Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
BAB 30. Menikah Hasil Terciduk.


__ADS_3

Tok..


Tok..


Tok..


"Iya sebentar." Terdengar suara dari dalam menyahuti seseorang yang telah mengetuk pintu.


Ceklek.


Adi,"


"Assalamualaikum Tante." Ucap Dia saat masuk dirinya langsung mengucap salam dan mencium tangan Bu Rosma.


"Waalaikumsalam, eh ada calon mantu." Jawab Bu Rosma dengan di iringi senyuman.


"Bu," tegur Adi.


"Ya sudah masuk dulu kalian." Titah Bu Rosma.


Akhirnya mereka berdua masuk mengikuti langkah Bu Rosma sebagai tuan rumah.


TAK BERAPA LAMA KEMUDIAN.


"Tumben kamu kesini bawa calon mantu Di?" tanya Bu Rosma yang masih tidak mengetahui alasan anaknya datang ke rumah Ibunya.


Sepi, mengapa tidak tinggal sama Pak Adi, pikir Dia, sambil mengedarkan pandangannya di setiap sudut rumah, dan betapa mewah nya rumah yang di huni oleh Bu Rosma seorang.


"Begini Bu, maksud kedatangan kami kemari, karena ingin mengatakan sesuatu." Adi lalu menceritakan kejadian sebelum berakhir di penghulu.


APA!.


Betapa terkejutnya Bu Rosma saat dirinya mendengar kalau mereka sudah menjadi suami istri karena tragedi hujan tadi.


"Mengapa bisa begitu Adi!" bentak Bu Rosma.


"Ya bisa lha Bu, nyatanya kan begitu." Ucap singkat Adi.


"Baik lah, Ibu merestui kalian, mungkin dengan cara ini tuhan menyatukan kalian juga." Bu Rosma tak bisa berkata apa-apa selain merestui hubungan keduanya. Dalam satu disi Bu rosma bahagia karena Adi mau menikah untuk kedua kali, di saat umurnya sudah di angka ke 36tahun, dan perempuan paruh baya itu tak menyangka kalau ternyata Dia lah yang menjadi menantunya, menantu yang di harapkan meski Dia seorang gadis sederhana tanpa kasta, Beliau pun tak mempermasalah kan akan hal itu.


"Jadi langkah apa yang kalian ambil untuk sekarang," sambung Ibu nya lagi.


"Kami, tentunya pulang ke rumah ku Bu," jawab Adi.

__ADS_1


"Ah, akhirnya keturutan juga punya mantu hanya Dia..dia..dia, eh maaf keasikan sama lirik lagu." Ujar Bu Rosma dengan tanpa malu sedikit pun.


Dan mereka berdua menggelengkan kepalanya sambil menepuk jidat mereka.


Usai menjelaskan dan Ibu nya juga sudah merestui mereka, lalu sepasang pengantin baru yang menikah akibat terciduk pamit untuk pulang ke rumah Adi.


PAGI HARINYA, SAAT SUBUH MENJELANG.


Aaaaaaaaaaa....


Hup.


Dia berteriak begitu keras hingga Adi terbangun karena terkejut saat dirinya sedang terbuai di alam mimpi, tiba-tiba dirinya mendengar sebuah teriakan, hingga ia membekap mulut Dia.


"Apa kau sudah gila, subuh-subuh sudah berteriak membangunkan ayam yang masih dengkur." Ujar Adi dengan mata yang masih merem melek, karena nyawanya masih belum terkumpul penuh.


Dengan kasar Dia melepas tangan besar itu dari mulutnya.


"Apa yang Bapak lakukan di kamar saya hah. Bapak mau perkosa saya ya," ucapan Dia sontak membuat mata Adi membulat lalu.


Peletak.


"Auh, sakit dodol," keluh Dia lagi sambil mengusap keningnya.


"Ini kamar saya, seharusnya yang tanya itu saya, ngapain kamu di kamar saya? Apa kamu sengaja ingin tidur dengan saya." Jawab Adi yang tak terima di tuduh jika dirinya ingin memerkosa Dia.


Lalu Dia, melihat ke tubuhnya.


Syukur lah, masih utuh semua. Gumam Dia di hatinya dan dirinya bernafas lega.


Kini giliran dirinya menatap isi kamar yang saat ini di tidurinya, dan netra nya menangkap sebuah pigura yang terdapat foto bosnya bersama pengantin wanita, satu kata yang ada di benak Dia saat melihat lelaki di foto yang terpampang tersebut 'gagah' begitu gagah dan menawan.


"Apa kamu masih ingin menuduh saya, memperkosa kamu, sedangkan kamu sekarang berada di kamar saya." Dia terkejut dan tersadar saat suara lelaki itu memecah keheningan.


Sedangkan Dia masih mencerna serta berpikir keras kenapa ia bisa berada di kamar ini. Bukan kah kemarin malam dirinya duduk di depan TV setelah makan, dan melihat YouTube menonton film favorit nya, ya itu GOBLIN. Lantas mengapa sekarang sudah di atas awan, aish maksudnya atas kasur.


Dan sepertinya Adi juga memikirkan hal yang sama, memikirkan hubungannya dengan Dia, bukan kah dirinya kemarin malam hanya meminum kopi bukan minum minuman beralkohol, lantas mengapa ia bisa mabuk sampai-sampai dirinya bisa tidur dengan bocah tengil.


Setelah mereka sama-sama diam, dan yang tadinya memikirkan kok bisa, sekamar.


"Kamu!"


"Astaga ternyata kamu yang kemarin saya nikahi," ucap Adi.

__ADS_1


"Ah iya, saya ingat akibat terciduk dan di kira pasangan mesum. Saya terpaksa menikah dengan Om duda kan."


"Baru nyadar ya kalau kita udah halal," dengan senyuman sedikit menakutkan Adi berbicara.


"Terus kalau udah halal mau ngapain." Dia berkata sambil kakinya di turunkan dari king size milik Adi.


"Mau kemana kamu sayang, kita belum sayang-sayangan lho." Seketika Dia, bergidik ngeri kala mendengar suara manja Adi yang di buat-buat.


"Nih, sayang-sayangan sama guling. Cium dah sampai puas." Dia mengambil guling lalu di lempar tepat di muka Adi, dan setelah itu dirinya berjalan ke arah kamar mandi untuk berwudhu, dan akan melanjutkan Shalat subuh nya.


Lantas Adi juga tak mau malu karena melihat Dia menjalankan ibadah, tetapi dirinya tidak.


"De, tungguin saya." Ucap Adi sambil berlari kecil untuk menuju ke kamar mandi.


Dia yang mengerti akhirnya menunggu sambil memasang mukenah, dan setelah itu.


Sama-sama tak berkedip Dan satu kata yang di ucap kan Adi, 'cantik' saat Dia memakai mukenah Adi memujinya dalam diam.


Tak jauh berbeda dengan Dia, Dia juga memuji jika Adi sangat tampan dan gagah saat suaminya memakai baju kokoh serta sarung, tak lupa memakai kopyah.


"Eum udah bisa kita mulai." Ujar Adi kikuk.


Dia tak menjawab, hanya mengangguk tanda bahwa dirinya sudah siap.


Usai menjalankan ibadah, tak lupa Dia mencium tangan Adi sebagai baktinya pada suami, dan di balas ciuman di kening oleh Adi.


Pukul 5:20.


"De, jika kamu mau berhentilah bekerja," Adi mengatakan apa yang tersimpan di hatinya.


"Jangan coba-coba melarang Om duda," Dia menolak dan akan tetap bekerja.


"Baru juga jadi suami semalam, Om duda udah berani nyuruh saya buat berhenti." Dia protes karena memang dirinya tak mau berhenti bekerja. Jika di rumah maka yang ada dirinya akan menjadi gila, karena rumah sebesar ini tak ada lagi yang menempati selain dirinya dan tentu yang punya rumah.


"Dasar keras kelapa."


"Huh," Ada yang aneh batin Dia.


"Eh, maksudnya keras kepala."


Lalu Dia menghela nafas kasar, karena mendengar ucapan Adi yang tak pernah benar.


Kring..Kring.

__ADS_1


Terdengar suara dering gawai milik Dia bunyi.


"Siapa yang telepon pagi-pagi?" tanya Adi.


__ADS_2