
"Mengapa kau malah mengajari yang tidak-tidak Edo." Geram Mak Ita.
"Edo gak ngajari Mak, tapi kalau De, bisa ngapain gak,"
"Iya kan De." ucap Edo pada De.
"Nah iya Mak, ntar kita bakal jadi orang kaya lho, kalau sampai bos nya De, mati. Otomatis De, kan dapat warisan."
"Wah, kamu hebat ya De, Mak salut sama kebodohan kamu yang amat-amat tidak berkemanusiaan." Mak Ita dengan menggelengkan kepalanya merasa ingin sekali berteriak melihat tingkah kedua anaknya yang mata duitan.
"Kenapa harus nunggu mati, bukan kah lebih cepat lebih baik kalau di racun," usul Mak Ita.
"Nah ide bagus tuh Mak," timpal Edo.
"Terus racun apa kira-kira," ujar Dia.
"Soklin lantai."
Sedangkan di rumah Mak ita, heboh dengan obrolan yang di rasa sedikit tidak waras. Berbeda di kediaman Adi, yang kini dirinya terus saja bersin dan telinganya cukup panas.
"Apa ada yang ngomongin saya? Kenapa bersin tidak juga berhenti, dan kupingku mengapa panas sekali." Gumam Adi. Yang saat ini tengah di halaman belakang sedang menyirami bunga, dengan sesekali bersenandung.
"Lihat kebun ku penuh dengan bunga. Uhuk.. Uhuk. Ini siapa sih yang ngomongin saya, kan jadi lupa liriknya gimana." Gerutu Adi, karena sedari tadi dirinya merasakan yang tiba-tiba tersedak slavia nya sendiri, belum kuping yang serasa di cabein dan terus menerus bersin.
"Sayonara, sayonara sampai berjumpa lagi, lho kok jadi gini lagunya. Ah sudah lah." Adi berbicara sendiri dan meletakkan selang dengan asal karena lupa liriknya.
Ahh..
Adi menyeruput kopi dengan sangat nikmat, dan mengambil satu kue yang bernama (rondo royal) Bisa di sebut tape goreng.
"Adiii!"
Ceguk.
Ceguk.
Anggap seperti itu ya suara orang yang lagi tersedak terus cegukan.
"Kamu kenapa?" tanya Ibunya, saat melihat Adi.
"Air, mana air cepat Adi butuh air." Dengan kilat Bu Nana mengambil segelas air lalu di berikan pada Adi, karena Adi terus saja memegangi dada serta lehernya.
Gluk.
Gluk.
Gluk.
Aaaah.
__ADS_1
Satu gelas air tandas oleh nya, saat Ibunya memberikannya.
"Kamu kenapa?" untuk yang kedua kalinya Ibunya bertanya, karena saat beliau memanggil terlihat Adi seperti seorang yang sekarat.
"Bu, itu nanti saja tanyanya, Adi baru sadar ini air kok rasanya aneh ya, ada pedes-pedesnya gitu."
Bu Rosma bukan menjawab malah tersenyum tipis.
Hehehe. "Maaf, itu tadi air di mangkok."
"Ibuu! Itu air bekas cuci tangan pantas saja rasanya ada pedes-pedesnya."
Dengan muka yang tak bisa di artikan, Adi bersuara nyaring. Karena Ibunya memberikan air kotor.
" Ibu gak tega lihat kamu hampir mirip orang yang sedang sekarat, makanya sekenanya." Ujar Bu Rosma tanpa dosa.
"Aku tersedak itu pun karena ulah Ibu, Ibu juga yang memberikan air kotor."
"Yang pentingkan sekarang gak."
"Apa salah dan dosaku hingga kau memberiku air comberan."
"Udah ah, jangan nyanyi dan jangan sok melas, karena Ibu sama sekali tidak kasian sama kamu."
Ck..ck.. Adi yang benar-benar merasa kesal, karena saat dirinya akan menelan tape goreng terdengar suara Ibunya yang berteriak hingga membuat nya tersedak, dan tape goreng pun belum masuk ke dalam ususnya, dan di cerna.
Adi yang memijat kepalanya karena tiba-tiba merasa berdenyut, akhirnya memutuskan untuk meletakkan bokongnya di kursi. Dan untuk menghilangkan rasa pedas yang berada di mulutnya, Adi juga meminum habis kopinya tanpa sisa.
"Sebetulnya kamu itu normal apa enggak sih."
Adi seketika mendelik kan matanya lebar-lebar, dalam hatinya ia berbicara bagaimana bisa Ibunya mengatakan kalau dirinya tak normal.
"Kalau Adi, gak normal mana mungkin Adi pernah nikah."
"Lagian pertanyaan bodoh dari mana ini, Ck..ck..."
Udah kepala atas bawah pusing, masih saja ada pertanyaan yang tak masuk akal. Keluhnya dalam hati.
"Cuma mau mastiin, terus kapan kamu bawa Dia, ke rumah lagi."
"Huh, Dia, yah." dengan tampang bodohnya Adi menyebut nama Dia.
"Iya Dia, hanya dia...dia..dia..dia.."
"STOP!" Ucap Adi lantang.
Kepala yang semakin berdenyut, sehingga Adi memijat pelipisnya karena merasa kesal dan pusing, karena pagi-pagi sudah di suguhkan dengan bermacam omongan serta permintaan yang aneh.
"Kamu mau kemana," tegur Bu Rosma, saat Adi berdiri dan hendak berjalan, namun sedetik dirinya berhenti untuk menimpali Ibunya.
__ADS_1
"Mau jemput calon mantu, takut nya nanti merajuk." Jawab Adi dengan cepat.
Iya, merajuk kalau gak segera di jemput, bisa habis di lahap sama macan tutul, nanti.
"Ya sudah, salam buat calon mantu." Dengan wajah yang sumringah lantas Bu Nana menitip salam.
Huf.
"Calon mantu katanya, orang belum dapat restu dari Emak nya macan." Gumam Adi, dengan memonyongkan bibirnya dan terus berjalan ke arah kamar.
Saat Ini pukul delapan pagi. Dengan segera Adi menyalakan motornya, bukan mobil.
Honda CBR, 250 Telah di keluarkan Adi dari kandangnya.
"Hye sayang, lama kita gak jalan nih, kangen tau gak sama kamu." Adi yang berbicara sendiri mengelus serta menciumi motornya yang di beri nama Ucup. Seperti orang yang sedang jatuh cinta bukan, dan mirip sepasang kekasih yang tak lama jumpa.
Adi yang sudah siap, memasangkan helm di kepalanya, tak lupa jaket kulit di pakainya. Dengan gagah dirinya menaiki si Ucup.
Lalu membayangkan jika dirinya di arena sirkuit.
"Ah sudah lah, banyak berkhayal tak bagus buat otak." gumam nya.
Tak lama kemudian.
Tin.
Tin.
"De, siapa itu yang ada di depan rumah, siapa tau ada orang yang mau nanya rumah." Mak Ita menyuruh Dia, untuk keluar melihat siapa yang sedang menyalakan klakson.
Wah, siapa kah gerangan, gagah banget itu orang, pasti tampan deh. Puji Dia, dalam hati nya.
"Iya Bang, mau cari siapa ya?" tanya Dia, pada seseorang tadi.
Baunya kek kenal, Ah masa sih. Pak Adi kan gak punya motor kemana-mana pakai mobil. Pikirnya dalam hati, karena bau parfumnya mirip seperti yang di gunakan oleh Adi.
"Saya mau jemput kamu,"
"Tapi saya gak kenal kamu."
"Cepat lah naik."
"Saya bilang saya gak kenal anda, maaf saya menunggu calon suami saya."
Terpaksa berbohong, dah gue. Batin Dia.
Apa itu berarti bocah tengil ini mengakui kalau saya calon suami nya, dengan PD nya. Adi berkata dalam hatinya. Dan bersorak bahagia karena diam-diam Dia juga suka padanya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aduh Adi-adi, tingkat kepedean mu terlalu berlebihan parah banget elu ya.