
Hari minggu adalah di mana setiap orang akan menghabiskan masa liburannya sebelum esok pagi datang, dan tentunya memulai aktivitas lagi bagi para pejuang rupiah.
"Kesayangannya Om Duda, dan istrinya Om suami, ke taman yuk pasti rame. Sekalian kita jalan-jalan ke mall." Ucap Adi pada Dia.
"Ide bagus tuh Om Duda, yuk berangkat. Tapi aku gak mau ya naik mobil," ujar Dia.
"Terus naik apa?" tanya Adi pada Dia yang merasa bingung.
"Naik odong-odong! Iya naik motor lah, pertanyaan macam apa ini," kesal Dia.
"Gitu saja enggak pakai ngambek kali kesayangannya Om duda, istrinya Om suami." Dengan memainkan mata sebelah kiri Adi menggoda Dia.
"Idih, huek cuih. Lebay tau gak! Umur uda tua masih saja kelakuan kek ABG." Sungut Dia pada Adi, yang menurutnya terlalu lebay.
"Uda deh, jadi berangkat kagak, bisa-bisa ini hari berubah jadi malam lho." Ujar Dia dengan segera menyeret lengan Adi untuk segera mengeluarkan Ucup dari tempat tinggalnya, garasi.
DI TAMAN.
Adi yang melihat istrinya tersenyum sendiri kala melihat anak-anak yang sedang bermain. Jiwa lelakinya meronta ingin sekali ia mempunyai anak, mengingat usianya sudah tidak mudah lagi. 36tahun, bukan lagi alasan untuk bermain-main. Tapi dirinya harus memproduksi keturunan untuk meneruskan usahanya itu, karena dirinya dengan bertambahnya usia tidak akan membuatnya muda lagi.
Setelah puas memandangi istrinya tersebut, kini pandangannya beralih menatap sepasang suami istri yang sudah rentan di makan usia.
Ada rasa sesak saat netra nya melihat pemandangan itu.
Di bangku berukuran panjang ada sepasang kakek nenek yang duduk berdua, dan terlihat seorang nenek itu menaruh kepalanya di pundak sang kakek. Betapa bahagia bukan jika kita bisa menjalani hidup sampai usia kita tua dengan pasangan masing-masing.
__ADS_1
Lalu tanpa sadar Adi meneteskan air mata karena teringat sosok istrinya yang lebih memilih meninggalkannya dan pergi bersama tuhan.
Boleh kah aku merasakan seperti pasangan itu, apa tuhan berkenan memberiku sedikit kebahagian dengan membina rumah tangga seperti mereka. Tuhan aku berharap pernikahanku terjadi sekali seumur hidup dan menua bersama dengan istri serta anak-anak ku kelak. Batin Adi menangis karena kepingan masa lalu yang semula tengelam kini datang bak bayang-bayang yang sedang menghantuinya.
"Maaf ya Om." Suara bocah lelaki berkisar umur 5 tahunan yang tak sengaja melempar bola kearahnya.
"Iya sayang gak papa." Jawab Adi itu, pada bocah yang berada di hadapannya, betapa lucu lucunya pikir Adi.
Dan tak berapa lama bocah kecil itu pergi dan bermain lagi bersama teman-temannya, dan Adi pun baru sadar jika istri kecilnya itu sudah tidak ada di sebelahnya.
Jika Adi sibuk mencari istri kecilnya itu. Sedangkan Dia menikmati ice krim di kedai ice krim yang tak jauh dari tempat dirinya awal duduk tadi.
"Eum, seger nya." Gumam nya yang tengah menikmati semangkuk ice krim, dan meninggalkan suami dewasanya tersebut, karena sewaktu dirinya merengek minta di belikan sesuatu, bukannya mengiyakan atau pun menolak, yang ada dirinya di abaikan dan sang suami pun berkelana dengan pikirannya, dan tentunya Dia tak tahu apa yang sedang terjadi dengan suaminya hingga mengabaikannya.
Dan tak lama kemudian Adi menghampiri Dia di kedai ice krim.
"Sudah belum marahnya," tanpa menatap dengan lawan bicaranya, dan Dia pun masih menikmati sendok demi sendok yang di masukkan ke dalam mulutnya.
"Kamu bisa dong pamit sama saya, gak harus pergi dengan tiba-tiba." Ujar Adi sembari meletakkan bokongnya di kursi.
"Haloooo. Om duda tau kenapa saya pergi dengan tiba-tiba," ucap Dia yang masih di kuasai rasa kesal.
"Kamu enggak pamit, mana saya tahu," dengan mengangkat ke dua bahunya, karena Adi merasa tidak tahu.
"Gini ya Om duda yang nyebelin minta ampun. Dari tadi tuh aku udah minta Om buat nemenin ke kedai ini, boro-boro di jawab, yang ada Om itu tak meladeni rengekan ku." Akhirnya Dia pun mengeluarkan isi hatinya.
__ADS_1
Adi terdiam dan tak mampu berkata-kata, saat ini dirinya begitu merasa bersalah dengan istri kecilnya itu yang sudah mengabaikannya. Karena berperang dengan hati serta pikirannya, membuat nya abai pada perempuan yang saat ini telah menjadi tanggung jawabnya.
"Maaf." Adi menunduk dan merasa sangat bersalah, karena ia yang mengajaknya keluar, ia pula yang mengabaikan.
"Selesai ini kita ke mall yuk," Ajak Adi dan berharap Dia mau, karena biasanya Dia menolak jika di aja ke mall, alasannya hanya satu, terlalu menghambur-hambur kan lebih baik uang tersebut di berikan pada seseorang yang membutuhkan daripada di buat beli sesuatu yang tidak penting. Alasan yang masuk akal menurut Adi, tapi di sisi lain iya tak mau di anggap tak peduli dan pelit terhadap istrinya.
"Baik lah, karena kebutuhan di dapur juga habis, jadi aku mau." Ujar Dia.
PUKUL DUA SIANG.
"De kamu duluan saja kalau mau beli buat isi kulkas, saya mau ke toilet sebentar ya," ucap Adi dengan tergesa-gesa, nyatanya itu bohong.
Dia mengangguk, dan setelah itu dirinya naik ke lantai dua, menuju supermarket, ini kali pertama baginya. Karena yang biasnya belanja di warung, dan keperluan untuk dirinya hanya mampu membeli di minimarket terdekat, kini malah dirinya belanja di mall.
Sedangkan Adi menuju ke tempat toko langganannya yang menjual jam tangan berbagai merek, tentunya bukan merek murahan ya.
Adi teringat istrinya yang menyimpan jam tangan nya dengan merek mas alex itu, dan diam-diam Dia ingin mempunyai jam seperti punya nya, jadilah hari ini ia mengajak nya keluar sebagai alasan, jika Adi ingin memberikan hadiah pada Anin.
Sesampainya di toko, Adi di sambut dengan ramah oleh karyawan tersebut.
"Pak Adi ingin yang model apa?" tanya salah satu karyawan tersebut.
"Pilihkan untuk wanita, jangan yang terlalu kalem juga ya warnanya, soalnya ia tak suka dengan warna yang terlalu ke cewek-cewe'an." Adi menyerahkan semuanya pada karyawan karena ia tahu kalau dirinya tak punya bakat untuk memilih warna yang cocok dengan Dia.
"Yang ini bagaimana Pak, netral tidak terlalu mencolok," karyawan itu memberi pendapat dengan apa yang di pilih barusan.
__ADS_1
"Baik lah, sepertinya dia akan suka dengan warna ini." Jawab Adi.
"Baik lah Pak, silahkan ke kasir untuk membayar tagihannya." Ujar karyawan tersebut pada Adi.