
Ini semua karena kamu, sungguh aku sekarang marah padamu. By," tukas Dia dengan bibir yang dimajukan.
Pasalnya seluruh tubuh Dia dipenuhi oleh tanda kepemilikan yang diciptakan oleh Adi. Hampir seluruh tubuhnya terlihat merah-merah semua dan sama sekali tidak ada cela.
"Biar semua tahu sayang, kalau kamu itu cuma akan menjadi milikku." Kata-kata Adi mampu membuat Dia bagai terbius asmara cinta. Pasalnya ia merasa jika dirinya masih muda dengan sebuah ucapan yang terlontar dari mulut Adi.
Sakit hati tidak. Justru Dia bangga menjadi seorang istri dari Adi.
"Iya tidak begini juga kan," gerutu Dia sambil memunguti bajunya dan alhasil dirinya tidak jadi menikmati minuman yang sempat ia pesan.
Akhirnya Dia keluar dari kamar dan segera membersihkan diri, lalu akan berangkat untuk melihat bisnisnya.
Sedangkan Adi tersenyum puas karena pagi hari sudah mendapatkan vitamin dari sang istri, dua kali pula. Betapa beruntungnya Adi.
Setelah membersihkan diri, Dia bersiap akan berangkat namun sebelum itu, dirinya akan berpamitan terlebih dulu pada sang suami.
"By," panggil Dia.
"Iya sayang," timpal Adi yang sedang menatap layar laptop tersebut.
"Aku mau ke restoran sama mau ke toko roti," ucap Dia.
"Mau aku akan." Jawab Adi sembari menawarkan diri.
"Kamu kan lagi sibuk," ujar Dia pada suaminya.
"Kalau untuk kamu, sesibuk apapun suamimu ini akan mengusahakannya." Adi menutup laptop dan menatap wajah sang istri yang selalu enak dipandang.
"Boleh, sekalian kita makan siang. Sepertinya tenagaku habis karena habis kamu hajar habis-habisan," kata Dia dengan kedua alis yang terangkat.
"Kenapa di bahas lagi, apa kamu ingin nambah lagi?" dengan senyuman jahilnya Adi berkata.
"Apa kamu mau aku tidak bisa berjalan!" seru Dia dengan berkacak pinggang seakan ingin menantangnya untuk adu tonjok.
Akhirnya Adi pun bersih-bersih setelah melakukan pergumulan baru saja dan rencananya akan mengantarkan, sang istri untuk melihat restauran dan toko roti.
Tidak membutuhkan waktu lama bagi seorang Adi, cukup belasan menit dirinya sudah menyelesaikan ritual mandinya.
Bau harum dari tubuh Adi membuat Dia seakan menjadi candu bagi dirinya sendiri, bau maskulin membuatnya Dia terasa nyaman bila di dekat suaminya.
__ADS_1
“Sayang, hidung kamu seperti itu kenapa?” tanya Adi datang secara tiba-tiba.
“Eh By, sudah selesai.” Dia pura-pura tidak mengetahui jika suami sudah sedari tadi telah keluar dari kamar mandi. Nyatanya itu hanya keterpura-puraan Dia saja, terlalu fokus dengan aroma sang suami hingga membuat hidungnya kembang kempis, sampai pada akhirnya Adi menegur.
“Lagi mencium bau wangi,” jawab Dia singkat.
Tak ingin berkata panjang lebar hingga menjadi sebuh perdebatan. Jadi, Dia memilih keluar duluan.
Dia melengos keluar dan langsung menuju ke dalam mobil. Tidak berapa lama Adi menyusul dan sampailah kedua berada di satu mobil.
Dia yang berada di dalam mobil tiba-tiba merasakan kantuk yang luar biasa, sampai-sampai dirinya tidak mampu untuk membuka kelopak matanya.
Adi yang melihat itu pun merasa kasihan karena istrinya sungguh luar biasa. Dari pagi istrinya sudah bangun lalu menyiapkan segala keperluan anak dan juga dirinya, belum lagi memasak untuk untuk sarapan. Belum juga istirahat sang istri harus kembali bekerja untuk memantau usahanya, Dia bukan lah sosok yang suka berpangku tangan.
Bukan tidak percaya dengan orang-orang yang sudah bekerja untuknya, hanya saja dirinya ikut membantu para karyawan di saat usahanya sedang ramai. Meski begitu para karyawan banyak juga yang merasa tidak enak pada sang bos.
“Sayang kalau kamu ngantuk tidurlah, nanti jika sudah sampai di tempatnya aku akan membangunkan kamu.” Adi tidak tega dan menyuruh istrinya untuk tidur.
“Memang aku sangat ngantuk,” ucap Dia dengan mata yang harus di paksakan untuk tetap terbuka.
“Kalau begitu segeralah pindah, biar tidur kamu sedikit nyenyak.” Adi menyuruh istrinya untuk pindah kebelakang agar tidurnya, terasa nyenyak.
Tidak berapa lama mobil dilajukan lagi karena Dia sudah pindah di belakang.
Satu jam kemudian mobil sudah terparkir di ruko yang saat ini dibuatnya toko roti.
Adi segera membuka pintu mobil belakang dan segera membangunkan istrinya yang tertidur dengan begitu pulasnya.
Sedangkan Dia samar-samar mendengarkan seseorang menepuk bahunya, dengan membuka mata secara perlahan.
“Akhirnya kamu bangun juga,” ucap Adi dengan susah payah membangunkan Dia.
Ugh, Dia menggeliat dan merentangkan kedua tangannya dan masih belum merespon suaminya.
“By, sudah sampai ya.” Akhirnya Dia melirik ke kanan dan ke kiri guna memastikan.
“Sudah sayang, yuk turun.” Adi mengajak Dia untuk segera turun agar tidak terlalu lama berada di dalam mobil.
“Eum.”
__ADS_1
Lalu mereka berdua turun dari mobil dan masuk ke dalam. Di dalam dua orang yang sangat penting bagi empat karyawannya, mereka menyambut bos nya dengan hangat.
“Pagi Mbak Dia, Pak Adi.” Para karyawan menyambutnya dengan sangat dan memberikan ucapan, selamat pagi menjelang siang karena sekarang sudah jam sepuluh.
“Pagi menjelang siang juga semuanya.” Dia menjawab dengan diiringi sebuah senyuman, yang terukir di sudut bibirnya.
“Sayang aku ke ruangan kamu dulu ya,” pamit Adi pada Dia yang saat ini dirinya akan berjalan menuju ke arah dapur.
“Iya.” Jawab Dia disertai anggukan.
Akhirnya Adi naik ke atas di mana tempat khusus untuk Dia. Ruko yang yang di jual oleh Riki waktu itu terdiri dari dua lantai.
Adi sudah naik ke atas dan dirinya melihat di sekeliling ruangan, tidak sengaja netra nya melihat tempat tidur yang ukurannya tidak terlalu besar.
“Sepertinya tidur enak,” gumam Adi saat dirinya melihat kasur yang sangat empuk.
Bruk.
“Ah, enaknya.” Adi berkata lirih sembari merentangkan kedua tangannya, lalu di letakkan di atas kepalanya.
Lalu beberapa detik kemudian dirinya telah hilang terbawa, bantal yang akan mengajaknya ke pulau kapuk.
Entah sudah berapa jam Adi terbangun namun dirinya tidak melihat Dia menghampirinya.
Dilihatnya arloji dengan merek alex yang bertengger di pergelangan tangannya. ternyata waktu menunjukkan sudah pukul satu siang.
Huf.
“Cukup lama juga aku tidur,” gumamnya.
Bertepatan dengan dirinya bangun suara langkah kaki terdengar dari arah luar ruangan dan.
CEKLEK.
“By, makan.” Ternyata yang datang adalah istrinya Dia, dengan membawa dua kotak nasi kuning yang berada di seberang jalan. Dia tadi sempat menyuruh Lita untuk membeli enam kotak nasi kuning untuknya dan untuk yang lain.
“Kamu bawa makanan apa?”
“Nasi kuning, buruan makan.” Dia menyuruh suami untuk segera memakan nasi yang ada di meja.
__ADS_1
“Itu yang di cangkir apa?”