
Sebetulnya Dia pun juga ingat akan hari spesialnya. Hanya saja ia sengaja dan pura-pura lupa.
"Aku pakaikan ya," ucap Adi dan lekas ia berdiri dan meraih kalung yang berada di kotak.
Dia mengangguk, setelah mendapatkan persetujuan. Akhirnya Adi berjalan ke arah sang istri dan dengan segera memasang kalung itu.
"Kamu semakin cantik, sayang." Sebuah bisikan di telinga Dia membuatnya sedikit salah tingkah.
"Makasih atas pujiannya." Jawab Dia datar.
Sedangkan dalam hati, Adi terus bertanya-tanya akan tingkah istrinya yang semakin hari semakin dingin. Seperti sekarang ini.
"Ya sudah kita makan, kasihan nanti Cahaya di rumah." Setelah mengatakan itu Adi berjalan dan kembali duduk.
Makan malam yang terlihat canggung karena ini malam tidak seperti malam-malam yang ia lewati sebelumya.
Mungkin sekitar setengah jam, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang.
Di dalam mobil pun mereka juga tetap diam, entah suami istri macam apa yang ia jalani pikir Adi.
Nyatanya saat berangkat sampai pulang mereka seperti seorang musuh dan enggan untuk berbaikan.
Tak berapa lama mereka berdua sampai di rumah. Seperti biasa Adi akan turun terlebih dulu karena akan membukakan pintu untuk sang istri.
Dia tidak berkata apapun dan langsung melengos masuk meninggalkan Adi yang masih berdiri di samping mobil.
Adi merasa kesal karena sudah berhari-hari di abaikan oleh Dia. Apa dirinya mempunyai salah? sepertinya tidak! tetapi mengapa ia tidak respon sama sekali.
Adi yang sedang kalut akhirnya memilih masuk. Setelah berada di dalam ia mendengar suara istri serta anaknya yang sedang bercanda gurau. Adi yang penasaran pun memilih mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka.
Tidak ingin mengganggu dan pada akhirnya ia di jadikan sosok yang tak terlihat, akhirnya Adi berjalan menuju kamarnya, sambil menunggu sang istri masuk dan akan membicarakan soal ini.
CEKLEK.
Sesaat Adi membuka pintu, ia di buat terperangah akan keadaan di dalamnya.
"Apa aku sedang bermimpi?" Adi bertanya-tanya kalau yang dilihatnya sekarang adalah nyata dan bukanlah mimpi.
__ADS_1
Melihat suaminya yang ada diambang pintu, membuat Dia bertanya.
"Ngapain diam di situ?" tanya Dia pada Adi yang masih terkejut dengan kejutan yang ada di dalam kamarnya.
"Sayang, i love you." Adi langsung memeluk tubuh sang istri karena rasa bahagia yang tak bisa di bendungan ya.
"I love you to juga." Jawab Dia dengan suara manjanya, itu membuat Adi tidak tahan dan langsung menggendong sang istri masuk ke dalam, lalu menutup pintu serta menguncinya.
"Kamu ini sangat nakal ya," ucap Adi dengan mencubit hidung bangir milik Dia.
"Sakit By." Dia merintih kesakitan karena Adi sedikit kencang mencubitnya.
"Ah, maaf sayang. Mungkin saking senang dan saking terharunya melihat hadiah yang kamu beri ini," tukas Adi dengan senyuman yang menggoda, bagi siapa saja yang melihat senyumannya bisa di pastikan akan meleleh. Begitupula dengan Dia yang mulai beraksi dengan sikap manjanya.
Suana di buat seromantis mungkin. Lingkaran lilin dan berapa taburan bunga mawar di bentuk hati, membuat semua mata yang memandang akan langsung tersanjung. Aroma lavender kian menambah kedamaian di dalam hati, serta tempat tidur juga di beri hiasan berbentuk hati.
Adi rasanya tak mau meniduri tempat ini karena merasa sayang dengan dekorasi, yang sudah susah payah di bentuk.
Adi berjalan ke arah sofa panjang karena entah tiba-tiba saja dia merasa canggung.
Saat Adi menatap ke arah tempat tidur, bayangan pergumulan antara dirinya dengan Dia tiba-tiba memenuhi isi kepalanya.
"Kenapa kamu jadi seperti ini, hum?" tanya Adi dengan tangan yang dilingkarkan di perut Dia.
"Apa tidak boleh," ujar Dia.
"Tidak, bukan begitu maksudku." Jawab Adi tergagap.
"Lantas," ucap Dia dengan tangan yang dikalungkan ke leher suaminya.
"Aku bahkan sangat menyukainya," ujar Adi yang mulai terangs*ng oleh kelakuan Dia.
Kenapa istriku tiba-tiba menjadi agresif seperti ini, apa dia habis kejedot makanya sekarang menjadi kucing manis yang sangat menggemaskan, batin Adi yang terus memikirkan sikap berani istrinya.
Secara perlahan Dia membuka kancing baju Adi dan terlihat bulu-bulu halus, membuat Dia semakin menjadi.
"Sa-yang, kenapa dengan dirimu. Ah," ucap Adi dengan diiringi sebuah *******.
__ADS_1
"Diam lah, By." Jawab Dia enteng.
Adi yang semakin tidak tahan dengan jemari-jemari nakal milik Dia, akhirnya ia pun terpancing.
Dengan segera ia membuka kancing piyama yang di kenakan oleh Dia, terpampang jelas gunung kemar milik Dia yang masih tertutup oleh penghalang.
Tak butuh waktu lama penghalang itu telah lenyap dari pandangan Adi, lalu membuangnya ke sembarang arah.
Bak bayi, Adi terus menyesap dan memainkan tempat favoritnya dan itu membuat pemiliknya mendesah dan mengeluarkan, kata yang di sukai oleh Adi. Sedangkan kedua tangan milik Dia terus meremas rambut Adi dengan harapan agar di perdalam lagi.
Suara ******* dan rintihan kenikmatan memenuhi isi kamar. Adi yang sudah merasakan denyutan di ubun-ubunnya merasa sudah tidak kuat lagi untuk menahannya.
Lalu Adi membawa Dia menuju ke tempat tidur, dan membuka semua penghalang yang melekat di tubuh istrinya. Setelah itu barulah dirinya melepaskan semua pengaman yang ada di badannya.
"Sayang mau model apa?" tanya Adi.
"Model jungkir balik ada," ucap Dia.
Sedangkan Adi sudah terkikik geli, dalam batinnya mana ada model jungkir balik, kek orang salto saja.
"Mana ada sayang." Jawab Adi.
"Ya lagian kamu, ada-ada saja." Ucapan Dia seketika membuat Adi tertawa.
"Gaya cacing agak gak ya," ucap Adi dengan tampang bodohnya.
"Ada, noh cepet turun terus kamu gulung-gulung." Jawab Dia datar.
"Eh, jadi ayan dong aku sayang." Setelah Adi berkata ia langsung bergidik ngeri, kala membayangkan.
"Kita coba cari gaya baru, biar ada sensasinya yuk." Adi sedari tadi memikirkan gaya apa yang akan di praktekkan. Sampai-sampai ia tidak sadar kalau sang istri sudah terlelap.
"Enaknya pakai gaya apa," gumam Adi yang sama sekali tidak menghiraukan sang istri.
Bingung dengan posisi baru yang akan di praktekkan, membuat Adi terus berpikir untuk berganti gaya.
Adi bak orang yang sedang memikirkan hutang, sedari tadi tak kunjung menemukan. Hingga akhirnya ia menoleh ke arah Dia dan.
__ADS_1
"Huh, tidur. Alamak," rutuk Adi setelah melihat kalau Dia sudah berada di pulau kapuk, atau (dunia mimpi)
"Kalau begini ceritanya gak jadi anu-anu, huf. Apes banget sih," Adi mengumpat karena tidak bisa menunggangi kuda yang sangat istimewa sekarang.