Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
BAB 13. Tragedi Ikan Asin


__ADS_3

Suara kokok ayam saling bersahutan bertanda jika sang fajar telah datang.


Pukul 4:40 pagi. Dia sudah terbangun dari tidurnya yang ia rasa baru saja memejamkan mata.


Seperti biasa meski gadis berusia 17 tahun terlihat bar-bar, namun tak sekalipun akan meninggalkan ibadahnya di mana ia berada.


"Hoamm. Boleh gak sih ini pagi di ganti malam lagi, perasaan baru dapat semenit udah pagi saja." Gumamnya.


Dengan rasa malas akhirnya Dia pun berdiri untuk meregangkan otot-ototnya sebelum berjalan ke arah kamar mandi untuk berwudhu.


Beberapa menit kemudian Dia kembali membaringkan tubuhnya, dengan tubuh yang terlentang menatap langit-langit plafon di temani lampu yang tamaram. Dia memikirkan kejadian semalam sewaktu di Cafe.


Masih teringat jelas di ingatannya bahwa Adi berkata 'ingat jodohmu ada di tanganku' tak seorangpun yang mampu bertahan saat menjalin hubungan denganmu' seperti itulah ucapannya yang di lontarkan pada Dia.


Apa ia gue sulit dapetin jodoh, jika ada seseorang yang mengutukku, dalam hati Dia tiada henti mengumpat karena merasa di permainkan oleh pria yang berstatus duda itu.


"Bodoh amat, memangnya dia tuhan. Sampai-sampai mengutukku jika jodohku ada di tangannya." Gumam Dia.


Dan tanpa di undang rasa kantuk tiba-tiba menyerang, hingga pada Akhirnya Dia pun terlelap lagi untuk yang kedua kalinya.


Pagi menyapa.


Kring.


Kring.


Kring.


Bunyi alarm seketika membangunkan Dia yang masih terlelap namun telinganya cukup tajam untuk mendengarkan bunyi dari gawai nya dan mematikannya.


Di dapur.


"De, Emak mau ngomong,"


"Tinggal ngomong kan Mak." Timpal Dia.


"Kemaren kemana seharian kagak pulang kamu! Inget ya kamu anak cewek."


"Siapa bilang aku anak cowok Mak, ada-ada saja."


Bugh.


"Aish, sakit Mak!"


"Siapa suruh ngejawab! Bisa gak kamu itu diem kalau orang lagi ngomong, orang tua belum selesai ngomong udah main comot saja."


Setelah mendapat pukulan dari Emaknya, Dia tak bergeming, tutup panci melayang ke pantatnya dengan bebas. Karena Mak nya yang masih ceramah di potong oleh Dia, sehingga membuat Emaknya kesal.


"Coba jelaskan kemana kamu kemarin!" Dia masih diam.


"Hye kamu kagak budeg kan."

__ADS_1


"Buset ini anak bener-bener ya." Umpat Emaknya dengan tangan masih memegang tutup panci.


"Punya telinga kan." Lagi-lagi Dia diam.


Bugh.


Untuk yang kedua kalinya tutup panci melayang, namun sekarang berpindah tempat, jika tadi di pantat kini beralih ke paha.


"Auh, sakit Mak!"


"Sukurin salah sendiri orang tua ngomong kagak di jawab-jawab serasa ngomong kek patung."


"Iya kan Emak sendiri yang bilang kalau orang lagi ngomong suruh diem, kan udah diem. Masih saja di salain."


"Gusti... Benar-benar kamu ya, pagi-pagi udah bikin Mak darah tinggi."


Maka seperti ini lah setiap hari.


Kata orang jika tak ada balita maka rumah terlihat sepi, namun di sini jauh berbeda. Rumah yang tak begitu besar di huni oleh orang tua tunggal beserta kedua anaknya, setiap hari akan ramai dengan masalah sepele, atau obrolan yang tak sejalan membuat keributan pada akhirnya. Yah seperti pagi ini, Mak Ita marah-marah terhadap Dia.


"Mak, jangan marah-marah. Emak mau bertambah tua, kan belum juga gendong cucu."


"Mak Ita langsung bungkam, karena menurutnya apa yang di katakan oleh Dia ada benarnya juga, tak mau kedahuluan tua sebelum menggendong seorang cucu.


Ini nih, contoh Mak-mak yang menolak tua, haduh... Mak Ita, Mak Ita, ampun deh.


" Ya sudah sono belanja, Mak mau masak."


"Ini beli apaan Mak,"


"Ok."


Lalu Mak Ita memberikan uang pecahan sebanyak lima puluh ribu, untuk di belanjakan oleh Dia.


Dia berjalan ke arah pintu keluar, entah mengapa pikirannya tertuju pada ucapan kemarin dan masih menghiasai di dalam kepalanya.


Sesampainya di warung.


"Bude, beli sayur."


Tak perlu berteriak keras karena sang pemilik warung berada di tempat.


"Mau beli apa De, tumben kamu yang belanja?" tanya Ibu warung itu pada Dia.


"Lagi bikin sarapan bude." Jawab Dia.


"Ini mau beli sayur apa,"


"Ikan asin setengah bude."


Bude Na, langsung terhenyak dan sesaat memandangi wajah gadis yang berada di depannya, karena merasa aneh. Bukan tanpa alasan keluarga Dia suka dengan ikan asin, tapi untuk beli sebanyak itu sepertinya tak mungkin.

__ADS_1


"Ada yang aneh ya Bude di muka saya," Dia merasa di pandangi akhirnya angkat bicara.


"Eum, kamu gak salah kan beli ikan asin sebanyak itu?" tanya Bude Na, karena jika Emaknya Dia beli, itu pun hanya membeli dua bungkus, lha ini setengah kilo.


"Enggak kok, bener. Emang Emak nyuruh setengah belinya."


Tanpa menjawab pemilik warung pun mulai menimbang. Setelah selesai menimbang ikan asin yang di minta Dia, di berikan.


"Ini, harganya 15 ribu ya."


Lalu Dia memberikan uang pecahan tadi, dan di ambil 15 ribu untuk membayar.


"Bude aku pulang." Pamit Dia.


"Iya De." Sahut Bude Na.


Beberapa menit kemudian sampailah Dia di rumah.


"Ini Mak, ikannya," Lalu Dia menyodorkan ikan yang baru saja di beli.


"Dari mana De, ikan asinnya?"


Dia pun heran, bukannya tadi Emaknya yang nyuruh untuk membelinya, lantas mengapa sekarang bertanya.


"Lho Emak ini gimana sih! ya beli lha kan Emak tadi yang nyuruh buat beli ikan asin." Ucap Dia santai, padahal Emaknya sudah terbakar api kemarahan, saat Dia menjelaskan asal mula ikan asin dari mana.


"Diaaaaaa... Dasar bodoh! Kamu sengaja buat Emak cepet setrup."


Kan setrup lagi, yang ada setruk kali Mak.🤦‍♀️🤦‍♀️


Gedebug.


"Ais sial" Keluh Edo karena terjatuh dari tempat tidurnya, karena mendengar Emaknya berteriak, hingga memutuskan untuk menemuinya di dapur.


"Auh, sakit, Mak sakit," Dia terus saja merintih kesakitan karena kedua kupingnya di jewer oleh Emaknya.


Dari arah pintu terdengar suara Edo yang sedang menegur Mak Ita.


"Ada apa sih Mak, pagi-pagi udah ribut, kalah tuh pasar saking rame nya." Ujar Edo yang sedang bersandar di pintu.


"Ini nih, nih anak perlu di kasih sedikit-sedikit biar otaknya gak jalan kemana-mana."


"Yang ada kaki Mak yang jalan, otak mana bisa jalan." Edo yang di ajak bicara namun Dia yang menjawab, hingga akhirnya satu ikan asin terbang di mulut Dia.


Hap.." nih rasain nih kapok gak kamu."


Huuuaaa....Mak jahat, Mak tega." Huaaaa...


"Masa suruh beli ayam setengah kilo, bukannya di beliin, malah pulang-pulang bawa ikan asin." keluh Mak Ita pada Edo.


Edo bukannya kasian malah tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


Hahaha...Hahaha.."sumpah lucu kikiki."


"Hap, kini ganti Edo yang disumpal ikan asin oleh Dia.


__ADS_2