
Adi merasa aneh terhadap Haikal, karena Haikal celingukan di setiap sudut ruangan. Sepertinya ada yang ia cari.
"Kal, kamu cari apa?" tanya Adi penuh selidik.
"Istri kamu kemana, Di?" tanya Haikal tiba-tiba dan itu membuat Adi kebakaran jenggot.
"Kau...."
"Ets, aku hanya bertanya." Sela Haikal memotong ucapan Adi.
"Sialan kamu," seru Adi.
Ck ... Ck.
Haikal berdecik karena menurutnya temannya itu sudah terlalu parah menjadi budak cinta untuk istrinya.
"Jangan kamu buat mukamu semakin jelek, Kal."
"Mati saja kau. Sungguh menyebalkan," sungut Haikal karena merasa temannya itu sangat keterlaluan.
"Ya sudah, cepat lah keluar dari rumah ku." Adi menyuruh Haikal untuk segera angkat kaki dari kediamannya.
"Apa kamu tidak berniat menyuguhi aku secangkir kopi, kalau ada sekalian dengan cemilannya juga.
"Kau ini ya, sudah minta kopi masih minta cemilan. Memangnya ini warung apa!" sungut Adi berapi-rapi karena sudah di beri harti tetapi Haikal minta jantung.
Tidak lama kemudian, Dia keluar dengan membawa nampan yang berisikan dua cangkir kopi serta sepiring pisang goreng.
"By, dan kamu kodok. Apa di pantat kalian ada durinya sehingga tidak bisa duduk," tukas Dia mengutarakan kekesalannya.
Mereka berdua saling pandang saat Dia berucap dengan nada datar.
"Oh, lihat lah kalian seperti mak-mak yang bertemu di jalan terus bertegur sapa, lalu ujung-ujungnya akan menghibahkan tetangganya."
"Mana bisa begitu." Sela mereka berdua yang tak terima kalau di anggap seperti mak-mak, hanya karena berdiri.
"Ya sudah kalau begitu, silahkan duduk nikmati pagi kalian dengan secangkir kopi hitam dan sepiring pisang goreng, ingat! jangan berkhayal kalau memakan cemilan itu sama kopinya."
"Dasar mulut cabe, suka bener deh kalau ngomong." Ucap Haikal.
"Kau memanggil istriku apa, coba ulang sekali lagi!" seru Adi.
"Ah, kamu salah dengar. Aku tadi berkata mulutku tiba-tiba ingin di cabain," bohong Haikal.
"Mau cabe,"
"Tidak, kalau ada lumpia aku mau." Jawab Haikal dengan cepat.
__ADS_1
"Sudah lah, aku mau ke belakang dulu. Bersama kalian membuatku bisa-bisa menjadi lebih gila." Ujar Dia lalu ia berjalan meninggalkan dua manusia dengan karakter yang sama. Sama-sama gila.
"Lho, De kenapa itu muka," tanya seseorang yang baru saja keluar dari kamar.
"Jengkel gue lama-lama sama dua manusia itu," ucap.
Setelah berkata ia berlalu pergi meninggalkan Edo, yang mematung. Menatap kepergian sang adik.
...----------------...
Setelah pagi di penuhi drama, akhirnya Haikal pun pergi sendiri untuk memantau proyek tanpa Adi.
Sedangkan Adi dan Dia sudah berada d rumah sakit, untuk memeriksakan kandungannya.
"Atas nama Ibu Dia, silahkan masu." Setelah hampir setengah jam lebih mengantri akhirnya Dia di panggil juga.
"Sus saya boleh menemani istri saya," ucap Adi pada suster tersebut.
"Boleh Pak, mari masuk." Ujar suster.
Setelah berada di ruang periksa, Dia di suruh untuk berbaring.
"Dok, Dokter mau apa." Ucap Adi, dan itu membuat Dokter langsung menatap aneh.
"Iya mau di periksa Pak, memangnya tujuan Bapak ke sini itu apa." Jawab Dokter itu dengan tegas.
"Ya buat periksa Dok, masa iya mau main tarik tambang." Ujar Adi datar.
"Dok, kenapa Dokter memegang perut istri saya. Kan itu di larang," ucap Adi.
"Tuan yang terhormat, kalau saya tidak memegang perut istri anda. Bagaimana caranya untuk saya memeriksa." Dokter itu pun menahan marah namun sebisa mungkin ia harus bisa mengendalikan emosinya. Dalam batinnya baru kali ini ia mendapatkan pasien seperti sekarang.
"Ya sudah, tapi yang menyingkap baju istrinya kan bisa suster, tidak harus Dokter kan." Ucap Adi, dan itu membuat Dia kesal.
"Sudah lah By, jangan membuang-buang waktu Dokter untuk bekerja. Pasien di luar masih banyak dan jangan menghambat pekerjaan mereka," sungut Dia pada suaminya.
"Baik lah."
Akhirnya drama pertama di ruang periksa lolos, dan Dia pun di periksa oleh Dokter tersebut.
Setelah pemeriksaan itu , mereka berdua duduk untuk mendengar penjelasan dari Dokter tersebut.
"Usia kandungan Ibu Dia baru berusia delapan minggu empat hari, jadi masih rawan. Dan usahakan tidak melakukan hubungan suami istri sampau usia kandungan menginjak tiga bulan lebih." Adi menatap wajah Dokter itu dengan tatapan tidak bisa di artikan.
Bagaimana bisa selama dua bulan ke depan tanpa melakukan olah raga ranjang. Apa ia kuat, ah tentu tidak.
"Dok, jadi saya tidak boleh main kuda-kuda'an selama itu?" tanya Adi dengan wajah serius.
__ADS_1
"Eum maaf Dok, suami saya memang suka bercanda jadi jangan tegang." Ujar Dia pada Dokter tersebut.
Kenapa saya harus punya pasien seperti ini tuhan. Pasangan aneh bin lucu, dan sangat menyebalkan, gerutu Dokter tersebut.
"Jadi bagaimana Dokter,"
"Apanya!" sahut Dokter itu.
"Kudanya." Ucap Adi.
"Apa Bapak tidak bisa menahannya," seru Dokter.
"Apa Dokter bisa menahannya." Serang balik Adi pada seorang yang berprofesi sebagai dokter kandungan itu.
Sang Dokter pun tercekat oleh serang balik dari Adi.
Saya kan lelaki normal, mana bisa begitu, gumam Dokter itu.
Bapak boleh kuda-kuda'an asal jang keseringan ya Pak. Takutnya akan menyakiti kandungan istri serta anak yang ada di kandungan Bu Dia." Dokter pun menjelaskan, sedangkan Adi hanya mangut-mangut.ngga
"By, bisa gak itu mulut di rem." Ucap Dia kesal karena Adi tidak henti-hentinya menggerutu soal berman kuda.
Adi yang mendapat teguran hanya bisa meringis tanpa punya rasa malu. Sedangkan Dia tak habis pikir dengan suaminya, kenapa otak mesumnya tidak bisa di tinggal.
"Ya sudah Dokter. Kami pamit dulu," ucap Dia dengan sopan.
"Iya Bu, jangan lupa vitaminnya jangan lupa di minum." Timpal Dokter tersebut.
Lalu netra Dokter itu beralih ke Adi.
"Pak jangan lupa, main kudanya pelan-pelan." Dokter mengingatkan Adi dengan di iringi gelak tawa.
"Dasar Dokter semprul." Maki Adi.
Akhirnya mereka keluar dari ruang periksa.
Setelah mereka sampai di parkiran, Dia mengajak mencari rujak uleg.
"By, aku mau rujak." Ucap Dia.
"Ya sudah kita cari. Kebetulan suami kamu ini sedari tadi juga membayangkan makan rujak," jawab Adi.
"Beneran."
"Iya, ya udah yu jalan."
Dia pun mengangguk dan segera masuk ke dalam mobil, untuk mencari penjual rujak.
__ADS_1
Tak berapa lama kemudian, Adi menepikan mobilnya karena melihat warung rujak yang cukup lumayan rame.
"Sayang yuk turun udah kita sudah menemukan rujak nya." Adi menggoyangkan bahu istrinya yang sempat terlelap