
Pinggang yang berasa remuk akibat terpeleset di kamar mandi, membuatnya merasakan sakit yang luar biasa.
Haikal buru-buru mengenakan baju dan tidak ingin semakin siang akibat keterlambatannya.
Sepuluh menit kemudian Haikal telah rapi dengan pakaiannya.
Ini bukanlah dunia halu, dan ini nyata bukan dunia layaknya yang berada di novel-novel. Di mana asisten juga mengenakan baju berdasi, di sini Haikal sama dengan Adi. Sama-sama mengenakan pakaian layaknya orang berjalan-jalan. Celana jins, baju lengan pendek di kombinasikan dengan jaket, tidak lupa dengan sepatu terlihat biasa namun harganya merogoh kocek.
Satu kata saat berada di depan cermin 'sempurna' setelah di rasa cukup. Haikal keluar rumah dengan kaki pincang sebelah.
Jalanan yang cukup padat oleh pengendara motor maupun mobil. Membuat Haikal harus ikut merasakan macet, karena jam pagi di penuhi oleh para pencari nafkah.
Duh sial kena macet pula, batin Haikal.
Haikal tak henti-henti mengomel di dalam mobil, karena jam pun terus bertambah siang.
Huf.
Akhirnya Haikal menghela nafas lega, karena sudah tak terjebak macet. Sekarang Haikal sudah berada di depan rumah milik gadis yang di beri julukan gadis cerewet.
Brak.
Haikal menutup pintu mobil dan segera mengetuk pintu yang masih tertutup itu.
Tok.
Tok.
Tok.
"Iya tunggu sebentar." Suara seseorang dari dalam rumah membuat Haikal tidak lagi mengetuk pintu, dan duduk di kursi sebelah pintu.
Ceklek.
"Iya Mas mau cari siapa ya?" tanya lelaki tersebut dan di perkiraan berusia 15 tahunan.
"Bisa ketemu sama Indah," ucap Haikal pada sosok lelaki remaja tersebut.
"Apa Mas, pacarnya Kakak saya?" tanya lelaki remaja itu lagi.
"Eum, iya." Jawab Haikal karena tidak mau terus-terusan di ajak mengobrol oleh lelaki remaja yang ada di hadapannya, jadilah Haikal memilih berkata bohong.
"Mbak Indah lagi mandi, Mas tungguin di dalam saja." Kata Lelaki remaja itu yang belum di ketahui namanya.
Haikal pun mengangguk, dan mengikuti langkah pemilik rumah untuk ikut masuk.
Sekitar 15 menit, Indah sudah keluar dari arah belakang.
__ADS_1
"Elu," tegur Indah.
"Ya saya kemari mau ngantar ini, tadi malam ketinggalan di mobil. Mau saya antar sudah malam, akhirnya baru saya antar sekarang." Haikal memberikan tas kepada Indah, dan Indah pun menerima dengan senyuman yang sumringah.
"Iya tadi malam gue juga baru inget kalau tas gue gak ada di tangan gue, makasih ya." Indah pun mengucapkan terimakasih pada Haikal.
"Tumben bilang makasih!" seru Haikal.
"Bilang salah, gak bilang juga salah! niat bener elu pagi-pagi udah ngajak berantem gue," tukas Indah dengan wajah kesalnya.
Kruk.
Kruk.
Seketika Indah menoleh saat baru saja hendak memalingkan wajahnya.
"Itu suara perut kamu?" tanya Indah dengan tampang bodoh nya.
"Bukan! itu tadi sura rante putus. Masa iya sudah tau suara perut masih nanya!" seru Haikal dengan wajah sedang menahan kekesalan.
Kasian juga ini orang, dia kan jomblo sejati. Jadi bisa di pastikan kalau belum makan, batin Indah dalam hati. Lagian itu juga sebagai ungkapan terimakasih karena Haikal mau mengantarkan tas yang berisikan barang berharga.
"Kebetulan gue tadi masak nasi goreng, kamu ikut sarapan juga." Pinta Indah pada Haikal untuk ikut menikmati sarapan bersama keluarga kecil Indah.
"Dalam rangka apa nih, kok kamu tumben baik sama saya."
"Terus menurut elu, apa elu minta gue racun!" dengan suara sedikit meninggi Indah berkata pada Haikal.
"Jangan banyak omong, buruan sekarang elu sarapan dan jangan protes, ngerti." Seketika Haikal diam dan mengikuti Indah, karena memang dirinya sangat lapar juga.
Di meja makan sudah tersedia menu sederhana, namun Haikal tidak perduli menu apa yang di masak oleh Indah.
"Mas, maaf ya menunya seadanya." Terdengar adik dari Indah meminta maaf karena yang di pajang di atas meja yaitu menu terlur ceplok dan nasi goreng jawa.
"Tidak apa-apa kok, ini sudah lebih dari cukup." Haikal berkata sembari tersenyum.
"Oh iya, nama kamu siapa?" tanya Haikal.
"Aku bagas, Mas. Kalau...."
"Panggil Mas Haikal," ucap Haikal.
"Baik Mas."
Setelah itu tidak ada percakapan, karena mereka bertiga menikmati sarapan pagi.
Mereka bertiga sudah selesai sarapan dan akan berangkat beraktivitas masing-masing, dan Bagas pun berpamitan untuk berangkat sekolah.
__ADS_1
"Kak, Bagas berangkat dulu ya." Setelah itu Bagas mencium tangan Indah serta Haikal dengan takzim.
Setelah kepergian Bagas, kini tinggal mereka berdua di teras. Lantas Indah juga baru menyadari kalau Haikal berjalan dengan kaki pincang.
"Elu kenapa, jalannya kek orang habis ke injak?" tanya Indah pada Haikal.
Sebelum menjawab Haikal menghela nafas, setelah di rasa sudah cukup baru ia menjawab.
"Tadi bangun tidur buru-buru karena takut telat, eh pas masuk kamar mandi salto." Seketika suara tawa Indah menggema memenuhi teras rumah.
"Kamu ya! kalau ujung-ujungnya menertawakan saya ngapain harus tanya," ucap Haikal dengan wajah kesal.
Seketika Indah terdiam karena tak enak hati, gara-gara menertawakan Haikal.
"Coba sini gue lihat," ucap Indah karena sungguh ia tidak tega melihat Haikal berjalan dengan kaki yang pincang.
"Mau apa," balas Haikal.
"Jangan bacot dah ah, siniin kaki elu."
Indah yang lebih dulu duduk di ubin, dan meminta Haikal untuk mengikutinya.
Aaaaaaa..
Sakittt.
Tolong!! Mak Bapak.
Haikal terus berteriak meronta karena kesakitan.
Krepek.
Huaaaa.
Dan yang terakhir terdengar suara tulang kaki Haikal yang di urut oleh Indah.
"Elu itu laki apa banci sih, gini doang teriak kek orang di buntingin." Haikal sangat geram, karena suaranya membuat kupingnya terasa sakit.
"Memang sakit bodoh, kamu kira gak sakit apa! eh ... Ini kok sudah enggak sakit lagi ya," ujar Haikal yang memegang kakinya dan memencet-mencetnya. Dengan senyuman yang tersungging di sudut bibirnya membuat Indah ingin sekali menendangnya.
"Apa!" Indah langsung memelototi Haikal karena geram, tadi saja ia berteriak sekarang pun tersenyum tidak jelas.
"Makasih ya cantik nya Haikal ... Kabur," ucap Haikal setelah menoel dagu Indah dan berlari ke arah mobilnya.
"Ooi. Jangan kabur elu, dasar pria sinting." Indah tak henti-hentinya mengumpat karena telah di buat kesal oleh Haikal.
Dengan mengusap kasar dagunya yang telah di sentuh, ia berlalu pergi ke kamar untuk mengambil tas, karena akan segera berangkat bekerja.
__ADS_1
Dengan hati yang dongkol, karena telah menolong Haikal. Bukannya ia berterimakasih malah kabur meninggalkan Indah di teras.
"Lihat saja nanti pasti gue bikin perhitungan sama itu orang," gerutu Indah.