Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
BAB 24. Jangan Panggil Saya Om Duda


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, mereka tak ada saling menyapa. Tapi Dia terpaksa memulai percakapan di karenakan motornya yang berada di resto.


"Bisa kah saya di antar ke resto saja untuk mengambil motor,"


"Apa kamu sedang mengajak seseorang berbicara,"


"Apa anda tak merasa, atau jangan-jangan saya sedang berbicara dengan setan."


"Menurut mu, kamu sedang mengajak bicara siapa?"


"Apa anda tak merasa,"


"Tidak! Karena jika ada yang mengajak dan menyuruh bukan kah sepantasnya memanggil nama orang itu."


"Oh, ok. Baik lah Om duda, bisa antar kan saya ke resto untuk mengambil motor saya," dengan perasaan yang dongkol dan sedikit senyuman yang di buat-buat Dia mengutarakan maksudnya.


"Mengapa kamu harus memanggil dengan sebutan itu, jika ada orang yang tau kalau saya seorang duda. Maka, tak ada yang mau."


Hahahaha.


"Stop! Jangan tertawa, ganti panggilan." Titah Adi pada Dia.


Dasar orang! duda, ya duda saja kenyataan berdasarkan fakta tapi ogah di sebut duda. Batin Dia.


"Dasar aneh" gumam Dia.


"Apa kamu mengatakan sesuatu."


"Tidak!"


"Memangnya saya harus memanggil apa?" tanya Dia, karena tiap dirinya memanggil dengan sebutan yang seharusnya bukannya menerima malah menolak dengan seribu bayangan..


Eits, ini bukan naruto thor kamu salah sebut. Ah iya ya, maksudnya seribu alasan. Nah itu baru betul.😁😁


"Terserah,"


"Baik lah Mas duda."


"Kenapa harus ada embel-embelnya sih," sungut Adi.


"Eum, baik lah Abang ganteng."


"Terlalu lebay De," protes Adi lagi.


"Bagaimana kalau Mas sayang."


"Tidak buruk, seperti dua orang pasangan yang terikat sebagai suami istri." Timpal Adi, dengan senyuman yang menawan.


"Enak di situ gak enak di saya tau,"


"Lho kok gitu," Adi mengerutkan keningnya karena tak tau apa maksud Dia.


"Iya lha, tanpa sengaja saya seperti jalan sama om-om, dan jadi sugar baby."


Hahahaha.


Adi tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Harus nya kamu seneng dong jalan sama om, iya gak, iya gak, iya dong masa gak."


Dia bergidik ngeri melihat kelakuan bos somplaknya, karena dengan wajah mesumnya dirinya menggoda Dia, dan memainkan salah satu matanya, lebih tepat nya mengedip kan.


Hiiii.


" Dasar gila!"


"Apa kamu sedang memuji ku lagi."


"Sepertinya iya, karena pujian itu cocok untuk bos somplak seperti anda."


Ck..ck..


"Dasar bocah bermulut cabe."


"Sudah lah lebih baik nyalakan mesinnya dan segera melanjutkan perjalanan, karena yang pertama, saya gak mau di jadiin perkedel sama Emak. Dan yang kedua, saya gak mau kelewatan untuk sholat magrib."


Adi tak menjawab, tapi langsung menyalakan mesin mobilnya dan segera melajukan kendaraannya.


Biarpun tengil bar-bar, sholeha juga nih bocah, aaaaah idaman banget sih. Adi terkikik geli saat dirinya membayang seperti apa nantinya jika dirinya dan Dia, menikah.


Dia, yang tak sengaja menoleh ke arah bos nya, menautkan kedua alis nya sambil menaruh jemarinya di dagu, saat melihat bos nya itu tersenyum di sepanjang jalan.


Apa bos gue udah gila, atau habis ketempelan di pantai tadi, ih kok ngeri ya gue. Batin Dia, namun dirinya sudah tak peduli. Karena sekarang yang di pikirkan adalah dengan segera sampai di rumah.


"Hye Om duda, ini bukan arah ke resto," ucap Dia, karena jalan yang di lalui nya bukan ke arah yang Dia, mau.


"Saya akan mengantar kamu, besok saya juga akan menjemput kamu."


"Apa nanti kata tetangga kalau liat gue naik mobil dengan orang dewasa," Dia berucap lirih tetapi, masih bisa di dengar.


"Bukan itu masalah nya, tau sendiri kan kalau musuh Mak-mak."


"Tinggal akuin kalau saya calon suami kamu kenapa sih,"


"Aaaa, ngebet banget si om."


"Apa kau sengaja menggodaku dengan suara jelek mu itu."


"Apa Om duda merasa saya goda."


Kenapa jadi saya yang kalah telak sama ini bocah, benar-benar memalukan. Batin Adi, karena selalu dirinya kalah saat berdebat dengan Dia.


"Stop! Saya geli, jangan panggil saya Om duda lagi, atau kam.."


"Saya cium."


Dengan cepat Dia, memotong ucapan Adi yang belum selesai karena ia tau pasti, lagi-lagi ancaman yang di berikan oleh nya.


...----------------...


Sedangkan di tempat lain.


Seperti biasa Mak Ita jika sore hari, akan bersih-bersih rumah. Karena baginya kebersihan itu yang utama.


Byurrrr.

__ADS_1


"Ups, maaf."


Mak Ita yang baru saja selesai mengepel, dan ingin membuang air bekas pel, tanpa sengaja dirinya membuang tepat di muka Adi.


"Mak ini orang, bukan tempat pembuangan." Adi sempat marah karena seluruh tubuh nya basah kuyup karena terkena air kotor.


"Salah sendiri ngapain main nyelonong."


"Tapi kan, Emak harus lihat dong kalau ada orang yang lagi lewat," sungut Adi.


"Jadi kamu nyalahin saya, berani kamu sama saya!" dengan berkacak pinggang, serta menggulung lengan baju, Emak Ita menantang Adi, yang tak terima karena tersiram air kotor.


"Enggak Mak, Saya gak berani sama calon mertua,"


"Siapa yang kamu sebut calon mertua,"


"Emak, masa iya tetangga."


"Ogah saya punya mantu kek kamu." Ucap Emak Ita.


"Yahh."


Dia, yang jengah melihat Emak, serta bos nya saling adu argumen, lebih baik dirinya masuk untuk melakukan ritual yang tak bisa di tinggal kan, karena badannya teramat lengket.


"Apa kurang saya Mak!"


"Eh, dasar durhaka kamu, belum juga di jadiin mantu. Udah berani teriakin orang tua."


"Enggak kok Mak, saya gak berani."


"Bagus."


"Mak Lihat deh, belakang Emak ada apa,"


Mak ita tanpa pikir panjang langung menoleh kebelakang.


Saat nya kabur. Batin Adi bersorak gembira.


"Satu, dua, tiga. Kabur." teriak Adi.


"Hye kabur kemana kamu, dasar sontoloyo." Mak Ita pun tak kalah heboh saat melihat Adi melarikan diri.


Di mobil.


Huff.


Dengan nafas yang tersengal Adi mengatur nafasnya sembari menancap gas mobilnya.


"Dasar singa betina, udah di siram, di marahin pula. Satu lagi, gak dapat restu juga." Adi berbicara sendiri seperti orang yang tak waras di dalam mobil. Karena sangat-sangat kesal, badan yang mau comberan membuat nya tak berhenti berkomat kamit di dalam mobil.


Sedang kan Dia, yang baru selesai mandi, namun di cekal oleh Emaknya.


"Kamu kok jadi sering keluar sama duda edan itu sih," ucap Mak Ita pada Dia.


"Udah gitu, minta di akuin mantu pula, emang kamu mau punya suami model kek dia." Imbuh Emak nya lagi.


"Kalau kaya kenapa gak Mak!" jawab Dia.

__ADS_1


"Bagus, lanjutkan perjuangan mu untuk mencari orang kaya, ilmu mu patut di tiru wahai adik ku." Tiba-tiba saja Edo, menyahuti percakapan antara Dia, dan Emaknya.


__ADS_2