Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
96. KEDATANGAN DUA SEJOLI


__ADS_3

Orang yang di tunggu sudah datang, terdengar suara deru mobil dari pintu luar. Membuat Adi dan Dia langsung berdiri untuk menemuinya.


"Itu pasti mereka," ujar Dia.


"Ya sudah yuk lihat." Adi menimpali.


Mereka berdua berjalan beriringan untuk menuju ke ruang tamu.


Ternyata benar dugaan Dia, jika yang bertandang adalah sahabatnya, Indah.


"Hye De," sapa Indah pada Dia.


"Hye juga." Jawab Dia dengan di sambut sebuah pelukan.


"Kamu kenapa tidak menghubungiku," ucap Adi pada Haikal.


"Sengaja." Jawab Haikal enteng.


"Dasar anak buah laknat kamu!" seru Adi karena saking kesalnya.


"Sudah-sudah kita masuk saja," ucap Dia melerai perdebatan antara Haikal dan suaminya.


Akhirnya mereka semua masuk ke dalam.


"De, mana Aya?" Indah menanyakan keberadaan bocah menggemaskan itu tersebut.


"Lagi main sama si mbak." Jawab Dia.


"Oh."


"Oh iya, kalian tumben datang ke sini pagi-pagi?" tanya Adi pada mereka berdua, karena tidak biasanya Haikal selaku asisten serta sahabat yang menemaninya selama lebih dari tujuh tahun itu, datang ke rumah tanpa memberi tahu.


"Kami mau bilang, kalau dalam waktu dekat ini kita akan memutuskan menikah." Haikal mencoba memberi tahu soal pernikahannya dengan Indah.


"Jadi ... Kalian serius untuk menikah," ucap Adi seraya memastikan kalau telinganya masih terdengar jelas, dan tidak sedang eror.


"Iya, kami serius dan kami juga memutuskan untuk segera mempunyai momongan, agar bisa di jodohkan dengan Cahaya." Jelas Haikal tanpa ragu.


Uhuk.


Uhuk.


Adi seketika tersedak ludahnya sendiri, karena tak menyangka karena Haikal ingin sekali berbesan dengannya.


"Eh, siapa yang akan berbesan dengan kamu." Adi menolak saat Haikal mengeluarkan keinginannya.


"Kenapa kamu sangat tega, bos." Haikal dengan wajah yang di buat-buat, seakan-akan ia tengah merajuk.

__ADS_1


"Lagian belum tentu anakku mau sama anak kamu nantinya," ucap Adi.


"Kan cinta datang seiring berjalannya waktu," jawab Haikal menimpali.


"Kamu sok banget," seru Adi.


Sedangkan dua perempuan menatap jengah ke arah para lelaki. Jika mereka sudah bertemu maka yang ada ada pertengkaran. Entah jika mereka berada dalam kantor, akankah seperti saat ini.


Saling ejek dan saling memaki? sungguh kesal melihat kelakukan Adi dan Haikal yang sudah mirip anak kecil.


"Apa kalian akan terus begini." Suara Dia meninggi karena sangat kesal, bagaimana jadinya sampai Aya melihat. Apa mereka tidak berpikir sampai di situ.


"Hehehe, maaf." Hanya itu yang keluar dari mulut suami beserta asistennya.


Tidak berapa lama, Aya datang bersama si mbak. Dan Aya langsung berlari ke arah sang ayah.


"Ayah, Ayah. Atu abis matan cama itan," Mendengar Aya berceloteh membuat semua orang tertawa karena saking gemesnya.


"Ayo, Aya salim dulu sama om dan tante." Titah Dia pada sang anak.


"Om, calim dulu." Lalu Aya mengecup tangan Haikal, begitupula yang di lakukan kepada Indah.


"Ini Tante punya sesuatu buat Aya," ucap Indah seraya memberikan bungkusan di kantung kresek yang cukup besar.


Dengan pelan Aya membuka bungkusan tersebut dan, matanya pun sangat berbinar-binar kala melihat isi dari dalan bungkus itu tersebut.


"Sama-sama sayang." Indah memberikan boneka beruang yang sangat lucu, pada Aya.


"Yuk, non. Sekarang non main sama Mbak di kamar ya," ujar suster Ella yang mengajak Aya bermain di kamar.


"Sayang, sama Mbak dulu ya di kamar." Adi ikut menimpali.


"Anaknya Mama, main dulu ya sama Mbak." Lalu Dia mencium pucuk kepala Aya, dan mengelus rambut hitam milik sang anak.


"Iya Ayah, Aya ke kamal dulu." Suara menggemaskan yang sedang berpamitan pada Adi, membuatnya bertambah gemas.


Akhirnya, Cahaya dan suster Ella pun pergi dengan membawa boneka pemberian Indah.


Mereka semua melanjutkan obrolan, hingga ucapan Indah membuat mata memandang.


"De, nanti kalau punya anak. Gue maunya anak laki biar bisa jadi mantu elu," ucap Indah dengan senyuman yang terukir di bibirnya.


Dia tidak habis pikir dengan pikiran konyol yang ada di otak sahabatnya itu, bisa-bisanya Indah menargetkan mempunyai anak lelaki hanya ingin di jodohkan dengan Cahaya.


"Eh elu ya, makin lama makin ngelunjak! belum tentu anak gue suka sama anak elu entar." Saat Dia berkata Adi pun tertawa terbahak-bahak karena ucapannya sama apa yang baru saja di ucapkan.


"Kalian berdua emang ya, bener-bener somplak."

__ADS_1


Adi dan Dia masih tertawa, dengan perkataan Indah maupun Haikal.


Cukup lama dua sejoli itu bertamu ke rumah bosnya, dan kini mereka akan berpamitan untuk pulang. Jam yang bertengger di dinding menunjukkan kalau hari ini sudah siang, yakni pukul sebelas siang.


"Pak, saya mau pamit pulang." Indah berpamitan pada Adi selaku bosnya yang saat ini masih resmi Indah menjadi karyawannya.


"Kamu sahabat istriku, jadi. Jangan terlalu formal jika kita berkumpul seperti sekarang.


"Ta...."


"Sudahlah Ndah, turuti saja apa yang di katakan oleh suami gue. Dia menyela ucapan Indah dan memotong perkataannya, karena Dia tahu apa yang akan di sampaikan oleh Indah.


"Baiklah." Jawab Indah menurut.


Sedangkan Haikal masih berbincang dengan Adi, dan sekarang soal pekerjaan yang mereka bahas. Lalu Dia dan Indah hanya sebagai pendengar, karena di antara mereka tidak ada yang tau apa yang mereka katakan.


Di rasa sudah cukup untuk membahas soal pekerjaan, Haikal berpamitan pada Adi.


Dia beserta suaminya mengantarkan kedua tamu tersebut di luar.


"De, gue pulang dulu ya." Indah berpamitan sembari memeluk sahabatnya itu.


Sedangkan Haikal juga berpamitan dengan Adi. Akhirnya kedua tamu itu pergi meninggalkan kediaman rumah Adi.


Setelah para tamu itu pergi dan sudah tak terlihat dari pandangan mereka. Adi dan istrinya segera masuk dan mengunci pintu.


...----------------...


SEDANG DI MOBIL.


"Sayang kita ke rumahku dulu ya," ucap Haikal.


"Mau ngapain?" tanya Indah penasaran.


"Ponselku ketinggalan," ujar Haikal.


"Ya sudah tidak apa-apa," timpal Indah.


"Em, sayang kamu sudah siap buat jadi istriku." Seketika Indah menatap lekat ke arah wajah Haikal.


"Insya Allah aku udah siap." Jawab Indah, dan seketika senyuman tercetak jelas di bibir Haikal.


Semoga kamu lelaki yang tepat untuk ku pilih menjadi imamku, ucap Indah di dalam hatinya.


Indah menatap ke arah luar jendela, melihat pemandangan yang sangat sejuk, karena di pinggir jalan terdapat pepohonan yang berdiri kokoh.


Sedangkan Haikal diam-diam mencuri pandangan ke arah kekasihnya, karena semenjak keluar dari rumah sahabatnya. Indah nampak murung.

__ADS_1


Untuk saat ini Haikal membiarkan larut dalam lamunan, entah apa yang sedang di pikirkan oleh kekasihnya itu, sampai-sampai. Indah melupakan sosok yang berada di sebelahnya.


__ADS_2