Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
BAB 35. Pokok,e Aku Tresno Karo Kowe


__ADS_3

Akhirnya Dia memilih masuk setelah memarkirkan si ucup di garasi.


Pukul 22:00.


Dia tadi sempat membeli sate lontong khas madura, dengan cekatan iya memindahkan sate ke dalam piring, dan nasi yang di taruh di bakul.


Lama menunggu, hingga akhirnya ia memutuskan untuk memakan sate nya saja, saat dirinya sedang menikmati satu persatu tusuk sate, terdengar dari luar suara deru mobil.


"Dari mana Om duda, tumben keluar malam-malam." Gumamnya sambil mulut yang masih mengunyah.


Tak.


Tak.


Tak.


Terdengar langkah seseorang untuk menuju ke arah dapur..


Dia yang sedang menikmati sate ayam tersebut tidak sadar saat sepasang mata itu tengah memandanginya.


"Dasar bocah, apa gak lihat suaminya pulang, dan sok gak tahu." Ujarnya, namun lirih hingga Dia tak mendengar.


Dan beberapa detik kemudian, Dia yang acuh lalu menawari suaminya makan.


"Om mau makan," tawar Dia pada Adi.


"Iya mau makan kamu,"ucap Adi, dengan tatapan mesumnya.


" Gak enak Om, pait," Jawab Dia enteng.


"Ya di gulain dong sayang, kopi pahit di gulain jadinya em, ah, nikmat seger-seger gitu jadinya," dengan mulut seperti orang yang sedang menikmati sesuatu Adi berkata. Dan itu membuat Dia sedikit geli.


"Bengi-bengi gak usah gawe wong mikir seng aneh-aneh to yo." (malam-malam gak usah bikin orang mikir yang aneh-aneh kenapa sih) Dia berujar sambil berdiri untuk mengambil minum yang berada di kulkas.


"Kamu ngomong apa? Saya enggak ngerti?" Adi bertanya sambil mengerutkan kedua alisnya.


"Bahasa jawa lha, kan saya orang jawa." jawab Dia.


"Terus artinya apa?" tanya Adi untuk yang ke dua kalinya.


"Artinya, saya sayang sama kamu." Besar-besar noh kepala kamu hahaha, kapok gak tuh gue kerjain.

__ADS_1


Dia meringis sambil membenarkan poninya dan menyilakan nya. Terlihat Adi seperti memikirkan sesuatu, bisa jadi yang ada di pikirannya. Apa ia artinya seperti itu, karena dirinya bukan berasal dari jawa jadi ya wajar kalau dirinya tak mengerti.


"Kamu serius kan." Adi ingin memastikan jika apa yang di katakan nya ada lah benar.


"Memang ada tampang saya bohong," Dia menatap adi agar dirinya tak di anggap Adi berbohong.


"Gak ada, cuma kelihatan tampang sesatnya sedikit." Jawab Adi dengan langkah mendekati Dia, untuk ikut serta mencicipi sate ayam juga.


"Buset." Bener-bener nih orang, Gumam Dia dalam hatinya.


"Kalau bahasa jawanya saya suka kamu apa?" Adi bertanya dengan mulut yang penuh dengan sate.


"Aku tresno karo kowe." Jawab Dia.


(Aku suka sama kamu)


"Aku juga suka kok sama kamu." Dengan wajah di buat seimut mungkin, lalu berkata 'aku suka sama kamu' dan Dia pun langsung tersedak


Uhuk.


Uhuk.


"Minumlah, satenya kan masih banyak, gak ada yang mau rebut itu sate." Adi memberikan segelas air putih kepada Dia, lalu tanpa protes langsung meminumnya.


"Kan memang benar artinya saya suka sama kamu, jadi bener dong. Daripada saya suka sama tetangga, hiii kan serem."


"Dasar duda, udah gitu somplak pula." Setelah memberi kata umpatan pada Adi, Dia pun langsung bergegas naik ke atas.


"Sayang, aku tresno karo kowe beneran lho."


"Oh, Dia..Dia...Aku tresno karo kowe." Dia yang mendengarkan suaminya berkata, sampai bernyanyi hanya bisa geleng kelapa, eh maksudnya kepala.


"Jika tidak percaya, belah lah dadaku, pokoknya aku tresno karo kowe."


Hampir mirip seperti orang gila, Adi terus berucap dengan suara sedikit keras. Hingga di kamar pun dirinya tak henti-hentinya mengucapkan 'aku tresno karo kowe' dan itu membuat Dia benar-benar kesal.


"Kalau Om terus berteriak kek tarzan mending keluar deh, ini uda malem! Besok waktunya orang kerja!" Sumpah benar-benar kesal saat itu orang berteriak memanggil namaku dan bilang suka pada ku, dasar wong edan, dalam batin aku mengumpat habis-habisan dan tanpa memperdulikan lelaki otak nya yang agak korslet, tubuhku langsung ku tutupi dengan selimut agar tak melihat seseorang yang telah sah menjadi suami ku.


.


.

__ADS_1


.


.


Samar-samar terdengar suara alarm dari gawai, lantas aku bergegas untuk mematikannya dan aku tahu kalau saat ini waktunya menjalankan kewajiban sebagai umat muslim, namun terasa ada yang aneh dalam tubuh ku yang tak bisa di di gerakkan.


Ais menyebalkan, Gumam Dia.


Karena badan Dia telah di himpit oleh Adi dari belakang dan itu membuat nya tak bisa bergerak.


"Ini kaki apa beton neser sih, berat banget." Gerutu Dia, yang sedang memindah kan kaki Adi dari pahanya, namu tak berhasil karena sangat berat.


Hem kerjain enak kali ya. Batin Dia.


Dengan jahilnya Dia mencabut bulu yang terdapat di kakinya dan.


Aaaaaaaaaa..


"Bocahh!" Adi berteriak kesakitan dan tentunya terkejut oleh ulah istri kecilnya itu.


"Apa yang kamu lakukan pada kakiku," dengan menahan sakit Adi berbicara.


"Salah sendiri tidur tidak pada tempatnya, saya kan mau bangun jadi gak bisa." Ujar Dia yang sedikit kesal oleh kelakuan Adi yang seenaknya main nangkringin kakinya di pahanya.


"Pindahin gak kaki yang satunya, keburu habis jam shalatnya." Imbuh Dia lagi.


Tak menjawab Adi pun langsung menurunkan kakinya yan satunya, dan membiarkan Dia bangun.


"Nanti kalau gitu lagi, ingat bakal saya iket itu kaki sama tangan kamu." Dia mencabik kan bibirnya sambil berjalan menuju ke kamar mandi.


"Dasar macan tutul! apes punya bini cantik, sayang nya judesnya minta ampun." Gumam Adi. Dan laman-laman matanya pun terpejam lagi dan memilih pergi ke pulau kapuk, alias dunia mimpi.


Pagi pun telah tiba, suara kokok ayam saling bersahutan dan sang embun pun membasahi dedaunan, mentari yang mulai menampakkan wajahnya dengan sedikit malu-malu. karena tertutup awan hitam, dan bisa jadi langit akan menangis di pagi ini.


Bau harum yang berasal dari dapur, membuat perut Adi keroncongan. Dirinya yang berada di ruang TV, matanya yang fokus ke arah laptop dan jemarinya dengan lihai menari-nari di atas keyboard seketika hidungnya mengendus-endus bau tersebut, lalu dirinya beranjak untuk menghampiri istri kecilnya itu.


"Wah kesayangannya Om duda lagi buat apa nih," ucap Adi, dengan suara gemulainya.


"Ihh jijik, saya denger suara om duda seperti itu." Dia yang tak mau menatapnya karena ingin rasanya ia mual saat lelaki itu berbicara dengan suara yang di buat-buat.


"Yang penting mah, Om duda tresno karo kowe." Sambil tersenyum dan menampakkan deretan giginya Ada berkata.

__ADS_1


"Sekarepmu." (terserah kamu)


Lalu Dia pun menyuguhkan cemilan berupa pisang goreng, pada Adi. Sebelum ia melanjutkan acara memasaknya.


__ADS_2