Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
133. SEPULANG DARI (BAR)


__ADS_3

Adi yang sudah tidak tahan memilih berdiri dan segera berpamitan pada teman-temannya.


"Bapak mau ke mana?" tanya seorang temannya.


"Saya mau pulang karena ini sudah dari cukup, untuk acara pertemuan kita." Jawab Adi dengan tegas.


"Tapi ... Apa Bapak tidak ingin bersenang-senang dulu, oh lihat lah para wanita itu. Sangat menggoda bukan," ujar teman yang satunya lagi, masih memprovokasi Adi untuk ikut hanyut dalam buaian para perempuan yang ada di sekelilingnya.


"Maaf, tadi saya dia berminat dengan wanita model seperti itu karena saya akan bersenang-senang hanya dengan. Satu wanita saya yaitu istri saya," ujar Adi tanpa berbelit-belit akan ketidaksukaannya dengan apa yang mereka katakan.


"Kenapa kau jadi menyebalkan Tuan," gerutu para temannya.


"Jika kalian ingin bersenang-senang maka lakukan karena saya akan pulang." Ucapan tegas dari mulut Adi, membungkam mereka.


Tanpa pamit akhirnya Adi berjalan keluar untuk bisa segera mengistirahatkan, badan dan juga pikiran tentunya.


"Apa mereka pikir aku seperti mereka yang doyan, celup sana celup sini! Iya kali sariwangi enak di makan sama roma kelapa. Lah ini, enggak banget," sejurus kaki berjalan dalam hati Adi terus mengumpat. Hingga ia lupa menaruh mobilnya di sebelah mana.


Lalu ia baru ingat jika dirinya sudah berjalan dan meninggalkan mobil yang ada do parkiran.


**!*.


Adi mendengus kesal karena ia harus putar balik dan berjalan untuk mengambil mobilnya yang tertinggal.


"Semua ini karena mereka sampai-sampai aku melupakan mobilku," dengan langkah cepat dan mulut tidak berhenti mendumal Adi terus berjalan, sampai tiba di tempat parkiran di mana tempat kenikmatan sesaat itu berada.


Sesampainya di parkiran Adi langsung membuka pintu untuk segera menjalankannya, saat ini sudah pukul 2:00. Ia tidak mau jika sang istri akan kuatir karena dirinya belum juga pulang.


Jalanan yang sepi, membuat Adi langsung menambah kecepatannya karena baginya itu adalah kesempatan.


Benar saja, setengah jam kemudian Adi sudah berada di halaman rumah. Dengan pelan ia berjalan masuk agar tidak menimbulkan suara.


Sesampainya di dalam kamar, terlihat Dia sudah tertidur dengan sangat pulas. Sedangkan Adi menatap wajah teduh dan damai itu agar, hatinya terasa damai.


Dalam tatapannya Adi membatin karena ia sedikit merasa kotor akibat perempuan-perempuan yang ada di tempat laknat tadi.

__ADS_1


”Maaf sayang, badan ini sudah terpegang oleh perempuan-perempuan sialan itu. Jadi, aku akan tidur di sofa dan tidak akan mendekati atau memelukmu, untuk saat ini." Batin Adi berontak karena ia tidak nyaman untuk tidur seranjang dengan sang istri. Itu di karenakan akibat ulah para wanita itu akhirnya Adi pun memilih tidur sendiri. Adi langsung menuju sofa tapi sebelum itu ia mengambil selimut untuk menghangatkan tubuh karena.


"Selamat malam sayang," dengan tatapan yang sulit di artikan. Adi mengucapkan kata selamat 'malam' pada sang istri. Lalu dengan segera ia langsung menaiki sofa yang tidak berada jauh, dari tempat tidurnya.


...----------------...


Keesokan paginya.


Saat Dia ingin membawa baju-baju kotor itu untuk di bawanya turun. Sesaat Dia mengedarkan pandangannya ke arah baju yang tergeletak di bawah keranjang baju. Akhirnya ia memunguti baju sang suami yang kemarin di pakainya saat hendak keluar.


Ada yang aneh dari baju itu, seperti bau parfum milik perempuan. Dia tau suaminya itu bukan tipe orang yang suka selingkuh. Namun, ia bertanya-tanya dalam hati jika ia yakin kalau sang suami tadi malam, pulang dari tempat dunia malam.


"Nantilah akan aku tanyakan dan sepertinya dugaan ku benar," ucap Dia lirih sembari keluar dari kamar mandi dengan menenteng sebuah keranjang, berisikan pakaian kotor.


Dia sengaja tidak membangunkan sang suami karena ia tahu, bahwa suaminya sedang lelah akibat pertemuannya dengan seseorang tadi malam.


Sesampainya di bawah terlihat Cahaya juga sudah berada di dapur, dengan memegang gelas dan menuju ke arah kulkas.


"Ay, mau ngapain?" tanya sang mama.


"Tumben jam segini sudah datang," ujar sang mama karena tidak biasa Riki datang di jam pagi.


"Iya. Katanya mau cari cincin bakal nikah kita nanti," ucap Cahaya sembari menuangkan jus ke dalam gelas yang di pegang oleh nya.


Ucapan Cahaya seketika membuat Dia langsung membulatkan matanya. Ia baru ingat kalau acara pernikahan itu akan di gelar sebulan lagi.


"Jangan bilang kalau Mama lupa," ujar Cahaya dengan mencabik kan bibirnya.


"Maaf Mama khilaf," ujar Dia dengan diiringi sebuah senyuman.


"Aish, menyebalkan." Cahaya berlalu meninggalkan sang mama yang masih berada di dapur. Sedangkan Cahaya sudah keluar untuk menemui Riki, calon suaminya.


Di ruang tamu, di mana Riki berada.


"Mas, ini minumannya." Cahaya meletakkan gelas tadi yang sudah di isi oleh jus.

__ADS_1


"Iya makasih sayang," ucap Riki dengan senyuman yang tersungging di sudut bibirnya.


"Ay, ayah kamu ke mana?" tanya Riki karena sedari tadi dirinya tidak melihat ayah Cahaya ataupun sang mama.


"Mungkin ayah masih tidur. Denger-denger tadi malam pulang sekitar jam dua," jelas Cahaya.


"Memangnya dari mana kok sampai hampir menjelang pagi baru pulang?" tanya Riki penasaran.


"Katanya ada proyek. Jadi, ayah mau lihat orang yang ngasih proyek itu tadi." Jawab Cahaya panjang lebar.


Sedangkan Riki yang mendengarkan hanya mangut-mangut di saat Cahaya berbicara.


"Oh ya, Mas sudah sarapan?" tanya Cahaya karena sekarang sudah pukul delapan pagi.


"Belum, tadi cuma makan roti sama minum teh saja." Jawab Riki.


"Ya sudah kita sarapan dan setelah itu kita pergi, untuk ke toko mas." Belum sempat Riki menolak namun Cahaya sudah beranjak untuk ke dapur. Dirinya pun merasakan lapar juga makanya ia sekalian mengajak Riki untuk sarapan bersama.


Sesampainya di dapur. Cahaya melihat sang mama yang berdiri di depan kompor.


Cahaya yang penasaran memilih melihat sang mama sedang membuat apa.


"Ma," tegur Cahaya dari arah belakang.


"Iya Ay, ada apa." Jawab Dia lalu memutar tubuhnya.


"Lagi buat apa, baunya kek ayam bakar tapi ya?"


"Iya untuk sarapan kalian, ini sudah hampir selesai siapkan piring dan air putihnya. Lalu panggil Riki untuk sarapan," ucap Dia yang menyuruh Cahaya agar menyiapkan semuanya di atas meja.


Tidak lama kemudian semuanya sudah siap dan Cahaya juga sudah keluar untuk memanggil Riki.


...----------------...


*Hidup akan bahagia jika kehidupan kita tiada yang mengusik, saling percaya. Memahami sifat masing-masing mengerti akan karakter kedua belah pihak. Kunci utama dalam sebuah hubungan. Membangun komitmen pada pasangan saling jujur maka, rumah tangga kita akan selamanya di penuhi oleh kebahagiaan.

__ADS_1


By: retnosari*


__ADS_2