
Sesaat mereka sama-sama sadar dengan apa yang sedang terjadi.
Cup.
Dengan sengaja Dia mengecup bibir Adi, hingga membuat Adi terperangah dengan ulah istri kecilnya itu.
Sedangkan Dia langsung meloncat dari ranjangnya setelah mengecup bibir Adi.
Apa dia pikir aku bukan pria normal, mengapa bisa bocah itu melakukan hal seperti itu. Ujar Adi dalam hatinya.
Tanpa memperdulikan Adi, Dia langsung masuk ke dalam kamar untuk bersih-bersih.
Sedangkan Adi masih terdiam terpaku sambil memegang bibirnya yang baru saja diambil oleh Dia.
"Apa ini mimpi, sepertinya tidak?" ucap Adi berbicara sendiri.
"Ahhh... Bisa-bisa jadi gila beneran ini," gumam Adi.
Dengan wajah yang sulit di artikan Adi turun dari kasur empuk nya itu.
Sepertinya aku bakal benar-benar gila beneran, karena ulah istri kecil ku itu. Gumam Adi dalam hatinya.
Tidak lama kemudian Dia sudah keluar dari dalam kamar mandi, dengan balutan handuk. Namun sebelumnya itu ia menengok ke arah kiri dan kanan untuk memastikan saja. Memastikan kalau suaminya tidak ada. Itu dikarenakan dirinya lupa tidak membawa baju ganti.
Di saat bersamaan Dia keluar dari dari kamar, sedangkan Adi masuk ke dalam kamar secara tiba-tiba.
DAN..
Huaaaaaa....
Dia berteriak sekencang-kencangnya kala melihat suaminya masuk, tapi bukan itu yang membuatnya histeris. Melainkan sesuatu yang terlihat menyeramkan.
Tidak terpikirkan jika Dia akan keluar dari kamar mandi, sedang Adi baru akan menutup pintu namun tuhan sepertinya sedang memberikan lelucon, karena handuk yang terlilit di perutnya terjatuh akibat handel pintu. Sehingga burung yang sedang hinggap di pohon tanpa malu menunjukkan bentuknya. Itu mengapa Dia berteriak sedangkan Adi tidak sadar akan hal itu sambil menutup telinga akibat teriakan istrinya itu.
"Om, bisakah kamu keluar." Dia menyuruh suaminya untuk keluar, dan itu membuat Adi mengernyitkan keningnya..
Bukankah dirinya berniat untuk mengambil pakaian lalu segera memakainya, tetapi mengapa istrinya malah menyuruhnya keluar? Adi juga merasa heran mengapa Dia menutup matanya dengan rapat, seharusnya dirinya mengenakan baju. Bukan malah berdiri di pojok kamar.
"Buka matamu, saya bukan demit. Mengapa kamu berteriak mirip orang takut?" tanya Adi penuh selidik.
"Om, bagaimana aku tidak takut. Lihat lah kebawa maka Om, akan tahu." Ujar Dia.
Lalu dengan perlahan Adi melihat ke arah sesuai ke bawah sesuai instruksi Dia.
Srrret..
__ADS_1
Dengan secepat kilat Adi mengambil handuk yang tergeletak di bawah, lalu dengan sesegera mungkin dirinya menutup burung yang keluar dari sangkarnya itu. Namun ide jail tersirat di dalam kepalanya untuk mengerjai istrinya itu.
"De, sekarang bukalah mata kamu." Ujar Adi.
"Om sudah menutupnya kan?" tanya Dia lagi untuk memastikan.
Adi berjalan menghampiri Dia yang berdiri di samping tempat tidur, tentunya dengan senyuman jahatnya itu. Adi terus berjalan hingga sampai tepat di hadapan Istrinya.
"Om sedang tidak bercanda kan," ucap Dia sedikit ragu.
"Apa kamu kira saya berbohong." Adi mencoba menyakinkan Dia, untuk segera membuka mata nya tersebut.
Satu, dua, ti-ga.
Aaaaaaa..
SLEP.
Adi sudah membungkam bibir Dia dengan bibirnya. Lalu Adi me****** habis bibir tipis milik Dia.
Sedangkan Dia ingin berontak pun sudah tidak sanggup lagi, biar bagaimana pun untuk tenaga jelas lebih unggul Adi.
Hu ... Hu ... Hu.
Dia begitu ngos-ngosan saat Adi tidak memberikan cela untuk bernafas. Sehingga dengan terpaksa Dia mendorong tubuh Adi hingga terpental di sofa.
"Memang udah niat." Jawab Adi santai.
"Eits, dasar suami somplak." Gerutu Dia dengan bibir yang di majukan.
"Apa kau mau lagi?" tanya Adi.
Dia pun mendelikkan matanya lebar-lebar
Namun sayang, saat Dia akan berjalan tiba-tiba tersandung karpet bulu yang ada di lantai. Sehingga membuatnya terjungkal.
Tenyata Adi dengan sigap menangkap tubuh Dia, agar tidak terjatuh di lantai.
Sekarang mata mereka saling berada pandang, dan saling bertemu. keduanya juga tidak ada yang berkedip untuk sesaat karena masing-masing menatap keindahan ciptaan tuhan.
Meskipun kamu sudah berumur tetapi wajah dan tubuh kamu begitu gagah, dan mempesona . Batin Dia yang tengah memuji suaminya dengan diam.
Kenapa semakin hari semakin menggemaskan kamu, bocah tengil. Gerutu Adi dalam hatinya.
Goyang dombret ... Goyang dombret..
__ADS_1
Suara dering gawai membuat mereka berdua langsung tersadar dari dunia khayal. Tentunya keduanya menjadi salah tingkah akan adegan baru saja.
"Mengganggu saja." Gerutu Adi.
"Apa Om, bilang sesuatu." Ucap Dia.
"Tidak," sungut Adi.
"Oh." Timpal Dia.
Goyang dombret ... Goyang ... Dombret.
Lagi-lagi suara dering gawai milik Adi bunyi.
Lalu dengan langkah sedikit berlari Adi meraih gawai yang ada di atas nakas, dan pergi ke arah balkon untuk menerima panggilan tersebut.
Sedangkan Dia diam mematung memikirkan tentang lagu tersebut.
Bagaimana bisa seorang Adi, yang memiliki tubuh kekar badan yang di penuhi bermacam stiker, wajah sangar tapi. Bisa-bisanya suaminya itu memilih nada dering dangdut. Apalagi judul lagunya (goyang dombret) sungguh dirinya tidak habis pikir dengan itu.
Sebetulnya suamiku itu normal apa kagak sih? tapi kalau tidak normal mana bisa buka segel punyaku yang nyata-nyata masih ting-ting.
Tanpa memperdulikan dirinya kalau belum berganti baju tapi Dia, lebih memilih memikirkan tentang kepribadian suaminya tersebut. Seakan semuanya menari-nari di atas kepala Dia dan menjadikan sebuah misteri. Apakah Adi itu seorang yang belok dengan mengubah statusnya agar tidak ketahuan. Ah entahlah.
Adi sudah selesai menerima panggilan tapi dirinya juga merasa heran. Apa istrinya itu tidak takut masuk angin sudah sekitar satu jam Dia, berbalut handuk.
Apa bocah itu berniat menggodaku? aku pria normal dan bukan pria belok. Jika terus-terusan seperti itu apa aku tahan. ku rasa tidak! nyatanya sedari tadi hampir runtuh keimanan ku. Batin Adi frustasi.
"Hye bocah! apa kamu sengaja dan berniat menggodaku." Ucap Adi dengan suara keras.
Dia, spontan terlonjak karena meras kaget mendengar Adi berkata.
"Siapa yang menggoda mu?" tanya Dia asal.
"Kalau tidak menggodaku. Mengapa kamu seperti itu," ujar Adi dengan menunjuk ke arah tubuh Dia.
"Seperti apa memangnya?" tanya Dia lagi, yang tidak mengerti dengan ucapan Adi.
"Seperti wanita malam." Jawab Adi dengan santai.
"Apa Om, bilang!" teriak Dia karena tidak terima di kata wanita malam.
"Apa kamu pura-pura lupa atau bagaimana? Lihat lah di cermin, kamu sekarang seperti apa."
"Lupa, Om. Lagian mana Om nafsu," sungut Dia dengan tatapan menghina.
__ADS_1
"Baik lah kalau itu mau kamu. Maka saya akan membuktikannya," seru Adi dengan tatapan sinis nya.
"Boleh."