
Jadilah orang yang rendah hati dan selalu menjadi yang berada di bawah. Untuk menutupi apa yang kamu punya? Biarkan orang-orang mengira kamu adalah sosok yang tidak mampu. Nyatanya kamu adalah sosok dari urutan yang berada di atas..
🌸🌸🌸
Rury langsung masuk ke dalam dan menuju dapur. Di sana sudah ada Cahaya dan tante Dia yang sedang menikmati acara sarapan.
"Pagi Tan," sapa Rury pada Dia.
"Hey sayang, pagi juga." Jawab Dia saat melihat kedatangan Rury.
"Sudah sarapan belum, kalau belum yuk sarapan bareng kita." Dia berkata lagi sembari menawari Rury untuk ikut sarapan juga.
"Udah elu jangan banyak ngelak, gue tau kalau elu belum sarapan kan." Cahaya menyahut dan langsung mengajak Rury untuk sarapan bersama.
"Iya. Yuk kita makan," ucap Dia ramah.
"Iya Tan." Akhirnya Rury pun ikut menikmati sarapan yang sudah tersedia berbagai menu di atas meja makan.
Saat Rury meletakkan bokongnya di kursi. Tidak berapa lama Adi datang ikut bergabung untuk sarapan.
“Makan sampai kenyang, Ry. biar kamu nanti bisa kuat menghadapi kenyataan.” Adi menggoda Rury dengan sebuah Candaan.
“Harus dong Om, lebih kerasan hidup daripada batu soalnya.” Jawaban yang diberikan Rury membuat seisi ruangan tertawa.
“Kamu bisa saja,” ujar Dia.
“Iya dong Tan, kalau gak gitu cepat tua.” Jawab Rury pada Dia.
Sedangkan Cahaya ingin bertanya soal kedatangan Rury ke rumahnya untuk apa? merasa aneh saja karena datang tanpa memberi kabar, terlebih dulu.
“Oh iya, tumben elu ke sini ada apa?” tanya Cahaya pada Rury.
“Elu di hubungi gak bisa semalam. maka dari itu gue langsung ke sini samperin elu,” ucap Rury pada Cahaya.
“Masa,” Cahaya tidak mengecek gawai sama sekali jadi dirinya tidak tahu.
“Cek gih. Biar tahu,” pungkas Rury.
“Mungin gue sudah bobo makanya gak liat dan gak tahu kalau ada telepon atau pesan masuk.
“Hem, elu mah kebiasaan.” Rury berdecak kesal dengan Cahaya.
“Ya maaf karena memang gue gak tahu,” ujar Cahaya pada Rury yang sedang kesal dengannya.
“Sudah-sudah. Kita makan saja dulu, ngobrolnya dilanjut nanti.” mendengar mama dari Cahaya menegur akhirnya diam dan melanjutkan sarapan.
Tidak berapa lama semuanya sudah menyelesaikan sarapan dan Rury pun ikut membantu, untuk membereskan apa yang berada di atas meja.
__ADS_1
“Sudah kalian tinggal, tinggal mengerjakan cucian saja.” Dia berkata pada mereka berdua jika pekerjaan, akan dilanjutkan oleh Dia. Sedangkan Adi sekarang berada di ruang kerja, meski hari minggu Adi tetap bekerja dari rumah untuk memantau semua pekerjaannya.
Menjadi seorang bos konstruksi harus bekerja ekstra dan juga, dirinya harus ikut andil untuk turun lapangan.
Cahaya dan Rury sedang berada di kamarnya, entah apa yang akan dibahas oleh dua orang remaja. Hanya mereka yang tahu akan hal itu.
Dia sibuk dengan urusan dapur belum juga ia harus mengecek restauran dan toko roti, yang ia kelola sendiri. Meski, ada yang membantunya ia tidak mau melemparkan semua pekerjaan kepada orang-orangnya.
Setelah menyelesaikan semuanya. Dia ke ruangan di mana Adi berada.
Tanpa permisi Dia langsung duduk di pangkuan sang suami dan itu membuat Adi, sedikit kesulitan saat tayangannya menari-nari di atas keboard.
“sayang, kamu membuat suamimu ini sulit untuk mengetik.” Adi berkata sembari menggelitik perut sang istri.
“Geli By,” ujar Dia yang terus tertawa karena merasa geli.
“Salah sendiri dan kamu sudah membuat kesalahan kali ini,” ucap Adi penuh penekanan.
“Memangnya aku melakukan kesalahan apa?” Dia mengernyitkan dahinya karena merasa sama sekali, tidak membuat kesalahan kepada suaminya.
“Masih tidak mau mengaku,” ketus Adi.
“Kan aku memang tidak merasa. Mengapa harus mengakuinya,” sungut Dia yang mulai kesal terhadap suaminya.
“kamu memangnya tidak merasakan apa-apa di bawah ini?” telunjuk Adi mengarah ke bawah agar istrinya tahu kesalahan apa, yang sudah diperbuat.
“Suaramu kali ini membuatku semakin tidak tahan … Sayang," Adi berkata dengan suara yang parau akibat rangsangan yang disalurkan oleh sang istri.
"Sayang aku rasanya aku sudah tidak tahan karena rasanya benar-gerah," ujar Dia dengan suara manjanya.
"Kamu membuatku semakin tidak fokus, sepertinya kita akan melakukan olahraga pagi." Adi yang sudah tidak sabar dan sesuatu yang sudah tegak dan terasa sesak. Membuatnya harus menuntaskan apa yang saat ini membuatnya benar-benar, pusing kepala.
Tanpa mereka sadari, dari celah pintu dua orang gadis sedang melihat adegan di mana hanya di khususkan, untuk usia 18 ke atas.
Mereka mengintip secara bergantian. Untuk bisa melihat adegan apa yang akan mereka lihat dari para orang tua.
"Ay, kira-kira mama dan ayah kamu pakai model apa sih! kok kek ayam mau bertelur." Ucapan Rury sontak membuat Cahaya menatapnya dengan tajam.
"Hehehe … Maaf," Rury menjadi salah tingkah karena ulah om Adi dan Tante Dia. Sebutan untuknya dari Rury.
"Memangnya mereka sedang ngapain sih, kok kamu keringetan gitu?" Cahaya yang ikut penasaran akhirnya menggeser Rury supaya, Cahaya bisa melihat kedua pasangan dewasa tersebut.
Cahaya langsung mengintip dan ternyata mamanya sudah berada di atas pangkuan sang ayah. Dengan gaya centil rupanya sang mama sedang berusaha menggoda ayahnya.
"Kenapa gue jadi ikutan panas gini ya," batin Cahaya dengan pelipis yang sudah dipenuhi oleh bulir-bulir keringat yang menetes.
Sesekali suara ludah yang ia coba telan dengan kasar, sampai-sampai Rury pun ikut panas dingin melihat reaksi dari Cahaya.
__ADS_1
GLUK.
"Ay, mereka sekarang sedang ngapain?" bisik Rury pada Cahaya.
Ssstttt.
Cahaya memberi kode untuk Rury agar tidak berisik dan membuat orang yang berada di dalam curiga.
Mereka berdua bergantian mengintip karena kebetulan pintu ruang kerja Adi, tidak di kunci dan tidak di juga.
Sedangkan Adi yang berada di dalam bersama Dia, terus saja melakukan tingkah konyol.
"Sayang, aku benar-benar tidak tahan." Adi berbisik entah itu yang ke berapa kalinya.
"Berdirilah," titah Dia dengan suara parau.
Akhirnya Adi menuruti ucapan Dia, sekarang Adi sudah berdiri tepat di hadapan sang istri dengan wajah bengisnya akibat nafsu, yang menderanya.
"Sudah, apa kita akan main di sini?" kata Adi.
"Iya, kamu diam lah dan jangan seperti cacing yang sedang kontes." Dia protes karena suaminya sedari tadi tidak bisa diam.
Klunting.
Sedetik terdengar suara gawai dari arah milik Dia. Lalu ia melihat pesan masuk dan segera membaca.
Adi yang sudah terlanjur panas dingin langsung menarik tubuh Dia.
Dia meronta karena dirinya juga sudah tidak tahan akan rasa gerah.
"Sayang yuk pindah," ajak Adi.
"Di sini saja," timpal Dia.
"Ayolah sayang," rengek Adi.
Saat Adi mulai menelusuri leher jenjang milik Dia, yang ada Dia langsung mengibaskan tangannya.
"JANJI JIWAKU SUDAH DATANG!" teriak Dia berjalan ke arah luar.
"Sayang ini gimana jadinya!" protes Adi.
"Bodoh amat." Dia tidak memperdulikan suaminya yang sedang merasakan pening. Namun, di saat Dia membuka pintu.
Kriet.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN!"
__ADS_1