Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
BAB 48. Di Tuduh Mencuri


__ADS_3

"Kesayangan Om duda, istrinya Om suami, Om tinggal dulu ya." Setelah mengantar De, Adi bergegas menyalakan mesin mobilnya lagi.


Adi yang semula menjalankan mobilnya, kini kembali lagi untuk menghampiri sang istri.


Apa ada yang ketinggalan, kok Om Suami nyamperin lagi. Dia membatin, dengan menautkan satu alisnya.


"Ada apa Om?" tanya Dia, setelah kaca mobil terbuka.


"Ada yang lupa." ucap Adi.


"Apa!"


"Kamu belum salim." Adi berkata sambil menyodorkan tangannya.


"Lupa, Om." Dia meringis karena betul-betul lupa.


"Udah kan," ucap Dia lagi.


"Ya, ya udah masuk sana." Titah Adi pada Dia, yang menyuruh agar cepat masuk.


Beberapa saat kemudian, Adi sudah menghilang dari pandangan Dia, dan Dia pun segera masuk meninggalkan pelataran Restoran.


"Hye De." Sapa kawan-kawan Dia.


"Hye juga." Dia menimpali.


"De, elu bawa kendaraan sendiri atau di antar?" Indah bertanya pada Dia, karena tumben belum jam masuk Dia sudah stay, dan itu membuat Indah sedikit keheranan.


"Iya di antar. Semenjak gue habis kena begal udah gak di ijinin bawa motor sendiri." Lalu Dia menjelaskan perihal dirinya yang tidak boleh membawa motor, tanpa Suaminya akibat pembegalan kemarin malam.


"Hah! Kapan kamu kena begal, De." Indah terkejut saat Dia bilang jika dirinya habis mendapat musibah.


"Kemarin, waktu mau beli makan." Dia menjelaskan.


"Tapi kamu gak papa kan. Gak ada yang terluka?" tanya Indah memastikan.


"Elu tenang saja. Gue baik-baik saja kok," ucap Dia.


"Syukurlah kalau begitu, ya udah kita masuk ke dapur yuk." Setelah berbincang-bincang, Indah mengajak Dia untuk segera berkerja.


"Eh, ada orang bermuka dua nih."


"Siapa yang kamu maksud," Indah langsung menyahuti ucapan Serly.

__ADS_1


"Ya siapa lagi dong, kalau bukan teman kamu yang sok cantik itu." Serly menatap Dia dengan rasa jijik, karena mengira jika dirinya menjerat sang bos dengan cara kotor, hingga sampai Dia bisa menjalin hubungan dengan bos nya yang duda tersebut.


"Jaga ucapan kamu ya," ucap Indah yang tidak terima jika sahabatnya itu di maki-maki.


"Udah lah Nda, ngapain sih kamu ngurusin ini orang, gak ada kerjaan saja." Dia menyahuti ucapan Indah, jika tak perlu lagi meladeni orang macam seperti itu.


"Alah baru juga jadi pacarnya uda songong elu." Lagi-lagi Serly memakinya.


"Kamu gak tau kan siapa De, sebenernya." Indah yang sudah geram ingin membuka jati diri De yang sesungguhnya, namun Dia sudah memberikan kode pada Indah agar tidak sampai mengatakannya.


"Seseorang yang miskin, Dan berharap menjadi kaya dengan cara memberikan tubuhnya dengan Pak Adi."


PLAK.


Dia dengan keras menampar pipi Serly, hingga Serly menahan sakit.


"Jaga mulut elu ya, atau gak mulut kotor mu itu akan gue sobek." Lalu Dia pergi meninggalkan orang yang telah memakinya.


Sedangkan Serly menahan sakit hingga dirinya akan membuat rencana hingga, Dia di pecat. Dari pekerjaannya.


"Kenapa elu gak biarin gue ngasih tau tentang elu sih." Indah yang merasa kesal karena sewaktu tadi, dirinya ingin mengatakan siapa Dia, tapi Dia tidak memperbolehkan.


"Udah lah, jangan di perpanjang, males gue dengernya."


Tak terasa waku bergulir dengan cepat, karena sekarang sudah di pukul tiga sore, dan waktunya Dia siap-siap untuk pulang.


Sedangkan di loker di mana tempat untuk menyimpan barang masing-masing, Serly sudah melancarkan aksinya.


"Sebentar lagi Pak Adi datang, maka tamat lah riwayatmu." Gumam Serly dengan diiringi senyuman licik.


Saatnya sudah tiba, siap-siap di tendang. Gumam Serly dalam hati.


"Hye kalian! Apa kalian melihat HP saya?" Serly bertanya pada keempat orang tersebut di ruangan di mana barang diletakkan.


"Aku enggak pernah ngotak-ngatik isi loker kamu. Jadi, ya enggak tahu." Ujar orang kesatu.


"Iya, bisa jadi kamu lupa kali naru nya." Orang kedua menimpali.


"Aku gak lupa, ini lihat lah. Tasku resletingnya kebuka, pasti ada orang yang sengaja ngambil." Serly memperlihatkan bagian tas nya yang terbuka.


"Terus di sini siapa yang elu tuduh!" dengan menatap jengah ke arah serly Indah berkata.


"Yang pastinya orang yang udah ngincer Handphoneku." Dengan muka yang di buat-buat Serly membalas perkataan Indah.

__ADS_1


"Halo, emangnya HP elu semahal apa sih. Sampai orang pengen nyolong itu HP," Indah menyerang balik ucapan Serly. Sedangkan Dia hanya diam menatap jengah.


DI LUAR.


Adi yang sejak tadi menunggu Dia, belum juga keluar, hingga menyuruh anak buahnya untuk memanggilkan istrinya.


Namun bukan Dia yang di bawa, akan tetapi berita tentang salah satu karyawan yang kehilangan telepon seluler.


Tanpa berpikir panjang Adi langsung menghampiri di mana keributan itu terjadi.


"Ada apa ini!" Terdengar suara sang pemilik tempat datang, mereka semua diam.


"HP saya hilang Pak." Serly melaporkan tentang dirinya yang kehilangan benda pipih nya.


"Sudah tau siapa yang mencuri?" Adi bertanya untuk memastikan.


"Paling-paling De, Pak." Tanpa punya rasa takut Serly berucap, dan menuduh jika yang mengambil adalah Dia.


"Atas dasar apa kau menuduh De," ucap Adi dengan suara tegas.


"Iya kan HP nya jelek Pak. Jadi, bisa di pastikan jika De lah yang mengambil, secara HP saya harganya mahal." Serly terus saja memojokkan Dia, seakan-akan memang Dia lah yang mencuri.


"Apa itu betul De." Kini netra Adi beralih ke arah Dia.


Dia hanya diam, dan tak ingin mencari pembelaan terhadap siapapun termasuk Suaminya sendiri.


"Masalahnya saya enggak merasa mencuri Pak." Dia mencoba membela dirinya sendiri yang semakin tersudut.


"Tolong Pak, HP saya harganya 4juta. Kalau sampai hilang bagaimana." Serly yang mulai mengeluarkan air mata, berharap jika malingnya segera di temukan.


"Ndah, periksa satu-satu tas mereka." Adi memerintahkan Indah untuk menggeledah tas orang yang berada di tempat di mana loker di letakkan.


Indah sudah memeriksa ketiga orang tersebut, dan tidak menemukan benda yang di cari oleh Serly. Dan kini Indah sudah beralih di tas milik Dia.


"Indah tercengang, dan sangat terkejut melihat apa yang baru saja ia temukan di balik tas milik sahabatnya itu, tapi Indah juga tidak mudah mempercayai itu semua. Pasalnya seharian ini Dia, bersamanya. Jadi mana yang ia percaya? Sungguh membuat Indah bingung, dan Indah yakin jika Dia tidak melakukan itu semua? Bukan kah suaminya orang kaya.


" Ndah elu kenapa?" Dia merasa ada gelagat aneh dari wajah Indah.


"De."


JEDARRR..


"Ti-tidak mungkin."

__ADS_1


__ADS_2