena sosok calon ayah mertua yang dipanggilnya, bukan hanya menyebalkan. Namun, tipe suami takut istri.
"Rasain makan tuh, tidur di luar nyaho kan." Riki masih sempat menertawakan Adi di dalam hatinya.
Tok.
Tok.
Tok.
"Sayang, sayang." Adi terus memanggil-manggil nama sang istri. Berharap pintunya akan segera terbuka.
"Sayang, bukan dong pintunya." Adi masih merengek untuk di bukakan pintu.
Sedangkan Dia di dalam mencoba acuh dan masih menikmati cemilannya, di ruang TV.
Riki yang sudah di perjalanan pulang dan di luar hanya ada Adi yang terus berteriak.
Di rasa sudah cukup Dia memberikan hukuman kepada suaminya, lalu berdiri untuk membuka pintu.
Ceklek.
Dia yang sudah membukakan pintu, terlihat suaminya duduk di teras dengan kaki yang berselanjar. Mata yang terpejam, membuat dirinya merasa bersalah terhadap Adi.
Dia berjongkok dengan mata yang menatap lekat ke arah sang suami.
"Andai kamu tidak berdebat, mungkin aku tak melakukan hal ini kepadamu, By. Kamu kenapa juga harus bertengkar dengan Riki," ucap Dia lirih.
Lalu secara perlahan Dia menepuk bahu Adi untuk dibangunkan nya karena sekarang sudah pukul sembilan malam.
"Sayang bangun," Dia beberapa kali menepuk bahu sang suami namun belum juga bangun.
Hingga akhirnya Dia memilih jalur pintas. Ya itu dengan cara mencabut bulu yang berada di kakinya.
Ctak.
Aaaaaaaa..
Adi berteriak sambil memegangi kakinya yang entah sudah berapa bulu yang di cabut oleh Dia. Namun, dengan bangga Dia malah memberi tahu ada banyak bulu yang di cabut olehnya.
__ADS_1
"Sayang apa yang kamu lakukan," sergah Adi pada Dia yang masih tersenyum dengan hasil yang ia dapat.
"Nih, dapat banyak kan." Jawab Dia sembari meletakkan bulu itu di tangan Adi. Adi langsung menepuk jidatnya karena merasa dirinya sudah dikerjai oleh sang istri.
"Bisa tidak kamu membangunkan suamimu ini dengan cara halus," sungut Adi lagi karena merasakan panas akibat cabutan yang ada di kakinya itu.
"Salah sendiri orang tidur kek orang habis minum arak saja!" Dia menjawab lalu berdiri dan setelah itu pergi lagi meninggalkan Adi.
"Harusnya kan yang marah aku, kenapa pula dia yang marah lagi?" gumam Adi dan setelah itu dirinya berdiri untuk masuk ke dalam.
Kini semua mata sudah terpejam karena malam pun kian larut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan paginya
Pukul 6:00.
Rury sudah lebih dulu bangun untuk membantu Dia yang memasak untuk mereka sarapan.
"Tante, mau masak apa?" Rury bertanya pada Dia yang sedang memetik daun kangkung kesukaan suami tercintanya.
"Mau buat tumis kangkung, udang krispy, ayam goreng sama mau buat nasi goreng." Dia menjelaskan apa saja yang akan di masaknya.
"Baiklah aku bantu ya," tawar Rury.
"Boleh, kamu petik satu persatu kangkung itu dan kalau sudah cuci yang bersih." Ucapan Dia di respon dengan sebuah anggukan dan senyuman manis di bibir Rury.
"Ry, kamu sudah punya pacar?" tanya Dia tiba-tiba.
Rury pun menghembuskan nafas kasarnya dan itu terdengar di telinga Dia.
"Kenapa?" tanya Dia lagi karena sepertinya sedang ada yang tidak beres dengan Rury, sosok gadis remaja yang sudah dianggapnya anak sendiri.
"Putus Tan," ucap Rury lesu.
"Kok bisa," Dia sedikit terkejut. Pasalnya Rury jika di tanya maka jawabannya selalu 'tidak punya' tapi entah, untuk pagi ini Rury berkata jujur namun ternyata sudah putus.
"Tan, sosok lelaki yang baik itu seperti apa sih." Rury ingin tahu tentang lelaki yang baik serta bertanggung jawab.
"Lelaki yang baik tidak akan menyakiti hati kita, tidak akan membanding-bandingkan kita dengan orang lain. Orang yang baik serta bertanggung jawab itu, mampu menjaga wanitanya hingga saat sah di depan penghulu." Kata-kata Dia mampu membuka mata Rury akan kekasihnya yang tidak baik, nyatanya tidak ada di dalam ucapan Dia sama sekali.
Dalam benak Rury mungkin ini lah saatnya ia mencurahkan isi hatinya kepada wanita yang berada di sampingnya.
"Tante," panggil Rury lirih.
"Iya sayang," timpal Dia.
"Aku ... Aku...."
__ADS_1
"Aku kenapa!"