Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
BAB 23. Akan Aku Takluk Kan Kau Bocah


__ADS_3

Huf..huf..huf.


Tak mau tertangkap hingga membuat Dia berlari karena sudah mengerjainya dengan kata-kata palsu.


"Dasar duda somplak, punya Hp canggih tapi diangkrakin." Dia bergumam. Setelah berlarian kini dirinya duduk di tepi pantai, menikmati deburan ombak dan semilir angin, yang menerpanya.


Dia yang sedang asik berkelana dengan dunia khayalan, tanpa di sadari nya Adi sudah berada di sebelahnya, dan mendengarkan keluh kesahnya serta khayalannya.


Bermimpi jadi orang kaya sepertinya enak, dan tak perlu susah payah mencari uang untuk memenuhi kesehariannya.


"Apa aku terlalu bermimpi, tapi bukan kah semua orang bermimpi itu manusiawi, Ah kenapa jadi ngelantur sih! Ya sudah lah emang kalau kere ya kere saja gak perlu naik tinggi-tinggi entar yang ada jatuh mati." Dia merutuki dirinya sendiri yang terlalu banyak mimpi.


"Maka menikah lah dengan ku,"


"Huh." Lalu Dia menoleh ke samping, dan entah sedari kapan lelaki itu sudah berada di sebelah Dia, hingga dirinya berjingkat karena terkejut.


"Kenapa harus terkejut," ujar Adi.


"Apa saya harus tertawa." Sungut Dia.


"Gila dong ya," jawab Adi.


"Nah itu tau, ngapain harus di tanya sih." Ucap Dia, yang menahan kesal pada lelaki di sebelahnya.


"Gimana mau kah kamu..."


"Ogah." Dengan cepat Dia, memotong perkataan Adi.


"Kenapa, bukan kah nanti kamu menjadi kaya ya," dengan senyuman yang mengembang Adi berbicara, seakan dirinya yakin kalau gadis di sebelahnya tak akan menolak.


"Tawaran macam apa itu,"


"Tawaran pernikahan dan menjanjikan kekayaan."


Dia tercekat saat mendengar Adi menjelaskan.


"Kenapa saya yang harus di tawari," dengan mengerutkan dahinya Dia bertanya lagi.


"Pertanyaan macam apa itu, bukan kah kamu sempat menerima,"


"Saya tarik kembali, kata-kata itu."


"Mana bisa,"


"Bisa dong."


"Memang nya saya kurang apa, ganteng sudah kaya iya, mapan apalagi."


"Saya gak mau nikah sama om-om."


"Baik lah, akan aku takluk kan kamu wahai bocah tengil."


"Bodoh amat."


sepertinya saya harus berjuang sedikit untuk menaklukkan bocah satu ini, dasar sudah di beri kekayaan masih saja menolak, apa jangan-jangan saya kurang ganteng, kurang kaya atau kurang waras..Ah sial. Sorot matanya menjurus ke depan menatap birunya air laut, namun hatinya dan pikirannya tertuju pada seorang gadis di sebelahnya, hanya diam membatin dan memikirkan cara untuk bisa mendapatkan bocah tengil yang bermulut cabe.


"Dasar pemaksa,"


"Saya tidak memaksa hanya memberi pilihan,"


"Saya memberikan kamu pilihan menjadi orang kaya, dan di cintai oleh lelaki seperti saya, aish menyebalkan." Seperti itu lah Adi berkata pada Dia, menawarkan sesuatu yang tak masuk di akal.


"Memangnya ada yang salah,"


"Iya, otak Bapak yang salah, Sudah lah saya mau pulang, dan ingat saya menarik kembali kata-kata saya kemarin, dan usahakan juga keluarga Bapak tidak ada yang tahu."

__ADS_1


Menikah, masa iya gue harus melepas masa lajang gue ke duda kagak beres ini.


...----------------...


Sedangkan di kediaman Emak Ita.


Sudah sore kemana lagi itu anak, semenjak kenal sama duren itu, sekarang pulangnya makin sore. Mak Ita terus saja mengoceh dalam hatinya, karena Dia belum juga pulang padahal ini hari sudah jam lima sore.


"Assalamualaikum." Terdengar suara salam dari luar, dan suara itu milik Edo.


"Waalaikumsalam." timpal Mak Ita.


"Ngapain Mak, masang dagu kek gitu, udah mirip orang yang gak di kasih jatah saja,"


"Mulut mu lama-lama udah mirip De, saja."


"Habisnya ngapain kek gitu?" tanya Edo pada Emaknya.


"Adik kamu harusnya udah pulang sedari tadi, tapi sampai gini hari belum juga pulang! pasti ini ada hubungannya dengan si duda itu."


"Apa jangan-jangan mereka pergi bareng Mak."


"Coba telepon." Mak Ita menyuruh Edo untuk menghubungi Dia, untuk menanyakan mengapa sampai hampir maghrib Dia belum juga pulang.


Dan Edo tak membantah, dengan segera dirinya membuka aplikasi berwarna hijau, bukan untuk memanggil melainkan berkirim pesan lewat WhatsApp.


"Gimana Do,"


"Ini masih di tanyain Mak."


Ting.


Suara gawai milik Dia, bunyi menandakan jika ada pesan masuk.


Dia membuka WhatsApp, lalu di lihatnya dari layar siapa yang mengirimi dirinya pesan.


"Siapa De, yang Wa kamu?" tanya bos nya pada Dia.


"Kak Edo, tanya mengapa belum ada pulang, dan Emak marah-marah."


"Mak kamu kalau udah marah mirip singa betina ya," Adi yang saat ini tengah membayangkan saat dirinya di rumah Dia, mendapat amukan serta siksaan yang membuatnya bergidik ngeri.


Lha kok bisa thor, ya bisa?


Adi teringat saat kupingnya di jewer lalu di gebukin pakai guling, belum lagi spatula yang melayang ke pantatnya, dan yang terakhir di suruh ganti pakai sarung, dan alhasil dirinya pulang memakai sarung. Dan Adi masih bersyukur saat perjalanan pulang menggunakan mobil, jadi tak merusak repotasinya saat bertemu seseorang yang ia kenal di jalan.


Hahahaha..


Dia pun tertawa geli saat mengingat Emaknya yang menyiksa bosnya dengan brutal, dan melihat Adi yang pasrah serta menangis bak anak kecil yang minta di beliin jajan, sungguh memalukan, tampang oke, badan bertato tapi nyali bencong.


"Puas ketawanya."


"Belum Pak."


Hahahaha.


Dia terus saja tertawa hingga perutnya sakit.


"Awas nanti kesurupan."


"Jika saya kesurupan, Bapak saya gantung di atas pohon. Biar jadi teman mereka."


"Jika Mak kamu singa betina, kamu demit yang suka umpetin orang."


"Iya yang saya umpetin duluan Bapak."

__ADS_1


"Boleh lah, tapi umpetinya di kamar ya,"


"Hah."


"Udah jangan kaget."


"Emang Bapak maunya di umpetin di kamar, mau tidur ya,"


"Ih, kamu pinter deh, apa lagi umpetinnya di kamar kamu."


"Dasar omes." ( mesum).


Hahaha..


Adi tertawa terbahak-bahak. Maklumin aja ya thor, secara Adi kan duda jadi otaknya agak somplak.


"Pak, anterin saya ke resto saja,"


"Ngapain ke sana?"


"Jawaban macam apa itu."


"Emang kamu mau makan, atau mau nambah jam kerja lagi,"


"Bapak!" teriak Dia.


"Saya bukan Bapakmu."


"Resek,"


"Sekali lagi panggil saya Bapak, saya cium kamu."


Dasar Duda somplak, udah tua tapi gak mau di panggil Bapak.


"Jangan mengumpat saya,"


"Sok tau."


"Bagaimana kalau tempe."


"Bapak!"


Mobil dengan perlahan di tepi kan, ternyata ucapannya tak main-main.


Cup.


Huaaa..


"Maakk."


"Dasar duda, ini yang kedua kalinya anda mencuri ciuman dari saya,"


"Bukan kah tadi saya udah izin,"


"Kapan,"


"Dasar pelupa, ingat gak kalau kamu tetep manggil saya dengan sebutan Bapak, maka kamu saya cium. Jadi saya gak salah dong."


"Itu bukan izin, tapi peringatan."


"Alah sama saja."


"Ba.."


"Mau lagi, apa kamu ketagihan."

__ADS_1


Dengan cepat Dia membekap mulutnya dan berusaha jangan sampai kebablasan lagi, hingga di buat kesempatan bosnya untuk menciumnya lagi.


__ADS_2