
Mobil yang mereka tumpangi akhirnya sampai di rumah yang begitu megah, entah rumah siapa yang saat ini mereka singgahi, yang pasti akan ada kejadian yang mengharuskan Dia, ikut terjebak dalam permainan bosnya.
Sedikit paksaan membuat Dia menurut, namun dengan masih mengenakan seragam kerjanya serta celemek yang masih melekat membuatnya mendengus kesal.
"Ayo masuk." Ajak Adi pada Dia.
"Tunggu!"
"Kenapa lagi,"
"Apa anda buta dan tidak kah anda melihat."
Ck..ck.."kenapa bisa ikut serta,"
"Siapa suruh buru-buru dan memaksa." Dengan sedikit memonyongkan bibirnya lalu Dia, melepas celemek dan melemparkannya dengan asal.
"Ingat jika sampai di dalam jangan pecicilan."
"Bodoh amat."
Pintu yang sudah terbuka membuat mereka tak harus kesusahan dengan mengetuk pintu dan menunggu seseorang membukanya.
"Assalamualaikum." Sapa Adi dengan mengucapkan salam terlebih dulu.
"Waalaikumsalam. Ah, akhirnya kamu datang juga meski terlambat." Ucap seseorang paruh baya itu.
"Maaf Nek, tadi jalanan macet,"
"Ya sudah lah tak masalah."
Netra Dia, menangkap satu persatu orang-orang yang berada di ruangan itu. Dan totalnya ada 8 orang termasuk dirinya, antara bingung dan tak mengerti akan semua ini membuat nya sesekali mengeryitkan dahinya. Dan sesekali menatap Adi, namun yang di tatap malah tak menghiraukannya.
Sungguh bingung gue, apa maksud dari ini semua. Dan mengapa harus gue juga yang harus di libatkan, kan merasa asing gue nya dasar duda sialan awas saja jika ada rencana yang menjerumuskan gue. Perasaan dongkol menyelimuti hatinya dan sesekali mengumpat, namun umpatan itu hanya ada dalam hatinya lantaran mana berani coba dirinya dengan terang-terangan mengumpat.
"Oh ini toh calon istrimu."
Deg.
Hello calon istri, gimana ceritanya gue tiba-tiba di sebut ca-lon istri, ngelamar gue saja kagak.
"Saya ingin bicara sekarang." Bisik Dia pada Adi.
"Bu, Nek dan yang lainnya Adi keluar bentar ya,"
"Ya sudah tapi jangan lama-lama ya, karena kita akan membahas kamu setelah ini."
Adi hanya mengangguk tanpa menjawab, dan Dia, Dia dengan begitu emosi langsung menyeret bos gilanya itu dan menariknya keluar.
"Nyalakan mobilnya, dan jalan." Ucap Dia dengan tergesa-gesa agar dirinya cepat-cepat mendapat jawaban.
Adi menurut, dan lekas menyalakan mobil untuk mencari tempat yang nyaman untuk mengobrol.
Di rasa ada tempat yang enak untuk mengobrol Adi memarkirkan mobilnya di sebuah Cafe, dan setelah itu mereka berdua turun.
"Bisa di jelaskan apa maksud dari ucapan tadi."
Aduh macan tutul nya marah kan karena hal ini, rutuk Adi dalam hatinya.
"Kenapa diam, haruskah saya terlibat sandiwara dengan orang dewasa." Dia benar-benar marah atas pernyataan tadi yang menyebutnya calon istri.
"Maaf."
"Enteng sekali anda berucap, di sini yang di rugikan saya, anda tau."
__ADS_1
"Tidak!"
"Bisa gak serius."
Orang lagi marah malah di becandain Adi, Adi.
"Keluarga saya meminta saya untuk segera menikah."
"Terus,"
"Saya gak ada perempuan lain selain membawa kamu ke rumah sebagai calon istri saya."
Brak.
"Apa kau gila!"
Saking emosinya hingga Dia mengebrak meja, dan mereka berdua tak luput dari pandangan para pengunjung.
"Pelan kan suara mu." Lirih Adi karena mata semua orang sedang menatapnya.
"Maaf, ini istri saya maklum pengantin baru jadi wajar jika ada masalah."
Dia mendelik kan matanya lebar-lebar karena ucapannya barusan, dan mengatakan kalau dirinya pengantin baru dan sedang ada masalah.
Sialan orang ini, nih rasain kamu ya, batin Dia.
Aaaaa.."Sakit sayang."
Lagi Dia di buat terperangah dengan sandiwara yang di buatnya, karena saking kesalnya Dia menginjak kakinya. Jadilah dirinya berteriak.
"Sialan."
"Sayang, sayang tunggu dong, sayang oh ayolah sayang." Teriak Adi sambil berjalan tertatih-tatih karena Dia jalannya terlalu cepat menurutnya.
Kurang hot kali situ.
Mainnya kurang lama mungkin.
Iya, jadinya berantem kan."
Kurang ajar batin Dia.
Maka seperti itulah cemohan dari orang-orang.
Cup,
"sudah ya jangan marah lagi ya sayang, nanti Abang beliin apa yang kamu pingin."
Dulu bibirnya yang di comot sekarang pipinya di comot juga, bener-bener besar nyalimu Adi.
Plak...
"Auh panas sayang mengapa kah kau tega menamparku oh dinda."
Sumpah ya ini orang membuat gue bertambah kesel, batin Dia. Karena dirinya sungguh teramat malu.
Ahhhhh..
"Dasar laki-laki brengsek."
Dia yang tak tahan akhirnya memakinya lagi. Dan menurut Dia, lelaki tak punya rasa malu sama sekali.
"Ingat jangan panggil saya sayang, atau pun istri paham."
__ADS_1
Lalu Dia berjalan ke stand ice krim, lalu membelinya dan duduk untuk menikmati lumer dan dinginnya ice krim tersebut. Melupakan masalah yang rumit sejenak.
"Tolong lah saya sekali saja, untuk menjadi istri saya."
"Apa itu sebuah permintaan."
"Saya mohon."
"Sayangnya saya bukan dewa, yang bisa mengabulkan doa-doa anda, lagian banyak perempuan di luaran sana mengapa harus saya sih."
"Enggak segampang yang kamu pikirkan, Ibu maunya kamu, gak mau mantu yang lain. Plese tolong saya ya, ya."
"Bodoh amat, itu bukan urusan saya."
"Maka dengan terpaksa saya harus memaksa kamu."
"Gak ada ya, ogah saya punya suami yang edan kayak kamu, udah somplak tua lagi."
"Eh denger ya, meski saya sudah berumur tapi, wajah saya penuh tampan dan rupawan."
Hueek cuih.
"Nyatanya Bapak memohon-mohon untuk saya menerima menjadi istri Bapak, kalau gak ngapain sampai bersimpuh gitu."
Agh ... Sial gadis ini, benar juga secara gak langsung saya menjatuhkan harga diri saya demi ini anak. Keluhnya dalam hati.
"Tolong, maka saya akan membalas budi jika nanti kamu bersedia," Adi terus memohon-mohon supaya Dia mau menerima gelar yang di tawarkan.
"Apa untungnya di saya nanti."
"Saya akan memberikan nafkah tentunya dan saya akan menuruti semua keinginan kamu."
"Apa di mata Bapak saya gadis matre, saya heran bisa-bisanya anda meminta sesuatu dengan gadis yang belum genap 18 tahun, apa Bapak gak malu."
"Mau bagaimana lagi."
Hufff.
"Berikan saya waktu, atau tidak sama sekali,"
"Itu terlalu lama."
"Jangan ngotot, jika perlu Bapak cari perempuan dan bayar gampang kan."
"Saya maunya kamu."
"Ok, secara gak langsung Bapak menyukai saya kan, tapi sayang nya saya sama sekali tidak tertarik."
Adi diam, adi bungkam, bagaimana bisa gadis di hadapannya menolak nya mentah-mentah. Bukan kah dirinya kaya, dan memiliki banyak usaha, bukan kah itu sudah cukup untuk mengait perempuan yang ia mau. Tapi apa ini!
Begitu sulit untuk menaklukkan bocah ingusan yang berada di hadapannya.
"Iya memang saya suka sama kamu puas."
"Tapi sayangnya saya sama sekali tidak tertarik pacaran atau pun menikah dengan om-om mengerti."
"Apa saya setua itu."
"Maka berkaca lah, saya enggak mau di usia saya yang masih muda harus menjadi janda, karena di tinggal mati sama Bapak duluan."
"Kau."
"Apa!"
__ADS_1
"Masa seorang Dia jodohnya ada di tangan duda somplak. Ihh ogah banget."